CTI Gelar Diskusi untuk Bahas Dampak Tax Amnesty Bagi TI

c

PT Computrade Technology International (CTI Group), penyedia solusi infrastruktur teknologi informasi (TI), belum lama ini menyelenggarakan acara diskusi Golden Circle Club Meeting. Acara ini dihadiri puluhan eksekutif di bidang TI untuk membahas perkembangan amnesti pajak dan dampaknya terhadap industri TI.

Golden Circle Club Meeting merupakan forum diskusi tahunan yang diselenggarakan CTI Group bagi para mitra bisnisnya yaitu system integrator dan independent software vendor. Tujuannya, untuk melakukan sharing terhadap best practices dan edukasi akan berbagai tren bisnis dan teknologi terkini. Mengangkat tema “Tax Amnesty: Measuring Success and Impact for Business Growth in IT Sector”, acara ini juga menandai dua belas tahun berdirinya komunitas Golden Circle Club.

Golden Circle Club Meeting ke-12 ini menghadirkan narasumber dari berbagai kalangan, antara lain: Askolani (Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan), Josua Pardede (ekonom Bank Permata), Vita Andini (Senior Consultant Frost & Sullivan, serta Primus Dorimulu (Pemimpin Redaksi Berita Satu).

“Situasi perekonomian Indonesia saat ini memang kurang menggembirakan, salah satunya ditandai dengan turunnya nilai investasi. Untuk itu kami mengapresiasi upaya pemerintah dalam membangkitkan kembali roda perekonomian melalui program tax amnesty yang diharapkan dapat meningkatkan penerimaan negara dan gairah investasi. Melalui Golden Circle Club Meeting ini, kami berharap bisa saling berbagi insight dan mendapatkan pengetahuan dari para ahli yang hadir sebagai narasumber terkait sejauh mana keberhasilan program ini setelah diberlakukan selama lebih dari 3 bulan dan seberapa besar kontribusi TI di dalamnya,” ujar Harry Surjanto (Presiden Direktur CTI Group).

“Program tax amnesty secara tidak langsung akan mendorong tercapainya program pembangunan pemerintah di berbagai sektor industri, termasuk industri TI. Terlebih saat ini pemerintah berkomitmen untuk membawa Indonesia menjadi negara dengan tingkat konektivitas tertinggi sebagai bagian dari visi ekonomi digital dan juga tengah fokus mengelola berbagai isu di industri TIK. Dua program yang sudah mulai berjalan, seperti smart city yang ditargetkan rampung pada 2045 dan program 1.000 startup digital, diprediksi akan meningkatkan belanja TI di tahun mendatang,” ujar Vita Andini (Senior Consultant Frost & Sullivan).

Menurut siaran pers CTI, riset Frost & Sullivan mencatat bahwa pasar TI untuk segmen enterprise di Indonesia diperkirakan meningkat sebesar 108% dari hanya US$1,8 miliar pada tahun 2015 menjadi US$3,75 miliar pada 2020. Peningkatan tersebut akan mencakup layanan TI pada kategori data center, cloud, connectivity, dan managed services. Riset yang sama menyebutkan bahwa industri dengan belanja TI tertinggi ada pada sektor perbankan dan layanan keuangan, dan diikuti oleh telekomunikasi, manufaktur, dan pemerintahan.

Tanggapan Kamu

komentar