Bahaya 5G Bagi Operator Telekomunikasi Indonesia

Frekuensi yang dipakai untuk 5G

JAKARTA, PCplus – Berapa sih jumlah operator seluler di tanah air saat ini? Lebih dari jumlah jari di kedua tanganmu! “Sebelas,” ungkap Rudiantara (Menteri Komunikasi dan Informatika) dalam ajang Demo 5G Ericcson di Jakarta (3/4/2017).

Banyaknya operator ini membuat persaingan memperebutkan konsumen sangat ketat. Padahal konsumen tak pernah loyal. Mereka mudah saja berpindah ketika ada tawaran tarif yang lebih menarik. Karena itulah para operator harus kreatif menawarkan sesuatu yang baru 3G/2G mulai ditinggalkan karena dianggap tidak lagi mampu menghasilkan keuntungan besar bagi operator.

4G lalu digadang-gadang sebagai pengganti 2G/3G. Eh tapi menurut Thomas Jul (Presiden Direktur Ericsson South East Asia and Oceania), sebaiknya jaringan 5G juga disiapkan karena lebih berpotensi mendorong pertumbuhan pemasukan bagi operator. “5G sudah hadir. Tahun 2022 diperkirakan akan ada 550 juta pelanggan 5G di dunia,” kata Jul. “Ini adalah cara untuk berlanjut. Bukan revolusi, tapi bagaimana membuat sesuatu yang berbeda.”

Untuk Indonesia, pembangunan jaringan 5G disebutkan menteri komunikasi dan informatika Rudiantara sebagai bisa membuat jumlah operator seluler banyak berkurang. “Tahun 2020 bisa  ada maksimal lima operator. Sekarang ada yang bayar frequency fee tapi tidak pakai, ada yang bangun BTS (base transceiver station) tapi tidak bayar frequency fee. Operator (nanti) harus konsolidasi atau lisensinya dicabut!.”

Dijelaskan oleh Rudiantara, langkah ini perlu untuk menciptakan sustainability of economy. “Kita (pemerintah) mau ada pertumbuhan dua digit dari industri ini. Jadi harus ada creative policy agar industri berkembang, agar operator juga punya bargaining power.”

Tanggapan Kamu

komentar