Naik, Peringkat Ancaman Sekuriti Internet Indonesia

Director, Security Sales, Asean & Korea, Symantec Alex Lei

Director, Security Sales, Asean & Korea, Symantec Alex Lei

JAKARTA, PCplus – Ada gula ada semut. Makin banyak pengguna Internet di tanah air, makin banyak pula ancaman/serangan sekuriti yang datang dari Internet.

Ancaman sekuriti dari Indonesia, ungkap Alex Lei (Director, Security Sales, Asean & Korea, Symantec), naik dibandingkan tahun sebelumnya. Kalau di tahun 2012, Indonesia duduk di peringkat 23 dunia, tahun 2013 peringkatnya naik satu tingkat.

“Indonesia duduk di peringkat 22. Lebih besar dibandingkan tahun lalu. Tapi ini normal karena makin banyak yang menggunakan Internet dari smartphone, seperti juga terjadi di India dan Cina,” kata Lei yang mengutipkan data data Internet Security Threat Report 2014 Vol. 19 Symantec  di lebih dari 157 negara.

Aktivitas sumber ancaman sekuriti di Indonesia terbanyak, jelas Lei, adalah kode jahat (malicious code). Kode jahat ini duduk di peringkat 4 dunia pada tahun 2013, atau sama dengan tahun sebelumnya.

Sumber ancaman lainnya adalah spam (peringkat 25), phishing hosts (peringkat 27), bots (peringkat 52), networking attacking countries (peringkat 28) dan web attacking countries (peringkat 27). Namun dibandingkan tahun 2012, peringkat kelima sumber ancaman sekuriti ini menurun.

Sementara itu serangan yang paling banyak dilakukan adalah berupa malware. Selain malware, e-mail juga banyak mengandung phishing. “Satu dari 412,8 e-mail berisi malware, dan satu dari 3535,8 e-mail adalah phishing,” ungkap Lei. “62,4% e-mail yang ada sekarang adalah spam,” tambahnya.

Lei mengatakan, sumber ancaman ini tidak akan turun, tapi justru akan terus bertambah banyak. “Spam di semua industri akan tetap ada,” katanya.

Lei menjelaskan, ada tiga sektor yang paling banyak diincar, yakni wholesale, sektor publik dan manufaktur. Selain itu terlihat tren bahwa penyerang kini membidik perusahaan-perusahaan kecil yang jumlah karyawannya kurang dari 250 orang. “Sebab keamanan di perusahaan seperti ini tidak seketat perusahaan besar, tapi dari perusahaan kecil ini penyerang bisa mendapatkan akses masuk ke perusahaan besar,” terang Lei.

Tanggapan Kamu

komentar