Amazon Web Services, Menguntungkan Perusahaan Kecil sampai Besar

Principal Technology Evangelist Amazon Web Services Markku Lepisto

Principal Technology Evangelist Amazon Web Services Markku Lepisto

JAKARTA, PCplus – Siapa yang tak kenal Amazon? Namun Amazon bukan lagi toko buku online. Sejak Maret 2006 ia melebarkan sayap dengan menawarkan layanan cloud, Amazon Web Services (AWS) yang kini sudah mempunyai 50 layanan, antara lain EC2 (Elastic Compute Cloud), Lambda, S3 (Simple Storage Service), Glacier, CloudFront, Kinesis, Elastic Beanstalk, CloudWatch, SES (Simple Email Service, Marketplace, Route 53, Workspace, dan Mobile Analytics . Pelanggannya banyak loh. Menurut Markku Lepisto (Principal Techology Evangelist, APAC) dalam media briefing di Jakarta (25/8/2015), di seluruh dunia ada sekitar 1 juta kustomer AWS.

Pelanggannya pun rupa-rupa, mulai dari perusahaan startup, UKM, lembaga pemerintah, organisasi nirlaba, lembaga pendidikan, sampai perusahaan enterprise. Spotify, Dropbox, Mailbox, banjo, dan kickstarter adalah contoh di kalangan perusahaan startup. “Startup (companies) adalah pengguna awal kami karena mereka dananya terbatas. Kalau beli box sendiri, mereka tidak punya tempat. Kalau di AWS bisa scale seperlunya,” tutur Lepisto.

Di kalangan enterprise, beberapa konsumer AWS adalah TCL, HTC, Netflix, Sharp, Kellogs, Nokia, Quantas, Docomo, Samsung, Sharp, Novartis, Toshiba, Merck dan Autodesk. Samsung, cerita Lepisto, bisa menghemat biaya operasionalnya sampai 85% dengan menggunakan layanan cloud AWS. Sedangkan Nokia memindahkan data warehousenya yang mahal dan lambat ke Amazon Redshift sehingga bisa bekerja 2x lebih cepat dengan biaya setengahnya.

Kalau di Indonesia, siapa ya yang pakai? Adai Kompas.com, Liputan 6, SCTV, Tribunnews, viva.co.id, Traveloka, tiket.com, blibli, rumah123, urbanindo, berrybenka, bilna GDP, grivy.com, prodigy dan archipelago.

“Cloud tidak cuma membuat biaya lebih murah, tetapi juga bisa mengganggu pasar yang sudah ada,” kata Lepisto. Ia mencontohkan kehadiran airbnb di industri perhotelan, spotify di industri musik dan Dropbox di industri storage. Para pemain baru ini tidak punya ‘hardware’ tapi bisa menawarkan layanan. Airbnb misalnya, tidak punya hotel tapi bisa menawarkan jasa penginapan.

“Dengan cloud, perusahan tidak perlu bangun data warehouse, atau analytics sendiri. Jadi tidak perlu keahlian untuk menjalankan database sehingga perusahaan bisa fokus ke produknya. Database disediakan sebagai servis. Customer cuma perlu klik dan langsung punya database. Kalau tidak perlu, ya tinggal dibuang. Mirip PLN, plug ke standar interface dan bayar yang dipakai saja. Kapasitas skalabilitasnya tak terbatas. Tak ada komitmen jangka panjang. Tidak ada pembayaran minimum,” tegas Lepisto.

Selain tidak perlu membayar di muka dan kontrak jangka panjang, pengeluaran biaya variabel juga bisa diturunkan. “Lamborghini bisa menurunkan biaya infrastruktur web-nya 50%. Kempinski kurangi biaya TI sampai 40% dalam kurun 5 tahun,” ungkap Lepisto.

Konsumer pun tidak perlu menebak-nebak kapasitas yang akan dibutuhkan. Kalau perlu kapasitas lebih besar, bisa langsung disesuaikan. Kalau kelebihan kapasitas, juga bisa langsung dikurangi. Bayarnya ya yang dipakai saja.

Lepisto yang berperawakan tinggi langsing ini menjelaskan bahwa keunggulan cloud juga terletak pada kecepatan dan kelincahan. “Infrastruktur bisa selesai dibuat dalam hitungan menit. Tidak perlu tunggu bagian TI.”Amazon

Perusahaan yang memanfaatkan layanan cloud AWS pun bisa melakukan ekspansi ke belahan dunia mana pun dalam hitungan menit.

Di seluruh dunia, AWS dibagi dalam 11 AWS Regions, yakni AS, Brazilia, Eropa, Singapura, Jepang, Tiongkok dan Australia. Di setiap Region, AWS punya beberapa Availability Zones atau rangkaian data center di beberapa lokasi terpisah yang didesain beroperasi terpisah dari zona lainnya. Kalau kamu tertarik menggunakan AWS, Kamu yang mau memakai layanannya tinggal memilih wilayah yang sesuai dengan tempat kamu akan menjalankan aplikasimu. Kalau mau beroperasi di Jepang, pilih saja Region Jepang.

Sementara untuk menyampaikan konten di Singapura, Mumbai, Chennai, Manila, Hongkong, Taipei, Sydney, Melbourne, Los Angeles, Miami, Amsterdam, Paris, Tokyo, Osaka, Seoul, Milan, Sao Paolo dan lain-lain, ada jaringan global Edge Location (ada 53). Edge Location dipakai untuk mengantarkan konten ke pengguna di lokasi terdekat dengan latency rendah dan kecepatan transfer data tinggi pada layanan Amazon CloudFront.

Tanggapan Kamu

komentar