Kurang Optimal, Penggunaan Jaringan ICT di Jakarta

Indonesia termasuk salah satu negara yang sudah menggelar dengan koneksi broadband untuk selular pertama lho di kawasan Asia Tenggara. Thailand saja baru menggelar layanan 3G-nya tahun ini, sementara Filipina, pemerintahnya masih belum memberi izin utnuk layanan seluler kecepatan tinggi itu masuk di negaranya, seperti diterangkan Hardyana Syintawati, VP marketing and Communications Ericsson Indonesia.

Tapi, untuk urusan pemanfaatan teknologi ini demi peningkatan kesejahteraan bangsa, Indonesia sepertinya masih perlu banyak berbenah. Sebab, dari penelitian yang dlakukan Ericsson yang bekerjasama dengan Arthur D. Little, sebuah perusahaan konsultasi manajemen, menunjukkan tingkat pemanfaatan ICT di Jakarta masih tergolong rendah hingga sedang. Wah, maksudnya apa ya?

Tingkat pemanfaat ICT ini maksudnya adalah bagaimana masyarakat suatu kota memanfaatkan teknologi ICT yang sudah tersedia di kotanya untuk kesejahteraan amsyarakat di kota itu. Bisakah layanan broadband yang ada meningkatkan pendapatan, pendidikan, kesehatan, hubungan sosial, dan mewujudkan kota yang lebih ramah lingkungan. Kalau masyarakat kota itu masih menggunakan ICT untuk kegiatan konsumtif saja, seperti mengakses jejaring sosial, mengunduh dan mengunggah lagu, foto, dan film, atau hal lain yang tidak produktif, maka bisa dibilang pemanfaatan ICT-nya masih rendah. Nah, Ericsson baru saja merilis hasil penelitian mengenai kota-kota dan tingkat pemanfaaatan ICT mereka. Terdapat 25 kota dunia yang diteliti, Jakarta adalah salah satunya,

Dari 25 kota yang diteliti, Jakarta menempati urutan 19. Urutan pertama diduduki oleh Singapura, Stockholm di Swedia, diposisi dua, dan Seoul di Korea Selatan, di posisi tiga. Sementara kota Lagos di Nigeria menempati urutan terakhir. Nah, untuk Singapura dan Stockholm misalnya, pemanfaatan ICT mereka sudah sangat baik. Misalnya saja di Singapura, pemerintah Singapura memanfaatkan ICT negara tersebut untuk mendorong ICT sebagai industri utama, pembangunan e-health juga diutamakan. Sementara Stockholm, memanfaatkan ICT untuk membangun jejaring raksasa antar universitas untuk kolaborasi penelitian.

Dalam penelitian sebelumnya diungkap bahwa pertumbuhan penetrasi broadband sebesar 10% meningkatkan 1% GDP. Pertumbuhan 10% penetrasi ponsel memengaruhi pertumbuhan GDP 0,5%. Penambahan 1000 pengguna broadband, bisa membuka 80 lowongan kerja baru. Broadband juga meningkatkan efisiensi pemerintah, dengan beralih ke layanan online, seperti diurai Hardyana.

Sementara secara sosial, penelitain Ericsson sebelumnya juga menunjukkan adanya peningkatan di beberapa bidang, baik kualitas pendidikan dan kehadiran siswa, interaksi sosial, kesehatan, bahkan partisipasi politik. Ditilik dari sudut pandang lingkungan, broadband lebih ramah lingkungan sebab mengurangi konsumsi energi dan mengurangi gas rumah kaca.
Kota-kota yang diteliti, memiliki tingkat kemapanan TI yang berbeda.

Oleh karena itu, muncul pula wacana dari Masyarakat Telematika Indonesia (mastel) yang menginginkan broadband yang ada menjadi broadband yang berarti (meaningfull broadband). Penetrasiini diharapkan bisa menyumbang pada pendapatan dan kesejahteraan lokal. “Untuk itu perlu diperbanyak juga konten lokal, agar traffic broadband kita nggak lari ke luar,” tambah Hardyana.

Hal serupa juga disampaikan Ashwin Sasongko, Dirjen Aptel Kemkominfo. Dalam kesempatan terpisah, pemerintah berharap agar besarnya traffic broadband, bukan malah memperbesar nilai impor kita. Melainkan sebiasa mungkin menambah nilai jual dan pasar dari produk-produk lokal. “Saat ini pemerintah fokus pada produk kreatif yang diharapkan bisa mengoptimalkan teknologi ini untuk meningkatkan kesejahteraannya,” tandasnya.

Tanggapan Kamu

komentar