Teradata Serius Garap Sektor Ritel

ki-ka: Fajar M, Roy Mandey (ketua APRINDO) dan Erwin Z Achir (Teradata Indonesia) berfoto bersama usai jumpa pers di Jakarta

ki-ka: Fajar M, Roy Mandey (ketua APRINDO) dan Erwin Z Achir (Teradata Indonesia) berfoto bersama usai jumpa pers di Jakarta

JAKARTA, PCplus – Pertumbuhan ekonomi di tanah air semester pertama tahun lalu melambat. Namun di semester kedua belanja masyarakat sudah mencatatkan kenaikan. “Ada kenaikan 12,3% penjualan sepeda motor, F&B juga naik,” tutur Roy Mandey (Ketua Aprindo – Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia) dalam jumpa pers Teradata di Jakarta (12/11/2015).

Sejalan dengan itu, laporan A.T. Kearney mengungkap bahwa Global Retail Development Index (GRDI) tahun ini menuliskan bahwa Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar mencapai peringkat GRDI tertinggi. Total penjualan pasar ritel di Indonsia tumbuh 14,5%, utamanya di kelas menengah. Nilai pasar ritel GRDI ini disebutkan mencapai US$ 326 miliar.  Pengeluaran dari sektor rumah tangga adalah yang terbesar.

Melihat angka di atas, Teradata tahun ini serius untuk menggarap sektor ritel di tanah air. Sebenarnya,  Teradata memang sudah terlibat dalam pengolahan data di sektor ritel. Macy’s, Family Mart, Lawson, 7-Eleven, Groupon, Barnes & Nobles, Walmart adalah beberapa dari kliennya.

Namun di Indonesia, aku Erwin Z. Achir (President Director, PT Teradata Indonesia), perusahaannya belum memiliki customer di sektor ritel. “Kalau di telekomunikasi, perbankan kami ada di Top 2 atau Top 3,” kata Erwin.

Erwin mengatakan akan memanfaatkan tren peralihan dari toko offline ke toko online yang kini marak. Ia menyarankan perusahaan untuk mengadopsi program pemasaran berbasis pelanggan dari offline ke online dan sebaliknya.

“Ada korelasi antara (toko) online dan offline. (Konsumen) Lihat di online, tapi belinya offline. Di Eropa, lag time (waktu antara lihat di online dan belanja di offline) sekitar 3 hari,” kata Fajar Muharandy (Chief Solution Architect, Teradata).  “Data yang ada di-compound lalu dikembalikan untuk dikelola. Sebagian sudah melakukan. Ini terobosan, bagaimana data bisa di-totalized secara keseluruhan untuk memberikan benefit tambahan, bukan sekadar data,” tambah Erwin.

Peluang di sektor ritel memang masih terbuka besar. Apalagi menurut Roy, dari sekitar 500 anggota APRINDO tidak sampai  5% yang sudah memanfaatkan Big Data.   

Tanggapan Kamu

komentar