Wah, Gaji  Spesialis Data Sangat Menggiurkan

 

ki-ka: Stefani Sugiarto, Kate Dennis, Mariam kartikatresni, Dr. Wayne Brookes usai jumpa pers tentang peluang big data dan perkenalan program studi Data Engineering UTS  di Jakarta

ki-ka: Stefani Sugiarto, Kate Dennis, Mariam kartikatresni, Dr. Wayne Brookes usai jumpa pers tentang peluang big data dan perkenalan program studi Data Engineering UTS di Jakarta

JAKARTA, PCplus – Setiap hari kita semua menghasilkan data digital. Saat ber-email, bermain Twitter, FB, Instagram, WhatsApp, kita menghasilkan banyak data.  Di seluruh dunia, kata Dr Wayne Brookes Dr. Wayne Brookes selaku Deputy Head of School (Teaching & Learning), Computing and Communications University of Technology Sydney (UTS) Australia dalam jumpa pers di Jakarta (18/8/2016), tercipta 2.500.000.000.000.000.000 byte atau 2,5 quantillion byte.

Jumlah data setiap hari akan makin banyak karena tidak hanya dihasilkan oleh manusia tapi juga mesin-mesin yang terkoneksi ke Internet, alias IoT (Internet of Things). Makin hari, perangkat IoT pun makin banyak dan beragam. Maka, jumlah data terus bertambah dengan pesat.

Celakanya, pertumbuhan pesat data ini tidak diimbangi oleh pertumbuhan mereka yang ahli dan mampu mengolah data-data tersebut. Sebab data yang tidak diolah/dianalisis tidak ada gunanya, tidak bisa dimanfaatkan untuk membantu bisnis dan usaha.  

Karena itulah kata Kate Dennis (Corporate Communications Manager, UTS:INSEARCH), karier di big data saat ini menjadi karier yang paling menarik di seluruh dunia. “Bidangnya banyak. Jabatannya bisa disebut graphic designer, data engineer, data analyst, data communicator, cloud architect, dan lain-lain,” ucap Dennis.

Spesialis data, ucap Brookes, sangat dibutuhkan untuk membangun infrastruktur yang akan mendorong pengumpulan, transmisi, penyimpanan dan analisis big data. “Tidak hanya engineering, tapi juga ilmu-ilmu lain, seperti untuk e-tax, biometrics passport,” tambah Mariam Kartikatresni (Director, Indonesian Development, UTS:INSEARCH).

Gaji spesialis data ini, ungkap Dennis, sangat menjanjikan. “Di Australia, gaji awalnya untuk undergraduate 62.068 dolar Australia. Kalau postgraduate gaji awalnya 99.912 dolar Australia,” kata Dennis memberi gambaran.

Di Indonesia, menurut Dennis, big data masih dalam tahap pertumbuhan. Namun kata Mariam , peluangnya besar. “Yang sudah menggunakan perbankan, telekomunikasi. Kalau FMG (fast moving goods) belum banyak. Tapi peluangnya hanya sebatas kreativitas,” kata Mariam.

Mariam pun yakin ahli big data akan sangat dibutuhkan. Dalam kurun tiga tahun mendatang, IDC memprediksikan pendapatan global dari big data dan analisis bisnis akan tumbuh di atas 187 miliar dolar AS.

O ya, untuk menjadi spesialis data, kamu tidak harus mengambil jurusan teknik, tapi bisa jurusan lain. Menurut US Research, 28% spesialis data berasal dari program studi matematika dan statistik, 18% dari teknik, 17% dari ilmu komputer, 16% dari ilmu pengetahuan alam dan 7% -14% dari ilmu sosial, ekonomi dan bisnis.

Kalau kamu berminat menjadi spesialis data, UTS  yang berlokasi di Sydney, Australia ini akan membuka program studi Bachelor of Engineering (Data Engineering) tahun depan.


 

Tanggapan Kamu

komentar