Konsolidasi Pusat Data Masih Jadi Masalah

cioforum

Jakarta, Rabu – Menggabungkan atau konsolidasi pusat data ternyata masih dinilai sebagai salah satu masalah utama yang dihadapi perusahaan-perusahaan di Indonesia. Masalah konsolidasi terutama muncul ketika perusahaan menyadari perlunya datacenter yang baru sementara kondisi yang ada sekarang masih terpecah pada banyak server. Hal ini terungkap dalam ajang diskusi para Chief Information Officer yang dirangkum dalam InfoKomputer CIO Forum: “How to Build an Effective & Efficient Datacenter”.

Acara yang berlangsung Selasa (19/3) kemarin ini dihadiri setidaknya 40 CIO, Vice President IT, dan MIS Head,  dari perusahaan swata dan BUMN ini juga berhali memetakan kendala lain dalam pengelolaan data centernya, seperti antisipasi dan tata kelola data yang berkembang pesat, sulitnya pengadaan barang terutama di BUMN, pengendalian biaya, perpindahan sumber daya manusia yang tinggi diperusahan serta beberapa masalah lain termasuk biaya listrik yang kerap membebani biaya kepemilikian perangkat teknologi.

Menurut  Gunawan Susanto (Country Manager, System & Technology Group IBM Indonesia) saat ini tersedia teknologi yang  memudahkan perusahaan untuk membangun dan mengelola pusat data. Pembangunan pusat data bisa dimulai dari skala kecil. Pertumbuhan kapasitas dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Bahkan kebutuhan kapasitas yang diperlukan dalam waktu cepat pun dapat diakomodasi.

Teknologi yang dimaksudkan oleh Gunawan adalah converged system yang sekarang mulai banyak digunakan. Converged system merupakan sistem pusat data  terintegrasi yang siap pakai. Salah satu produk converged system adalah IBM PureSystems, yang menurut Deddy Sudja (Director Blue Power Technology) mudah dikelola, cloud ready, dan virtualisasinya terbuka, yaitu dapat menggunakan berbagai software yang dibutuhkan pengguna.

Solusi lain untuk masalah pusat data ini adalah dengan “menyewa” pusat data dari pihak ketiga atau yang populer disebut dengan managed services. Dengan solusi ini semua masalah di atas bisa dibebankan kepada pihak penyedia. Pengguna, khususnya bagian TI, tidak lagi dibebani dengan masalah rutin yang menyita banyak waktu tetapi mereka bisa lebih fokus membantu manajemen memecahkan masalah bisnis perusahaan.

 

 

Brama Setyadi

Is a sushi and wife lover. Always curious about any "magic" done by technology. Photography is also my middle name.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.