Kemenkes Pilih Animasi untuk Sarana Kampanye Edukasi Kesehatan

(keempat dari kiri): lima dari Benoit Martineau (Presiden Direktur, Sanofi Group Indonesia), pakar diabetes Prof. Dr. Agung Pranoto dr MSc, SpPD-KEMD, FINASIM, Lily Sulistyowati (Direktur Penyakit tidak Menular, Dirjen PP & PL, Kementerian Kesehatan), Dra Hanna Herawati MA (Kepala Bidang Metoda & Teknik Kesehatan, Kementerian Kesehatan) dan pakar animasi Wahyu Aditya bergambar bersama usai konferensi pers pengumuman pemenang lomba film pendek animasi AnimasiManis di Jakarta (24/8/2015)

(keempat dari kiri): lima dari Benoit Martineau (Presiden Direktur, Sanofi Group Indonesia), pakar diabetes Prof. Dr. Agung Pranoto dr MSc, SpPD-KEMD, FINASIM, Lily Sulistyowati (Direktur Penyakit tidak Menular, Dirjen PP & PL, Kementerian Kesehatan), Dra Hanna Herawati MA (Kepala Bidang  Teknik Promosi Kesehatan, Kementerian Kesehatan) dan pakar animasi Wahyu Aditya bergambar bersama usai konferensi pers pengumuman pemenang lomba film pendek animasi AnimasiManis di Jakarta (24/8/2015)

JAKARTA, PCplus – Tidak mudah menjelaskan suatu penyakit – gejala, resiko, pengobatan – kepada masyarakat umum. Maklum tingkat pengetahuan masyarakat berbeda-beda. Karena itulah untuk menjelaskan penyakit dibutuhkan media yang mudah diterima dan dicerna masyarakat umum, tanpa memandang usia maupun latar belakang pendidikan.

Salah satu caranya, menurut Dra Hanna Herawati MA (Kepala Bidang Teknik Promosi Kesehatan, Kementerian Kesehatan) dalam konferensi pers pengumuman pemenang lomba film pendek animasi AnimasiManis di Jakarta (24/8/2015), adalah melalui animasi. “Medium animasi sangat lengkap, ada suara, gambar dan gerakan. Otak manusia lebih cepat menangkap visual daripada teks. Animasi bisa diterima semua umur,” tutur pakar animasi Wahyu Aditya (pendiri HelloMotion, HelloFest dan KDRI) yang menjadi salah satu juri lomba.

Karena itulah untuk mensosialisasikan penyakit, Kemenkes bekerjasama dengan perusahaan pelayanan kesehatan global Sanofi Group Indonesia, lalu mengadakan lomba film pendek animasi AnimasiManis untuk menjelaskan penyakit diabetes. “Pilih animasi karena berbeda dan atraktif. Mudah dicerna,” kata Benoit Martineau (Presiden Direktur, Sanofi Group Indonesia). Eh, tapi mengapa diabetes yang dipilih, dan bukan penyakit lain seperti demam berdarah?

Karena menurut pakar diabetes Prof. Dr. Agung Pranoto dr MSc, SpPD-KEMD, FINASIM,  diabetes disebut oleh WHO (World Health Organization  Рbadan kesehatan dunia) sebagai penyakit wabah dunia, satu-satunya penyakit non-infeksi.

“Karena jumlahnya banyak dan tidak akan pernah menurun. Tahun 2012 IDF (International Diabetes Federation) memperkirakan ada 387 juta pasien (diabetes) di dunia. Tahun 2035 akan menjadi sekitar 600 juta, naik 53%, baik di negara maju maupun negara berkembang. Dari satu pasien, kira-kira satu yang tidak tahu (kalau dia menderita diabetes). Di Indonesia angkanya lebih tinggi lagi sehingga perlu kampanye agar yang tidak tahu ketahuan. Karena (diabetes) sebagian tidak menimbulkan gejala. Kalau sudah gejala, biasanya sudah parah. Gula (darahnya) di atas 400, 600,” terang pakar diabetes tersebut.

Diabetes, tambah Prof. Dr. Agung, didahului oleh kondisi pra-diabetes yang tidak menimbulkan gejala apa pun. Karena itulah banyak orang tidak menyadari kalau menderita diabetes. “50% – 60% (pasien diabetes) belum ketahuan, padahal berkeliaran di mana-mana yang tidak ketahuan sakit. Ada yang tahunan sakit tapi tidak ketahuan,” ungkapnya.

Pengobatan diabetes, jelas Prof. Dr. Agung, sangat mahal. “Apalagi jika sudah komplikasi (seperti stroke, sakit jantung, penyakit syaraf, kerusakan retina mata, penyakit ginjal). Jadi perlu kampanye agar tidak membebani keluarga dan juga negara. Kalau bisa (jumlah penderita diabetes) ditekan, kalau tidak pasien harus tetap sehat. Jadi perlu kampanye.”

Indonesia, kata Prof. Dr. Agung mengutipkan data IDF, duduk di peringkat kelima dunia dengan 9,1 juta pasien diabetes pada tahun 2014, setelah Tiongkok, India, AS, dan Brazilia. ‘Juara’ diabetes di tanah air adalah propinsi Kalimantan Barat, diikuti oleh Maluku Utara, Riau, Bangka Belitung dan Nangroe Aceh Darussalam.

Nah agar masyarakat sadar akan penyakit diabetes yang berbahaya dan setiap 7 detik menyebabkan kematian di seluruh dunia itu, tegas Dra. Hanna, “perlu kampanye untuk mengubah perilaku masyarakat.” Maklum penyakit yang disebut-sebut sebagai silent killer ini berkaitan dengan gaya hidup.

Mereka yang merokok, kurang aktivitas fisik, kurang mengonsumsi sayur dan buah-buahan, mengonsumsi minuman beralkohol, sangat gemuk (obesitas), dan terganggu mental emosional beresiko mengidapnya. Ini termasuk ibu hamil pada usia kehamilan di atas 24 minggu, yang bisa menderita diabetes gestasional (bisa hilang saat melahirkan, tetapi anaknya menjadi beresiko menderita diabetes pada usia muda).

animasimanis2Melalui kerjasama Kemenkes, harap Martineau, 30 film pendek terbaik hasil lomba AnimasiManis bisa disebarluaskan di sebanyak mungkin rumah sakit dan puskesmas agar masyarakat teredukasi akan penyakit diabetes dan dampaknya sehingga bisa berobat sedini mungkin. “Karena diabetes bisa dicegah,” ucapnya.

Film pendek animasi juga diharapkan sedikit banyak bisa meluruskan berbagai informasi yang menyesatkan, seperti diabetes bukan penyakit serius, diabetes tidak bisa dicegah, tidak perlunya minum obat karena tidak merasakan keluhan diabetes, bahwa insulin hanya untuk pasien yang di-opname, atau merokok bisa mengurangi resiko diabetes dan banyak mitos lain.

Diabetes, kata Prof. Dr. Agung, kalau ketahuan bisa diobati dan diundur sampai 7 tahun. Ia menyarankan setiap orang yang sudah berusia di atas 40 tahun untuk mengecek (kadar) gula darah setahun sekali di lab.

O ya, lomba AnimasiManis yang menerima 107 karya dari seluruh Indonesia ini dimenangkan oleh animator muda (berusia 22 tahun) dari Surabaya, yakni Tsani SM. Selain melalui fillm pendek animasi, Kemenkes juga menggunakan media lain seperti wayang, radio, TV, untuk mengedukasi masyarakat

Tanggapan Kamu

komentar