Category Archives: Adu Produk!

Kalau mau tahu siapa yang paling hebat antarproduk, cari tahu di sini.

7 Rekomendasi Laptop Terbaik Tahun Ini

Jakarta, PCplus – Tahun ini, industri laptop menyajikan sejumlah pilihan terbaik untuk pengguna dari berbagai kalangan. Dari para pekerja profesional yang memerlukan laptop bisnis yang kuat hingga para gamer yang mencari perangkat untuk menghadirkan dunia virtual yang mendalam, pasar laptop telah menampilkan berbagai inovasi menarik.

Baca Juga: 8 Laptop Pelajar Terbaik 2023

Pada artikel berikut, kita akan memilihkan beberapa opsi laptop terbaik yang telah mencuri perhatian kita pada tahun yang berjalan. Tidak semuanya model teranyar, namun semuanya beredar resmi dan tersedia di pasaran Indonesia. Masing-masing laptop kami rangkum spesifikasi unggulan dan fitur-fitur canggih yang mereka tawarkan. Apa saja?

Rekomendasi Laptop Terbaik Tahun Ini

1. Asus ZenBook S 13 OLED UM5302

Laptop yang satu ini merupakan salah satu laptop tertipis yang pernah dirilis Asus. Meski tipis, ia menawarkan performa yang sangat baik untuk tugas sehari-hari dan produktivitas. Sebagai gambaran, ia menggunakan prosesor AMD Ryzen 7-6800U yang dikombinasikan dengan grafis AMD Radeon yang mumpuni untuk kebutuhan multimedia sampai gaming ringan.

Dari sisi display, laptop berukuran layar 13,3 inci ini punya panel ASUS OLED dengan resolusi 2.8K. Tingkat kecerahan maksimalnya di 550 nits dengan kualitas warna 100% DCI-P3, PANTONE Validated dan mendukung sentuhan 10 jari serta stylus support. Anda yang berminat, laptop ini dipasarkan di harga Rp17.999.000. Sangat menarik untuk kenyamanan yang ditawarkan.

2. Lenovo ThinkPad X1 Carbon

Berikutnya, sebagai salah satu laptop terbaik dari Lenovo, ThinkPad X1 Carbon Gen 11 ini sudah menggunakan prosesor terbaru Intel yakni Core i7-1365U dengan grafis Intel Iris Xe Graphics. Ia ditemani RAM LPDDR5-6400 yang sudah terintegrasi dengan motherboard dan dilengkapi storage besar dan cepat yakni SSD M.2 PCIe 4.0 sebesar 1TB.

Layarnya 14 inci yang digunakan memang masih IPS, tetapi layar tersebut merupakan panel jenis low power dengan resolusi Full HD+ dan tingkat kecerahan maksimalnya di 400 nits dan punya ketajaman warna 100% sRGB. Tentunya ia juga punya desain dengan bahan berkualitas tinggi, keyboard ThinkPad yang terkenal dengan TrackPoint serta keamanan tingkat tinggi. Tertarik? Di e-commerce, harga Lenovo ThinkPad X1 Carbon ini dipasarkan di kisaran Rp33.650.000.

3. Asus ROG Zephyrus G14

Laptop ini merupakan laptop terbaik yang ringkas untuk gaming. Kenapa? Dimensinya sangat kompak yakni hanya 13,3 inci dan memiliki ketebalan 1,58cm saja. Artinya, dari sisi fisik, ia sudah menyerupai laptop ultrabook yang sangat ringkas. Ia juga memiliki engsel lipat sehingga laptop gaming tersebut bisa berfungsi menjadi tablet layar sentuh dan mendukung stylus.

Meskipun ringkas, Anda tidak perlu khawatir soal performanya. Prosesor bertenaga yakni AMD Ryzen 9 6900HS, RAM dual channel LPDDR5 16GB serta grafis Nvidia GeForce RTX 3050 4GB GDDR6 sudah tersedia di dalamnya. Ia juga ditemani oleh storage besar dan cepat berbasis NVMe PCIe 4.0 berkapasitas 1TB. Harganya? Rp17.999.000 saja untuk 1TB. Kalau ingin yang versi storage 512GB, harganya Rp16.499.000.

