IWIC Palembang: Ide Jangan Disimpan Sendiri

iwic-palembang

Palembang, PCplus – Dibandingkan negara lain, rasa keinginan belajar orang Indonesia tergolong rendah. Hal itu terungkap pada gelaran IWIC ketujuh di kampus MDP, Palembang pada 3 Oktober 2013 lalu. Namun, tidak demikian halnya dengan mahasiswa MDP yang kampusnya mendapat urutan keempat belas roadshow IWIC kali ini.

Meski awalnya tampak malu-malu dalam mengutarakan ide, para peserta roadshow IWIC di MDP pada akhirnya antusias bertanya dan mengutarakan ide-ide mereka. Salah satu ide yang terlontar adalah membuat aplikasi memilih jurusan. Sanny Gaddafi dari Founder Institute yang menjadi salah satu pembicara menanggapi usulan ide tersebut. Menurut Sanny yang akrab disapa Sagad, dalam membuat aplikasi memilih jurusan kita tidak bisa bekera sendiri, melainkan harus bekerja sama dengan pihak lain, misalnya saja dengan psikolog.

Dalam presentasinya, Sagad pun mencontohkan beberapa startup lokal yang pada akhirnya sukses. Tokopedia misalnya. Pada awalnya ini merupakan situs jual beli online yang dimulai dengan dua orang. Padahal di saat yang sama, sudah ada beberapa situs jual beli online lainnya yang lebih besar seperti Plasa, Rakuten, dan Multiply. “Perkembangan Tokopedia pada tahun 2012 bahkan hampir 700%,” ungkap Sagad. Tokopedia saat ini pun sudah mendapat investasi seri C. Investasi seri A besarnya mencapai USD7 juta. Jika investasi seri B saja besarnya bisa mencapai 10 kali lipat investasi seri A, maka bisa dibayangkan berapa besaran investasi seri C.

Sebagai program inkubator jangka panjang bagi para wirausahawan dalam mengembangkan usahanya, Founder Institute bertugas meng-guide mereka melalui lima langkah.

Pertama adalah cari masalah yang sesuai passion kita, sehingga kalau kita punya ide jangan disimpan sendiri supaya bisa di-sharing dan dikembangkan. Kedua adalah cari solusi yang tepat. Ketiga adalah membangun tim yang solid. Keempat, mengembangkan produk yang baik. Kelima atau langkah terakhir adalah mengecilkan wilayah supaya aplikasi yang dibuat lebih berpotensi.

Selain Sagad, gelaran IWIC Palembang juga mengundang Erno Prayudo. Pria yang pernah menjadi Runner Up kedua pada IWIC 2011 lalu ini pun berbagi kisah mengenai aplikasi yang ia sodorkan kala itu. Erno menuturkan, saat itu ide yang ia ajukan cukup sederhana, yakni game Dragon Snake.

Alumnus ITB ini membeberkan bahwa untuk bisa menjadi ide, kita tidak bisa bekerja sendiri melainkan dapat saling membantu sesuai dengan keahlian masing-masing. Hal ini pun sempat dialami Erno ketika mengajukan aplikasi game Dragon Snake. Kala itu dirinya yang sarjana seni harus mengajak temannya yang mengerti programming.

IWIC Palembang sendiri sukses menyedot sekitar 200 peserta dari berbagai jurusan di kampus MDP ini. Namun demikian, tampak pula beberapa mahasiswa kampus lain seperti Universitas Sriwijaya. Seperti pada gelaran di kota lainnya, IWIC di kota Pempek ini juga ditutup dengan pembagian hadiah untuk Twit yang menarik, dan pembagian doorprize bagi peserta yang beruntung.

Tanggapan Kamu

komentar