Inilah Sejumlah Tantangan Industri Fintech di Indonesia

CEO PT Dimo Pay Indonesia Brata Rafly memamparkan sejumlah tantangan industri fintech di tanah air

CEO PT Dimo Pay Indonesia Brata Rafly memamparkan sejumlah tantangan industri fintech di tanah air

JAKARTA, PCplus – Pemerintah saat ini sangat mendukung gerakan nasional non tunai (GNTT). Maklum sebagian besar penduduk negara kita, sekitar 115 juta, ternyata belum terjamah bank, alias tidak memiliki akses atau rekening bank.

Namun banyak di antara mereka yang punya smartphone dan akses Internet. Di tanah air kita, ada 72,7 juta pengguna aktif Internet, 74 juta pengguna aktif sosial media (sosmed) dan 308,2 juta koneksi mobile dengan 64 juta pengguna aktif sosmed di ponsel.

Tahun 2017, kata Brata Rafly (CEO, PT Dimo Pay Indonesia) dalam diskusi media di Jakarta (15/12/2016), diprediksi akan ada 120 juta pengguna smartphone dan 150 juta penduduk yang tidak punya akses ke bank, dengan 16 juta orang tidak memiliki kartu kredit.

Ini menjadi peluang besar bagi perusahaan fintech (financial technology) untuk menerbitkan uang elektronik (e-money) berbasis mobile. Tercatat ada lebih dari 120 perusahaan yang terdaftar di OJK (otoritas jasa keuangan). Ada yang produknya berupa kartu fisik, seperti BCA Flazz, Mandiri e-money, BRI Brizzi. Ada juga yang menempel di nomor smartphone seperti CIMB Niaga Rekening Ponsel, Indosat dompetku, Telkom t-money, Smartfren Uangku. Ada pula yang berlaku khusus untuk pembayaran tertentu, seperti GrabPay dan GoPay.

Potensi industri fintech, tutur Brata, memang besar sekali. “Peran fintech akan semakin luas di berbagai lini ekonomi dan akan terus diperlukan karena kapabilitasnya dalam melakukan berbagai inovasi yang cepat dan tanggap terhadap kebutuhan pasar,” katanya.

Menurut Brata, fintech akan menjadi salah satu tulang punggung utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia. “Dengan fintech, ekonomi bisa masuk ke semua lapisan masyarakat.” Khususnya di bidang mobile payment, jelas Brata, fintech memudahkan masyarakat bertransaksi secara aman dan mudah.

Namun agar bisa tumbuh pesat, kata Brata, pertama-tama tentu saja masyarakat harus diedukasi tentang manfaat fintech. Regulasi dari pemerintah pun harus jelas. Tantangan lain, biaya transaksi dengan fintech harus lebih murah dibandingkan transaksi konvensional di bank.

Selain itu, industri fintech tidak boleh bersifat eksklusif. “Tidak bisa eksklusif, (app) hanya (bisa) diakses smartphone tertentu,” tegas Brata.

Fintech, tambah Brata, juga tidak bisa bekerja sendirian. “Harus gandeng lembaga finansial, perbankan yang ada. (Men)jadi perpanjangan tangan untuk mengambil masyarakat yang tidak bisa dicakup (bank).”

Namun Brata mengingatkan para pemain e-money dari perbankan tidak jalan sendiri-sendiri dengan app dan para merchant yang eksklusif bagi nasabahnya. “Kalau bikin sendiri-sendiri tidak jalan karena akan closed loop. (Dimo) baru edukasi bank agar tidak closed loop karena (pasarnya) masih kecil,” jelasnya.

 

Brata menambahkan produknya, Pay by QR, bisa menyederhanakan app perbankan. “Antaroperasi. Sambung ke semua bank. Produknya hanya mendukung. Tidak bikin app sendiri yang bisa di-download. Ada di dalam app penerbit.”

Tanggapan Kamu

komentar