4. HP Spectre x360 14

Laptop terbaik dari HP yang satu ini merupakan laptop convertible, alias laptop yang bisa dilipat menjadi tablet layar sentuh. Ukurannya yang ringkas dengan bobot yang ringan yakni hanya 1,36Kg membuat laptop-tablet yang satu ini mudah dibawa ke mana-mana. Baterainya juga berukuran lumayan besar yakni 66WHrs dan bisa diisi ulang dengan charger USB Type-C.

Untuk menopang performa, laptop-tablet ini menggunakan prosesor Intel Core i7-1255U yang menawarkan performa baik dan hemat energi dibanding laptop terbaik terdahulu mereka. Untuk memori utama, RAM-nya memang biasa saja, yakni 16GB LPDDR4-4266MHz onboard. Namun untuk storage, kapasitasnya luar biasa yakni 2TB. Faktor istimewa lainnya, laptop ini juga sudah menggunakan layar OLED resolusi 3K. Harganya juga sangat menarik, di Rp23.549.000.

5. Acer Swift 3 OLED

Laptop tipis terbaik dari Acer ini merupakan laptop dengan prosesor kelas perfroma. Ya, Acer Swift 3 OLED sudah menggunakan prosesor Intel Core i7-12700H (Intel Evo Certified). Prosesor ini ditemani oleh Intel Iris Xe Graphics dengan dual channel memory LPDDR5 sebesar 16GB dan storage lega berkapasitas 1TB jenis SSD PCIe NVMe Gen4.

Sesuai namanya, ia juga sudah menggunakan panel layar OLED resolusi tinggi yakni 2.8K dengan refresh rate 90Hz serta response time 0,2 milidetik. Panel tersebut dilengkapi fitur OLED-Eyesafe serta sertifikasi TUV Rheinland. Contohnya, untuk pengalaman hiburan sinematik yang aman untuk mata. Harganya? Hanya Rp14.329.000 saja.

6. MSI Stealth 17 Studio

Produsen yang satu ini dikenal sebagai produsen yang identik dengan laptop gaming. Salah satu andalan terbarunya alias laptop terbaik MSI yang beredar di pasaran Indonesia adalah MSI Stealth 17 Studio. Laptop gaming yang satu ini bukan kaleng-kaleng. Prosesornya Intel Core i9-13900H dengan grafis monster, Nvidia RTX4090 16GB.

Layar laptop ini juga besar, berukuran 17,3 inci dengan resolusi Ultra HD 4K 3840×2160 pixel. Layar berbasis teknologi IPS-Level Mini LED tersebut memiliki refresh rate 144Hz untuk menghadirkan pengalaman gaming yang memuaskan. Jangan khawatir cepat kehabisan storage saat menginstalasikan banyak game-game AAA. Pasalnya, laptop ini punya storage raksasa, berkapasitas 2TB NVMe SSD PCIe Gen4. Harganya? Rp60.499.000. Harga yang pantas untuk apa yang ditawarkan.

7. Advan Soulmate

Tidak lengkap rasanya kalau kita tidak membahas laptop terbaik yang paling terjangkau. Ya, untuk urusan yang satu ini, produsen yang jadi juara adalah produsen terkemuka dalam negeri yakni Advan dengan seri laptop Soulmate mereka.

Ya, dengan harga Rp2.249.000 saja, Advan menawarkan sebuah laptop baru dengan prosesor Intel N4020 dengan RAM 4GB DDR4 serta storage 128GB yang bisa di-upgrade. Laptop 14 inci yang menggunakan resolusi HD ini memiliki kelebihan utama pada kamera web resolusi 2MP yang sangat optimal untuk melakukan video converence dan pembelajaran jarak jauh. Cocok untuk target market mereka yakni pelajar sekolah.

Nah, dari 7 pilihan rekomendasi laptop terbaik tahun ini yang kami rangkum di atas, mana yang menurut Anda terbaik? Atau Anda punya preferensi lain untuk laptop terbaik tahun ini?

Perbandingan 3 Smartphone Mainstream Terpopuler

Peta persaingan pasar smartphone di Indonesia semakin dahsyat. Tiga pemain utama di bisnis ini, yakni Samsung, Oppo dan ASUS terus menghadirkan varian terbaru mereka yang ditujukan untuk menjaga loyalitas pengguna sekaligus merebut perhatian pengguna brand kompetitor. Termasuk di segmen mainstream, segmen yang paling panas persaingannya.

