Microsoft: Terapkan Budaya Kerja Baru, Kunci Sukses Transformasi Digital

Jakarta, PCplus. Perubahan kebiasaan pekerja di Indonesia telah mengubah kebutuhan bagi perusahaan untuk menumbuhkan budaya kerja baru dalam mencapai kesuksesan transformasi digital. Hal ini mengemuka menurut Studi Microsoft yang dipaparkan belum lama ini.

Menurut Microsoft, studi ini menemukan beberapa faktor yang memengaruhi budaya kerja di Indonesia saat ini:

  1. Naiknya jumlah pekerja mobile dan risiko keamanan yang muncul karenanya. Munculnya mobilitas dan proliferasi teknologi mobile dan komputasi awan telah memudahkan pekerja bekerja pada beberapa lokasi berbeda via berbagai perangkat. Faktanya, studi ini juga menemukan hanya sebanyak 15 persen responden yang menghabiskan seluruh waktu bekerjanya di dalam kantor, sedangkan 89 persen responden mengaku bekerja menggunakan smartphone. Hal ini meningkatkan tantangan keamanan bagi organisasi.
  1. Naiknya jumlah tim yang beragam. Studi ini juga menemukan bahwa sebanyak 40 persen pekerja di Indonesia telah bekerja pada lebih dari sepuluh tim yang berbeda dalam satu poin waktu. Hal ini membuat ketersediaan sudut pandang secara langsung serta perkakas untuk berkolaborasi menjadi sangat penting untuk dapat menyelesaikan pekerjaan.
  1. Kesenjangan dalam keterampilan digital karyawan, meskipun pemimpin telah bergerak untuk menyambut transformasi digital. Saat penggunaan teknologi baru sudah diadopsi pada berbagai sektor industri, penyebarannya tidak merata. Faktanya, sebanyak 62 persen responden merasa bahwa ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk menjembatani kesenjangan keterampilan digital di antara pada pekerja.

Microsoft menyatakan bahwa Studi Microsoft Asia Workplace 2020 ini dilakukan antara Februari hingga Maret 2017, melibatkan 4.175 responden di 14 negara di Asia. Empat belas negara ini adalah Australia, Tiongkok, Hong Kong, Indonesia, India, Jepang, Korea, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Taiwan, Thailand dan Vietnam.

Menurut Microsoft, seluruh responden harus sudah menghabiskan waktu paling sedikit 30 jam setiap minggunya untuk bekerja (fungsi full-time), atau paling sedikit 20 jam setiap minggunya untuk bekerja (fungsi part-time). Microsoft menambahkan bahwa studi ini melibatkan 312 responden dari Indonesia.

Microsoft menyatakan bahwa meskipun 90 persen pemimpin perusahaan di Indonesia mengakui perlunya transformasi perusahaan menjadi bisnis digital untuk dapat terus sukses, sumber daya manusia tetap menjadi pendorong utama transformasi digital.

Menurut Microsoft, saat ini, pekerja di lapangan/garis depan (firstline) menjadi pusat kontak pertama antara perusahaan dan dunia luar untuk berinteraksi dengan pelanggan. Mereka juga mewakili perusahaan atau merek, dan menjalankan produk serta layanannya.

Untuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh karyawan, organisasi perlu meningkatkan tenaga kerja mereka, khususnya para pekerja firstline, dengan menggarisbawahi nilai utama dari budaya kerja baru yaitu:

  1. Mengoptimalkan kreativitas karyawan

Kolaborasi memotori inovasi melalui penyaluran ide-ide dan memungkinkan fleksibilitas dalam cara masyarakat bekerja melalui sebuah pengalaman yang selalu terhubung, seraya bekerja tanpa hambatan menggunakan perangkat.

Bagaimanapun juga, studi ini menemukan bahwa kebanyakan responden merasa terbatas dalam cara mereka bekerja saat ini, dengan 76 persen responden menggarisbawahi bahwa mereka masih perlu hadir secara langsung di dalam kantor karena perkakas yang sering digunakan hanya tersedia di kantor.

  1. Memotori kerja dalam tim

Dengan memperlengkapi seluruh pekerja dengan sebuah perkakas (tool) universal yang memampukan kolaborasi, organisasi menawarkan karyawan dengan pilihan dan kepemilikan tentang bagaimana mereka bekerja sama dan berkolaborasi secara real-time.

Faktanya, menurut Microsoft, studi ini menemukan bahwa 56 persen responden menggarisbawahi akses teknologi untuk berkolaborasi dan memberikan respons dengan cepat dan akurat kepada permintaan internal dan eksternal sangatlah penting dalam pekerjaan mereka.

  1. Memperkuat keamanan

Saat ini, 78 persen responden bekerja menggunakan komputer yang disediakan oleh perusahaan mereka, namun 89 persen responden juga bekerja menggunakan smartphone pribadinya, yang meningkatkan risiko keamanan.

Faktanya, menurut Microsoft, 67 persen responden mengaku bahwa mereka mengecek e-mail pribadi menggunakan perangkat yang diberikan oleh perusahaan, untuk alasan kenyamanan. Oleh karena itu, pemimpin perusahaan perlu memperkuat sistem keamanannya agar tidak mengancam keselamatan data-data rahasia perusahaan.

Namun pada sisi yang lain, hal ini menurut Microsoft juga memberikan kemudahan bagi pekerja untuk bekerja tanpa halangan dan tidak menghambat produktivitas mereka.

  1. Membawa Kemudahan

Dengan naiknya risiko keamanan aplikasi, perangkat, layanan dan keamanan perusahaan, muncul kebutuhan untuk menyelaraskan pengelolan TI, menghilangkan eksklusivitas layanan yang memungkinkan penyatuan data dengan cara baru untuk meminimalkan kerumitan.

Faktanya, studi Microsoft Asia Pacific yang dilakukan terhadap para pemimpin TI 2 menemukan bahwa sebanyak 78 persen tenaga TI di Indonesia setuju bahwa kerumitan untuk mengelola portofolio keamanan TI saat ini perlu dikurangi.

Tanggapan Kamu

komentar