Synnex Metrodata Indonesia Resmi Jadi Mitra Elite Qlik

ki-ka: Vice President & Managing Director Asia Qlik, Terry Smagh dan President Director PT Synnex Metrodata Indonesia Agus Honggo Widodo menunjukkan dokumen resmi Synnex Metrodata Indonesia sebagai value elite partner Qlik di Indonesia
ki-ka: Vice President & Managing Director Asia Qlik, Terry Smagh dan President Director PT Synnex Metrodata Indonesia Agus Honggo Widodo menunjukkan dokumen resmi Synnex Metrodata Indonesia sebagai value elite partner Qlik di Indonesia

JAKARTA, PCplus – Bertambah lagi jajaran software yang ditawarkan oleh Synnex Metrodata Indonesia (SMI). Kali ini tambahannya adalah software business analytics bernama Qlik. Kemarin (1/7/2015) di Jakarta, Agus Honggo Widodo (President Director, SMI) dan Terry Smagh (Vice President & Managing Director Asia, Qlik)  telah menandatangani kerjasama SMI sebagai value elite partner Qlik di Indonesia.

“Lima tahun lalu, jualan produk seperti ini susah. Sekarang, ERP banyak dipakai perusahaan. Banyak perusahaan punya data dan dengan Qlik, data tersebut bisa diolah dan menjadi bahan untuk mengambil keputusan dengan cepat. Dulu untuk memasang (software business analytics) bisa 6 bulan, sekarang 2 minggu. Harganya juga tidak mahal sekali,” kata jelas Agus tentang latar belakang SMI menjadi mitra pemasaran Qlik.

Dengan penunjukkan ini, SMI akan menawarkan QlikView dan Qlik Sense kepada para mitra bisnisnya di kalangan enterprise maupun UKM. “Harapannya, SMI tidak cuma menawarkan di Jakarta, tapi juga di luar, seperti Bali, Medan dan Surabaya,” ungkap Smagh.

“Kami tidak hanya akan memasarkannya di perusahaan besar, tapi juga SME di Bandung, Surabaya dan Medan. (SMI) Sudah punya hardware, jadi bisa dijual bersama hardware. Juga sediakan tim untuk implementasi sehingga kustomer bisa cepat menikmati,” tukas Agus yang sudah membagi porsi target pasar 50:50 untuk enterprise dan UKM. “Akan tunjuk reseller dan system integrator untuk memasarkan secara lebih luas,” tambahnya.

Omong-omong apa sih Qlik? Qlik, tutur Smagh, adalah sebuah platform yang memudahkan bisnis, mulai dari enterprise sampai UKM (SMB – small medium business). Dengan Qlik, perusahaan bisa membuat chart, grafis dari data apa pun sehingga mereka bisa lebih mudah dan cepat menganalisis data tanpa bantuan orang TI. Dari hasil analisis data, pejabat perusahaan diharapkan bisa mengambil keputusan secara lebih akurat. Singkatnya, software ini memudahkan visualisasi analisis data dan business intelligence.

“Bisa coba-coba mengolah data yang mau dilihat, karena konsepnya lebih ke arah business discovery. Untuk demo cepat, dengan data real sudah jadi dalam 1 – 2 jam,” kata Arifin dari SMI. Tampilan software ini lintas platform, tidak membutuhkan software pihak ketiga karena bisa dipakai dengan browser Web.

Dibandingkan produk saingan seperti Tableau, menurut Smagh, Qlik lebih unggul. “Tableau bisa membuat grafis yang bagus. Tapi Qlik itu platform. Kompetitor hanya menangani sebagian platform, hanya business intelligence tradisional. Hanya untuk static report, belum insight. Mereka hanya tools. Hanya platform yang bisa melakukan itu (insight).” Keunggulan Qlik, kata Smagh, juga tercermin dari komunitasnya yang terbesar di seluruh dunia. “Kami satu-satunya software company yang no. 1 di (daftar) Forbes karena inovasi,” promosi Smagh.

Eh, mahal tidak ya Qlik? “Harga bisa disesuaikan. Bisa US$ 10 ribu – US$ 15 ribu, atau sekitar 180 juta -200 juta rupiah, atau lebih murah. Nanti harga rupiah akan di-adjust lagi,” tutur Lie Heng (Dierctor, SMI). “Harga sangat kompetitif untuk SMB sampai enterprise. Ada approach license agreement. Set satu harga untuk dipakai modul apa pun sepuasnya,” tambah Arifin.

O ya, SMI sudah menggunakan Qlik untuk business intelligence  data perusahaannya selama 2 tahun loh. Namun software business analytics sebelumnya, SAP, pun tetap dipakai.

Wiwiek Juwono

Senior Editor di InfoKomputer dan PCplus. Memiliki spesialisasi di penulisan fitur, berita, serta pengujian gadget dan asesori komputer