Sebagai contoh, pertengahan kuartal ketiga tahun lalu, Oppo merilis varian F1 series yakni F1s yang mengandalkan kamera depan berukuran 16MP. Smartphone 5,5 inci dengan RAM 3GB tersebut menggunakan prosesor octa core dan dipasarkan di harga yang relatif terjangkau, yakni di kisaran 3,8 juta.

Hanya beberapa saat berselang, Samsung juga menghadirkan smartphone Galaxy J series Prime ke pasaran Indonesia. Galaxy J7 Prime, varian andalannya, merupakan yang paling menarik karena dipasarkan di harga yang relatif terjangkau, yakni sekitar Rp3,8 juta. Smartphone ini mengandalkan desain premium, kamera yang lebih baik, dan kapasitas baterai yang ditingkatkan.

Tak ingin ketinggalan, ASUS menghadirkan varian Zenfone 3 Max ke pasaran Indonesia. Dan baru-baru ini, produsen asal Taiwan tersebut melakukan refresh dan meluncurkan Zenfone 3 Max ZC553KL yang jelas-jelas membidik sasaran untuk bertarung dengan Oppo F1s dan Samsung Galaxy J7 Prime di segmen mainstream karena menawarkan spesifikasi setara dan masuk di range harga yang serupa.

Tentunya sangat menarik untuk membandingkan seperti apa kemampuan smartphone terbaru ASUS tersebut dengan kedua produk sekelas dari dua kompetitor utamanya. Baik dari sisi performa, fitur kamera, serta tentunya daya tahan baterai yang disebut-sebut telah ditingkatkan itu.


Desain
Seperti sudah disebutkan di atas, ASUS memang sengaja menembak sasaran tiga kompetitornya yang sudah hadir lebih dulu di segmen mainstream dari berbagai aspek, termasuk desain. Sebagai contoh, di bagian depan, Zenfone 3 Max menggunakan lapisan kaca berkontur 2.D sama seperti F1s dan Galaxy J7 Prime. Penggunaan kontur 2.5D, selain mempercantik penampilan, juga membuat perangkat semakin nyaman saat digenggam tangan karena menghilangkan sudut yang lancip.

Di bagian belakang, Zenfone 3 Max juga menggunakan desain unibody berbahan aluminium metalic. Pemilihan bahan aluminium selain membuat perangkat tersebut tampak lebih premium, tidak terlihat murahan seperti penggunaan bahan plastik, juga meningkatkan daya tahan perangkat dari goresan ataupun saat terbentur.

Ketiga smartphone sekelas ini juga sama-sama masih memanfaatkan konektor micro USB biasa untuk pengisian ulang ataupun transfer data. Dua kesamaan desain dari Zenfone 3 Max dan F1s adalah penempatan speaker grill di bagian bawah. Adapun dua kesamaan F1s dengan Galaxy J7 Prime adalah penempatan audio jack di bagian bawah, sementara Zenfone 3 Max meletakkannya di bagian atas.

Untuk konektivitas dan penyimpanan data tambahan Zenfone 3 menyediakan slot SIM card hybrid (kombinasi Micro SIM-Nano SIM atau Micro SIM-MicroSD). Adapun F1s menyediakan dua slot Nano SIM dan MicroSD, sementara Galaxy J7 Prime menyediakan dua buah tray yakni tray untuk Nano SIM dan tray lainnya untuk Nano SIM dan MicroSD. Ketiganya mendukung tambahan kapasitas hingga 256GB.

Spesifikasi dan Kinerja
Ketiga smartphone yang dipasarkan di kisaran harga Rp3 sampai 3,7 jutaan ini hadir dengan prosesor octa-core berbeda namun menggunakan basis arsitektur yang sama, yakni ARM Cortex A53 meski menggunakan chip grafis yang bereda. Jika Galaxy J7 Prime diperkuat oleh prosesor buatan Samsung yakni Exynos 7870 berkecepatan 1,6GHz, F1s diperkuat prosesor Mediatek MTK7650 berkecepatan 1,5GHz. Adapun Zenfone 3 Max menggunakan chip dari Qualcomm Snapdragon 430 berkecepatan 1,4GHz.

Dari sisi grafis, Oppo F1s menggunakan GPU dari Mali varian T860MP2 sementara Samsung Galaxy J7 Prime memilih varian Mali-T830MP2. ASUS sendiri hadir dengan GPU yang cukup bertenaga yakni Adreno 505.

