Pakai SAS, ANZ Indonesia lebih Mudah Kelola Data

customer experience

JAKARTA, PCplus – Sebagai nasabah bank, mungkin kamu pernah mengalami hal ini: ditawari fasilitas kartu kredit. Si penelepon alias petugas telemarketing tidak tahu kalau kamu sudah memiliki kartu kredit dari bank yang sama. Kok bisa begitu?

Ini karena bank tidak mengenali nasabahnya sendiri. Maklum informasi di intetnal mereka tidak terintegrasi. Jadi setiap bagian mengelolanya sendiri-sendiri. Tak heran jika bagian kartu kredit tidak tahu kalau kamu sudah punya kartu kredit yang ditawari oleh customer service.

Agar hal di atas tidak terus terjadi, bank perlu sistem yang bisa mengintegsikan data nasabah yang tersebar di berbagai sistem dan poin kontak. Ini agar mereka tidak buang-buang waktu menawarkan produk ke nasabah yang ‘salah’. Untuk itu PT Bank ANZ Indonesia (ANZ) memilih SAS Data Quality.

Agar  bisa memperoleh informasi nasabah dengan lebih baik sekaigus meningkatkan customer retention, dan meningkatkan Return on Investment (ROI) dari program marketing-nya, PT Bank ANZ Indonesia (ANZ) menggelar proyek Customer Identification File (CIF). Proyek ini juga menjadi pemenuhan prasyarat peraturan untuk prinsip Know Your Customer (KYC), Anti-Money Laundering (AML) dan Foreign Account Tax Compliance Act (FATCA).

Untuk proyek ini, ANZ memilih SAS Data Quality.“SAS memberikan solusi untuk permasalahan dalam kualitas data kami. Kami dapat bekerja dengan lebih cepat dan efisien,” kata Jimmy Tandri, Head of Decision Management ANZ Indonesia. Dalam mengembangkan solusi Single Customer View, tim proyek hanya memerlukan sedikit anggota tim dan dapat melengkapi dan memenuhi persyaratan proyek dalam timeline.

Ketika sistem telah berfungsi dan berjalan, proses ekstrasi, memuat dan mentransformasi (ETL) secara otomatis bekerja dengan lancar dan waktu pemrosesan menjadi berkurang dengan signifikan meskipun data sedang diolah. “Kami terpukau dengan betapa cepat dan mudah prosesnya, alat ini memberikan kejelasan pada isu data dan meningkatkan kepercayaan terhadap data itu sendiri,” kata Mujur Tandi, Head of Operations Transformation ANZ Indonesia.

“SAS Data Quality juga sangat  mudah digunakan (user friendly), dan GUI (Graphical User Interface) sangat membantu,” kata Jimmy. CIF tunggal yang dikembangkan dengan SAS Data Quality, sekarang telah menjadi bagian integral dari KYC dan AML (Anti-Money Laundering), kampanye marketing dan analitik risiko di ANZ.

ANZ pertama kali hadir di Indonesia pada tahun 1973. ANZ merupakan salah satu bank internasional terdepan di Indonesia dengan 28 cabang di 11 kota besar seluruh Indonesia dan dengan nilai aset yang mencapai 2,75 miliar USD.

Tanggapan Kamu

komentar