Urusan Big Data dan Analitik, Indonesia Unik

 

sudev-bangah-idcJAKARTA, PCplus – Big data dan analitik menjadi buah bibir di tanah air. Banyak perusahaan disebut bisa mendapatkan manfaat dari big data yang dimilikinya. Ini, kata Sudev Bangah (Country Manager, IDC Indonesia & Phillipines) dalam jumpa pers acara NetApp All-Flash Day di Jakarta (27/10/2016), ibarat mencari emas dalam tumpukan sampah.

Masalahnya pun tak berhenti saat emas ditemukan. Sebab agar bermanfaat emas (baca: data) itu harus diolah. Dan proses semuanya harus cepat. Sayang ungkap Bangah, perusahaan-perusahaan di Indonesia saat ini belum bisa menarik data dengan cepat.

Mengapa? Karena infrastruktur yang ada di perusahaan tidak siap. “Karena tidak dibangun dengan pikiran untuk 10 tahun ke depan. Padahal lanskap sekarang sudah berubah.Maka infrastruktur biasa harus bisa mendukung aspirasi CEO, untuk menciptakan bisnis baru, model bisnis yang bisa melibatkan kustomer,” jelas Bangah.

Menurut Bangah, di Indonesia aspirasi tentang big data, analitik masih di tahap awal. Memang perusahaan-perusahaan mulai beralih ke hybrid cloud. “Tapi mereka cuma ngomong tentang big data dan analitik. Padahal ini sebenarnya tentang konsolidasi data dan bagaimana memanfaatkannya.Perusahaan-perusahaan di Indonesia belum mengerti caranya (untuk menarik dan mengolah data dengan cepat). Mereka yang mau melakukannya tidak tahu data mana yang akan diambil. Selain itu biaya juga menjadi kendala,” kata Bangah. 

Bangah menyebutkan, Indonesia sebagai negara yang unik. CIO-nya berpikiran maju, sudah mau menuju big data dan analitik. Namun ada kesenjangan antara CEO dan CIO. Infrastruktur yang ada tidak mampu mendukung visi tersebut.

“Mereka tidak mau mengeluarkan uang untuk itu. Indonesia adalah negara dengan pengeluaran budget terendah untuk proyek transformasi di kawasan Asia Tenggara. Walaupun di sisi lain, para CEO-nya sangat mendukung. Faktanya pada Desember 2015, semua orang memotong budget mereka. Migas misalnya memotong budget mereka hingga 50 persen dan Manufaktur hingga 15 persen. Satu-satunya yang meningkat adalah ritel hingga 5 persen karena mereka menghadapi kompetisi besar dari e-commerce,” papar Bangah.

 

Tanggapan Kamu

komentar