Untuk menopang performa CPU dan GPU, ketiga smartphone membenamkan RAM sebesar 3GB dan berjalan di sistem operasi Android 6.0.1 Marshmallow. Oppo F1s sendiri masih memanfaatkan sistem operasi terdahulu yakni Android 5.1 Lollipop. Semuanya diinstalasikan pada media penyimpanan internal sebesar 32GB.

Untuk mengetahui sejauh apa selisih perbandingan performa ketiga smartphone dan juga performanya saat menjalankan aplikasi secara multitasking, berikut ini hasil pengukurannya dengan menggunakan aplikasi benchmark 3D Mark, AnTuTu dan PC Mark.

Dari sisi performa grafis, utamanya saat bermain game-game 3D, prosesor Qualcomm Snapdragon 430 yang terdapat pada ASUS Zenfone 3 Max ZC553KL menawarkan performa yang sangat signifikan dibandingkan dengan Mediatek MTK7650 dan Samsung Exynos 7870 yang digunakan oleh Oppo F1s dan Samsung Galaxy J7 Prime.

Menggunakan aplikasi benchmark AnTuTu, performa MTK7650 dan Exynos 7870 tampak setara, namun lagi-lagi Snapdragon 430 mampu menawarkan performa yang lebih baik.

Pada aplikasi PC Mark, yang melakukan simulasi penggunaan smartphone dengan berbagai aplikasi kerja sehari-hari (real world application) secara multitasking, terlihat kinerja ASUS Zenfone 3 ZC553KL dan Samsung Galaxy J7 Prime tampak berimbang, namun Zenfone 3 ZC553KL sedikit lebih unggul. Adapun performa Mediatek MTK7650 pada Oppo F1s tampak sedikit tertinggal.

Kamera
Dari sisi kamera, ada perbedaan besaran resolusi kamera di antara ketiganya. Kamera belakang ASUS Zenfone 3 Max menawarkan resolusi paling besar yakni 16MP. Adapun Samsung J7 Prime dan Oppo F1s menyediakan kamera 13MP. Sementara untuk kamera depan, Oppo F1s menawarkan resolusi 16MP. Cocok untuk pengguna yang gemar melakukan selfie. Sementara itu F1s dan Zenfone 3 Max punya 8MP.

Yang menarik adalah, pada kamera Zenfone 3 Max, ASUS sudah menambahkan tiga fitur fokus di dalamnya. Ada laser autofocus yang mampu mendeteksi objek dan mendapatkan fokus dengan sangat cepat, hanya 0,03 detik. Ada juga Phase Detection Auto Focus yang sangat bermanfaat untuk memotret dalam kondisi pencahayaan kurang. Tak hanya itu, ada juga Continuous Auto Focus yang dapat terus menerus mendapatkan fokus meski objek foto terus bergerak.

Dari sisi modus pemotretan, ASUS menyediakan 12 pilihan modus pemotretan menggunakan kamera belakang dan 7 opsi pemotretan menggunakan kamera depan. Adapun untuk Samsung, terdapat 9 opsi pemotretan menggunakan kamera belakang dan 3 opsi pemotretan dengan kamera depan. Pada Oppo, baik menggunakan kamera depan ataupun kamera belakang, hanya ada 4 opsi yang bisa dipilih.

Berikut ini contoh foto-foto yang diambil menggunakan ASUS Zenfone 3 Max ZC553KL, Samsung Galaxy J7 Prime dan Oppo F1s dengan modus auto, pengambilan foto dalam kondisi pencahayaan kurang, dan menggunakan modus Super Resolution ataupun Ultra-HD.

Dalam kondisi pencahayaan cukup dengan modus pemotretan auto, hasil foto Zenfone 3 Max ZC553KL tampak natural namun lebih gelap. Pada Oppo F1s, warna tampak lebih terang, namun pada Samsung Galaxy J7 Prime, warna jauh lebih terang namun sedikit over dibandingkan dengan warna aslinya.

Dalam kondisi low light, ASUS Zenfone 3 Max ZC553KL masih mampu menemukan objek foto dan mengambil gambar dengan jelas. Pada kondisi yang sama, Samsung Galaxy J7 Prime juga masih dapat mengambil objek foto meski dengan detail yang sudah mulai tidak nampak. Adapun Oppo F1s sudah cukup kesulitan untuk mengambil foto objek.

