Kecanggihan Di Balik Mesin Pencari Gambar Google

Pernah nggak pakai fasilitas pencari gambar milik Google? Pasti pernah dong. Nah, ada fakta menarik yang selama ini ternyata tidak banyak disadari oleh pengguna si mbah. Fakta ini terkait teknologi yang dipakai Google untuk bisa menghasilkan gambar yang obyek di dalamnya sesuai dengan kata kunci.

Sepintas hal ini terdengar biasa saja. Ya, di teknologi pencarian web milik Google, frasa yang berbentuk kalimat tentu bisa dengan mudah dicocokkan dengan konten yang sudah berhasil dicuplik (crawl) oleh robot milik Google.  Pastinya Google menambahkan algoritma rahasia yang makin membuat hasil pencarian lebih dekat dengan kata yang dicari.

Contoh gambar hasil pencarian berdasar kalimat tertentu, berikut kesalahan yang masih ada. (foto: dok. Google)

Contoh gambar hasil pencarian berdasar kalimat tertentu, berikut kesalahan yang masih ada. (foto: dok. Google)

Tapi, teknologi pencarian web tentu tidak serta merta bisa diadopsi seluruhnya ke pencarian gambar milik Google. Okelah kalau kamu mencari gambar (misal) dengan kata “bola dunia”, dari judul file atau caption gambar saja Google sudah bisa menampilkan hasil yang cukup akurat. Tapi saat kata kunci berubah menjadi kalimat tanya seperti “dua orang berbaju merah bermain bola di taman” maka masalahnya jadi berbeda.

Itu sebabnya, secara khusus, Google menggandeng Universitas Stanford untuk menyempurnakan pencarian gambar miliknya. Bersama Stanford, Google mengembangkan sebuah algoritma baru yang mampu mengenali adegan yang ada di dalam gambar, lalu mencocokkannya dengan hasil pencarian pengguna.

Informasi yang dikutip PCplus dari The New York Times menyebut bahwa teknologi ini menggabungkan kemampuan pengenal gambar dan pemroses kata yang diucapkan dalam keseharian. Keduanya kemudian menghasilkan semacam kecerdasan buatan yang bisa mempelajari kata-kata dari  informasi judul gambar dalam kaitannya dengan apa yang ditampilkan di gambar.

Karena masih dalam tahap pengembangan, jangan harap mendapat hasil yang sempurna darinya. Beberapa bug bahkan masih ditemukan terkait keterkaitan kalimat dengan gambar yang ditampilkan. Ditambah, teknologi yang disebut Google dengan “neural networks”  itu saat ini masih hanya mendukung kalimat dalam bahasa Inggris.

 

Tanggapan Kamu

komentar