IBM Xcite 2014: Ketika Data Menjadi Sumber Daya Alam Baru

robert morris ibmSINGAPURA, PCplus – Sumber daya alam yang satu ini selalu terbarukan. Ia tidak seperti sumber daya alam, seperti minyak fosil, yang bisa habis. “Ini adalah sumber daya alam yang baru,” kata Robert Morris (Vice President, Global Labs, IBM Research) dalam media briefing IBM Xcite 2014 di Singapura tadi siang (13/10/2014).
Apa sih sumber daya alam baru yang istimewa itu? Ternyata ia adalah data! Data, kata Morris yang pada tahun 2010 oleh majalah Fortune dan majalah Money dijuluki sebagai ilmuwan tercerdas dalam bidang teknologi itu, sudah menjadi sumber daya alam yang baru. “Jadi kita harus memikirkan data dalam cara yang baru,” katanya. “Kita perlu era baru komputasi,” tambahnya.
Data yang tumbuh sangat cepat dengan power yang begitu hebat itu, tutur Morris, memuat sistem data menjadi rapuh. “Butuh cognitive computing agar data bisa dipakai untuk merespon lingkungan,” kata Morris sambil merujuk pada sistem of engagement, system of insight dan system of record.
Cognitive computing ini bisa digunakan untuk mencari jawaban, untuk mengambil keputusan, dan untuk mengajukan pertanyaan. “Jadi prosesnya dibalik, sehingga kita bisa mengetahui apakah selama ini kita melihat suatu masalah dalam cara yang tidak benar.”
Bingung? Gamblangnya begini. Ketika kita mencari sesuatu via Google Search, maka jawaban yang muncul bisa sangat banyak sehingga butuh waktu untuk dilihat dan bahkan mungkin ada jawaban yang kontradiktif dengan jawaban-jawaban sebelumnya. Sementara dengan cognitive computing Watson yang oleh IBM dinaungi dalam Watson Group tidak begitu.
Menggunakan Watson, informasi yang ada bisa dimanfaatkan untuk menciptakan insight yang bisa ditindaklanjuti. “Watson itu bisa diajari. Ia dirancang untuk meniru cara pikir manusia,” kata Morris.
Kemampuan Watson belajar itu dikarenakan ia mampu mengenali bahasa. Sementara ini Watson baru mengenali bahasa Inggris. Namun tak lama lagi ia juga akan hadir dalam bahasa Portugis dan Jepang.
Saat ini IBM menawarkan tiga layanan baru yang berbasiskan cognitive intelligence Watson, yakni Discovery Advisor, Analytics dan Explorer. Yang pertama ditujukan pada industri farmasi dan penerbitan, Discovery Advisor bisa mengungkap hubungan-hubungan dari ribuan hasil pencarian dari tool pencari sehingga mempercepat waktu periset. Sementara itu Analytic memungkinkan pengguna menjelajahi Big Data insight melalui tampilan visual dan tidak menuntut pelatihan analytic advanced.
Watson sudah digunakan di sektor kesehatan (kanker) dan juga perbankan, antara lain bank DBS Singapore dan ANZ. Kelak, ungkap Morris, Watson juga akan tersedia untuk sektor edukasi, platform penjual, advanced image recognition. “Saat ini 20% image recogniton salah dbaca oleh radiologist,” kata Morris. Kesalahan itu tidak akan terjadi jika Watson ikut campur tangan.
Nantinya, janji Morris, juga akan hadr SYNapse, yakni chip sensor CMOS yang bisa melakukan komputasi. “Chip-nya tidak panas jika dipakai. Dimotori oleh otak manusia dan skalabel.” Cognitive computing, kata Morris, juga akan tersedia untuk oil & gas dan merger & aquisition.

Tanggapan Kamu

komentar