Jakarta, PCplus – Serangan DDoS Indonesia makin menggila. Menurut laporan Cloudflare kuartal II 2025, Indonesia menempati posisi pertama sebagai sumber utama serangan DDoS global. Serangan ini berasal dari node botnet, proksi, dan titik akhir VPN yang berlokasi di Indonesia.
Baca Juga: Delapan Efek DDoS yang Ditakuti Perusahaan
Jumlah serangan DDoS hiper-volumetrik meningkat drastis. Cloudflare mencatat lebih dari 6.500 serangan jenis ini, dengan rata-rata 71 serangan per hari. Serangan terbesar bahkan mencapai 7,3 Tbps dan 4,8 miliar paket per detik.
Meski jumlah total serangan menurun dibanding kuartal sebelumnya, intensitasnya justru meningkat. Serangan HTTP naik 9% dari Q1 dan melonjak 129% dibandingkan tahun lalu.
Juni jadi bulan paling sibuk, menyumbang 38% dari total aktivitas serangan. Sektor telekomunikasi, penyedia layanan, dan operator jadi target utama. Bahkan sektor pertanian ikut diserang, naik 38 peringkat ke posisi delapan.

Kenapa Indonesia Jadi Target dan Sumber Serangan DDoS?
Lonjakan serangan di Indonesia ini dipicu oleh lemahnya keamanan perangkat IoT dan server lokal. Banyak perangkat belum dilindungi dengan sistem keamanan yang memadai, sehingga mudah dijadikan bagian dari botnet.
Botnet seperti DemonBot dan Teeworlds digunakan untuk meluncurkan serangan dari perangkat yang terinfeksi. Serangan ini membanjiri server dengan trafik palsu, bikin layanan digital tumbang.
Selain itu, transformasi digital yang cepat di Indonesia juga jadi pemicu. Nilai ekonomi digital Indonesia yang besar menarik perhatian pelaku kejahatan siber.
Menurut Akamai, Indonesia menerima 260 miliar serangan DDoS layer 7 selama 2023–2024. Serangan ini menargetkan aplikasi langsung, bikin sistem lumpuh total.
Penting banget buat kamu yang punya website atau layanan digital untuk mulai memperkuat sistem keamanan. Jangan sampai jadi korban atau malah jadi sumber serangan.


