Beberapa Startup Ini Akhirnya Tidak Mampu Bertahan

Dalam beberapa tahun belakangan ini, bisnis e-commerce di Indonesia berkembang cukup pesat. Setiap startup berlomba untuk menghadirkan layanan atau aneka solusi. Meskipun banyak startup yang sukses dan mendapatkan pendanaan yang cukup besar, ternyata banyak pula di antaranya yang terpaksa harus menutup layanannya karena berbagai hal. Tidak hanya e-commerce atau startup lokal, para pemain e-commerce dari luar negeri pun ikut merasakan sulitnya menjalani persaingan yang ada di tanah air. Siapa saja mereka? Berikut daftarnya:

HaloDiana

HaloDiana merupakan asisten virtual pribadi yang akan melakukan perintah yang diucapkan penggunanya melalui smartphone, seperti memesan makanan atau membeli tiket. Meskipun secara resmi diluncurkan pada November 2015 setelah layanan sejenisnya (yaitu YesBoss) dirilis, Ryan Gondokusumo (pendiri HaloDiana), mengatakan bahwa HaloDiana merupakan aplikasi asisten virtual pribadi pertama yang ada di Indonesia. Hal ini disebabkan karena layanan ini sudah ada sebelum YesBoss hadir. Namun, HaloDiana masih merupakan fitur tambahan dari situs Sribulancer. Karena banyak disukai, akhirnya layanan ini berdiri sendiri sejak November 2015. Namun demikian, nyatanya layanan ini hanya mampu bertahan selama lima bulan saja. Alasan penutupan layanan ini disebabkan karena pengelolanya tidak berhasil mendapatkan pendanaan eksternal untuk melakukan kegiatan operasional.

Shopious

Agak berbeda dengan penyebab tutupnya layanan e-commerce lainnya, Shopious mengakui bahwa penutupan layanan mereka bukan karena kekurangan pendanaan. Menurut pendiri Shopious, Aditya Herlambang, ada beberapa hal yang menjadi alasan Shopious menutup layanannya, di antaranya biaya marketing yang cukup tinggi. Selain itu, banyak para pedagang yang tidak menyetok barang yang dijual. Namun yang paling membuat Aditya kecewa adalah persaingan dunia startup di tanah air di mana persaingan lebih banyak mengandalkan pendanaan tinggi dan bukannya berdasarkan atas produk atau layanan yang baik.

Paraplou

Bergerak di bilang fashion, layanan yang semula bernama Vela Asia ini, tergolong salah satu pionir e-commerce di Indonesia. Sebelumnya, Paraplou dianggap cukup sukses membawa merek terkenal go online seperti Havaianas, Lee Cooper, Jack Nicklaus dan G2000. Namun, karena persaingan pasar yang cukup sengit, Paraplou mengalami kesulitan dalam mengembangkan usahanya. Berdiri sejak Januari 2011, Paraplou resmi ditutup pada 24 Oktober 2015. Manajemen Paraplou mengakui bahwa alasan penutupan layanan e-commerce ini disebabkan kesulitan mendapat sokongan dana. Namun sebenarnya, di awal tahun 2015, mereka mendapatkan pendanaan dari pemodal asal Singapura yaitu Majuven.

Valadoo

Sebagai salah satu pionir layanan travel online, Valadoo menutup layanannya pada 30 April 2015 setelah beroperasi selama lima tahun. Sempat mendapat pendanaan dari Wego senilai US$550 ribu, Valadoo dianggap tidak memiliki arah yang pasti serta perencanaan bisnis yang kurang matang. Hal ini diakui oleh salah satu pendirinya yaitu Jaka Wiradisuria. Guna mempertahankan eksistensinya, pada Agustus 2014, Valadoo melakukan merger dengan Burufly. Namun adanya perbedaan penggunaan teknologi di antara keduanya membuat pengimplementasian ini selalu tertunda.

Lamido Indonesia

Sejak kehadirannya pada September 2013, Lamido yang merupakan bagian dari perusahaan Rocket Internet mencoba untuk mengambil posisi sebagai pesaing Tokopedia dan Bukalapak. Fokus awal Lamido adalah menjadi platform online bagi merchant berskala kecil dan menengah di Indonesia. Namun aktivitas operasional Lamido mengalami kendala dari segi pendanaan. Padahal, Lamido telah berhasil meraih 25 ribu merchant dari seluruh Indonesia. Setelah penutupan layanan diumumkan pada Maret 2015, tim manajemen Lamido memilih untuk bergabung dengan Lazada. Begitu pula dengan para merchant yang secara bertahap bergabung ke Lazada Indonesia melalui proses yang sama seperti merchant lain yang ingin masuk ke Lazada.

Inapay

Layanan rekening bersama ini resmi berhenti beroperasi setelah berjalan sekitar empat tahun. Berdiri sejak 2011, layanan ini hadir guna membantu para penggunanya melakukan transaksi melalui rekening bersama. Tujuannya, agar dapat meminimalkan penipuan saat bertransaksi online. Padahal selama beroperasi, pengguna Inapay sudah mencapai 25 ribu orang. Inapay juga pernah mendapatkan pendanaan awal dari East Ventures dalam jumlah yang tidak disebutkan. Namun hal ini ternyata tidak cukup membuat Inapay bertahan. Ketika layanan payment gateway lain sudah berevolusi mengelola berbagai metode pembayaran, sistem escrow tidak lagi menjadi preferensi, terutama oleh merchant.

Sedapur

Terhitung mulai 1 Agustus 2013, Sedapur mengumumkan bahwa mereka menghentikan operasinya setelah selama dua tahun melayani para pencinta kuliner. Hal ini terbilang cukup mengejutkan mengingat Sedapur pernah mendapatkan penghargaan dari Nokia Entrepreneurship dan INAICTA di tahun 2011 untuk kategori e-business service. Sedapur merupakan situs yang menawarkan layanan pemesanan makanan dan bahan makanan secara online. Salah satu alasan ditutupnya layanan ini karena Sedapur terlalu fokus dalam menggandeng merchant dan bukannya kepada calon pembeli.

Tasterous

Sebagai startup yang menawarkan layanan rekomendasi restoran, Tasterous didukung oleh orang-orang yang berpengalaman di bidangnya masing-masing. Berdiri tahun 2011, Tasterous dipimpin oleh Ronald Ishak serta tim Tasterous yang terdiri mantan karyawan Urbanesia, engineer mobile berbakat Deche Pangestu, serta salah satu desainer UI/UX terbaik Richard Fang. Tasterous juga didukung oleh CEO Kaskus, Ken Dean Lawadinata dan CEO Urbanesia, Selina Limman sebagai penasihat dan shareholder. Namun karena pertumbuhan pengguna yang kurang memuaskan, Tasterous menghentikan seluruh kegiatan operasionalnya pada tahun 2012.

Tanggapan Kamu

komentar