Big Data bisa Ungkap Penggunaan Kartu Frequent Flyer yang Ilegal

Fajar Muharandy (Chief Solution Architect, PT Tdata Indonesia), "Big data bukan semata-mata data yang besar."

Fajar Muharandy (Chief Solution Architect, PT Tdata Indonesia), “Big data bukan semata-mata data yang besar.”

JAKARTA, PCplus – Belakangan ini kita sering mendengar istilah Big Data. Bahwa saat ini sudah jamannya Big Data. Bahwa kita harus memanfaatkan dan mengolah Big Data jika ingin memenangkan persaingan bisnis yang superketat.

Tapi sebenarnya apa sih Big Data itu? Big Data, kata Fajar Muharandy (Chief Solution Architect, PT Tdata Indonesia) dalam media briefing di Jakarta tadi siang (16/12/2014), bukalah semata-mata data yang besar (jumlahnya). “Big data adalah jenis data yang baru, jenis analisis yang baru,” terangnya.

“Big data dimulai saat industri ritel, supermarket, sebelum oprang memutuskan membeli sebuah barang apa yang ada di balik keputusannya,” papar Fajar. Dengan menganalisis historis data yang ada, sebenarnya banyak hal yang bisa diketahui.

Salah satunya, cerita Fajar, adalah pembongkaran kasus penggunaan kartu loyalitas penerbangan (mileage card/frequent flyer card). Saat dianalisis, terungkap bahwa ada kartu yang digunakan pemiliknya terbang ke lima kota pada hari yang sama sehingga mileage-nya sangat banyak. Padahal itu tak mungkin bukan? Ternyata nomor kartu itu ditengarai dipakai oleh petugas check-in ketika pemiliknya terburu-buru masuk pesawat tanpa mendaftarkan kartunya.

Analisis data juga telah membuktikan apa yang tadinya dianggap sebagai mitos di industri manufaktur otomotif. Bahwa kendaraan yang diproduksi pada hari Jumat umumnya berkualitas kurang baik, atau cacat. Ini dikarenakan hari Jumat adalah hari terakhir kerja dalam satu minggu, sehingga umumnya karyawan ogah-ogahan saat bekerja. Selain itu mesin-mesin yang digunakan umumnya juga tak lagi presisi pada hari Jumat karena sudah beroperasi lama. Begitu cerita Fajar.

Tanggapan Kamu

komentar