Serangan Siber Dominasi Penyebab Hilangnya Data

b

Dalam Virtus Executive Gathering di Hotel Mulia Senayan Jakarta hari ini (Kamis, 3/11), terungkap beberapa fakta mengejutkan. Fakta-fakta ini antara lain serangan siber menjadi penyebab utama hilangnya data dan meningkatnya jenis ransomware.

Dalam event bertajuk “How to Survive the Modern Attack” ini, Virtus mengumpulkan sejumlah petinggi TI perusahaan di seluruh Indonesia untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan terkait tren TI terbaru, khususnya di bidang keamanan. Hadir antara lain Rudi Lumanto (Ketua Id-SIRTII), Adi Rusli (Senior Director and Country Manager VMware Indonesia), Dhanny Kurniawan (Country Manager Check Point Indonesia), dan Fransiskus Indromojo, CISSP (Senior Technology Consultant RSA Security).

Ransomware menjadi satu tipe malware yang mengalami peningkatan aktivitas di seluruh dunia termasuk juga diperkirakan di Indonesia. Tahun ini secara global sudah diketahui peningkatan sampai 200 jenis family ransomware yang ada. Di Indonesia, kasus ransomware diketahui secara sporadis karena tidak ada yang melaporkan secara resmi, tapi jumlahnya tahun ini diperkirakan sampai ribuan kasus. Sebuah perusahaan antivirus menyebutkan sehari ada 14 kasus ransomware di Indonesia. Jika seandainya setiap kasus ransomware saja tiap korban membayar rata rata USD1.000 maka total kerugian selama setahun bisa mencapai lebih dari Rp50 milyar, belum lagi dihitung kerugian waktu dan lain lainnya” ujar Rudi yang menjadi pembicara dalam event Virtus Executive Gathering ini.

Menurut Checkpoint Security Report 2016, sebanyak 82% dari perusahaan mengakses sebuah website yang berbahaya atau malicious, sebanyak 88% perusahaan mengalami insiden kehilangan data, dan sebanyak 89% perusahaan mengunduh malicious file. Pencurian data yang terjadi, menurut riset Ponemon Institute , menimbulkan kerugian hingga rata-rata US$4 juta per kejadian dengan rincian kerugian sekitar US$158 per data atau informasi rahasia yang dicuri. Sementara, faktor utama penyebab hilangnya data adalah serangan siber (48%), diikuti oleh kegagalan program dan sistem (27%), serta human error (25%).

Tanggapan Kamu

komentar