Begini Cara Sinarmas Land Tangani ‘Disruptor’

 

sinarmas landJAKARTA, PCplus – Bagi sebagian pihak, disruptor seperti Grab, Uber, GoJek, dianggap mengganggu pola bisnis tradisonal. Mereka sering dianggap sebagai musuh. Namun tidak begitu anggapan Sinarmas Land.

“Disruptor bukan musuh, tapi peluang. Kalau perlu kita kerjasama (dengan disruptor) untuk meningkatkan nilai perusahaan. Memang harus mengubah mindset,” kata Irvan Yasni (Corporate IT Director, PT Sinarmas Land) dalam ajang Virtus Showcase 2016 di Jakarta (16/8/2016). Irvan mencontohkan perusahaannya yang dulu suka punya data center sendiri, tetapi sekarang mengadopsi teknologi penyimpanan awan (cloud).

BSD (Bumi Serpong Damai) City di Tangerang Selatan pun menjadi contoh kerjasama Sinarmas Land dengan para disruptor. Apa sih yang dilakukan Sinarmas Land? “Bangun digital hub. Bangunan, lingkungan, masyarakat. Bukan sekadar gedung perkantoran, tetapi sains juga bisa share. Transportasi di dalam agak berbeda dengan normal,” ungkap Irvan sambil menyebutkan pihaknya sedang dalam tahap pembicaraan dengan Grab.

Sinarmas, kata Irvan, telah memetakan kota mandiri yang dibangunnya itu menjadi sebuah talent pool. “Ada cloud infrastructure. Tidak melakukan transformasi secara total, tapi memperkaya apa yang dilakukan. Mengubah proses bisis, juga bagian fiber backbone, menjadi infrastruktur. Tidak perlu ubah total. Tapi memperkaya beberapa komponen digital. Bukan sekadar bagian fisik, tapi ekosistem. Terapkan sensor-senor IoT (internet of things) untuk ke integrated, untuk mengatur trafik,” jelas Irvan. “Utility kalau dipakai bayar, kalau tidak dipakai tidak bayar,” tambahnya.

Irvan mengaku, Sinarmas Group tidak membangun semuanya sendiri. “Data center dikoneksikan ke global cloud player. Konsepnya single portal. Pelanggan bisa mencari tujuh kebutuhan pokok.” Aplikasi pun kerjasama dengan tantangan digital. Menurut studi Deloitte, perusahaan mengalami enam tantangan saat beralih ke arah digital, yakni banyak prioritas perusahaan yang saling bertentangan, faktor biaya, masalah keamanan, strategi yang lemah, minimnya respons terhadap perubahan dan peluang dan kurangnya kemampuan teknis.
BSD City, tutur Irvan, membangun ekosistem digital, digital hub tempat ekonomi bisa berbagi dengan TI (teknologi informasi), juga industri kreatif.  

Tanggapan Kamu

komentar