Masa Aktif Baterai
Bagi pengguna smartphone, kehabisan baterai di saat yang sangat genting, merupakan masalah klasik. Inilah penyebab banyaknya produsen yang saat ini bersaing di pasar powerbank atau baterai cadangan. Di antara tiga smartphone terkini dari ketiga produsen smartphone terbesar itu, ASUS dengan Zenfone 3 Max menawarkan kelebihan dari sisi baterai. Sebuah baterai lithium-ion sebesar 4.100mAh tersimpan di dalamnya. Baterai sebesar ini bisa digunakan untuk memutar musik hingga 72 jam, bicara non stop selama 17 jam, atau menjelajah internet selama 19 jam.

Yang lebih menarik, ASUS Zenfone 3 Max juga didesain untuk menjadi sebuah powerbank bagi gadget lain lewat kabel OTG yang disediakan. Pengguna juga tidak perlu khawatir kehabisan daya karena secara otomatis, software akan menghentikan pasokan daya bagi perangkat lain jika baterai Zenfone 3 Max hanya tersisa 30 persen.

Dari pengujian dengan memutar film FullHD dengan durasi sekitar 1,5 jam lalu bermain game Stone Age Begins selama kurang lebih 1 jam, baterai pada ASUS Zenfone 3 Max ZC553KL masih tersisa 69%, sementara baterai pada Oppo F1s tersisa 33% dan pada Samsung Galaxy J7 Prime, baterai tersisa 63%.

Kesimpulan
Melihat hasil percobaan sederhana di atas, dari ketiga smartphone andalan dari tiga produsen smartphone terbesar di Indonesia tersebut, tampak ASUS Zenfone 3 Max ZC553KL merupakan pilihan yang lebih baik. Kinerja yang ditawarkan lebih mumpuni, fitur dan kemampuan kamera utama juga lebih mumpuni untuk mengambil objek-objek foto dan performa baterainya juga yang terkuat.

Hadir dengan spesifikasi setara dengan perangkat-perangkat pesaingnya, ASUS Zenfone 3 Max ZC553KL juga dipasarkan di harga yang cukup jauh lebih terjangkau. Artinya, kalau smartphone mainstream bertenaga dan serba bisa yang Anda cari, Zenfone 3 Max ZC553KL merupakan salah satu pilihan yang paling tepat.

Perbandingan 3 Smartphone Mainstream Terpopuler

Membandingkan Asus Zenfone 3 ZE552KL dengan Samsung Galaxy A7 2016

[section_title title=Membandingkan Asus Zenfone 3 ZE552KL dengan Samsung Galaxy A7 2016]
PCplus – Bulan September 2016 silam, Asus secara resmi memperkenalkan lini baru smartphonenya, yaitu keluarga Zenfone 3. Pada acara tersebut, Asus memperkenalkan keluarga Zenfone 3, yaitu Zenfone 3, Zenfone 3 Ultra, Zenfone 3 Deluxe, serta beberapa varian lainnya.

Sebelumnya, PCplus pernah menguji Asus Zenfone 3 yang bisa kamu baca di link ini. Nah, Zenfone 3 sebenarnya terdiri dari dua varian utama. Yang satu ZE520KL yang berlayar 5,2 inci yang telah PCplus uji, serta yang satu lagi ZE552KL yang memiliki layar 5,5 inci.

Memiliki layar berdiagonal 5,5 inci, Asus Zenfone 3 ZE552KL ini terasa lebih cocok menjadi penerus Zenfone 2 ZE551ML yang punya ukuran layar yang sama.

Munculnya Asus Zenfone 3 ZE552KL ini meramaikan pasar smartphone atau phablet dengan layar 5,5 inci yang cukup ramai dengan berbagai pilihan dari kompetitor. Di segmen ini, salah satu persaing terkuatnya adalah Samsung Galaxy A7 2016. Smartphone besutan Samsung tersebut memiliki tampilan serta dimensi yang mirip dengan Zenfone 3 ZE552KL. Apalagi harga keduanya juga berdekatan.

Nah kali ini, PCplus akan mencoba membandingkan Asus Zenfone 3 ZE552KL dan Samsung Galaxy A7 2016. PCplus akan membandingkan dua smartphone yang saling bersaing ini dari berbagai aspek, mulai dari desain, spesifikasi, fitur, hingga kinerjanya.

Intel Core i7-5960X: Dengan Tambahan Dua Core

[section_title title=Intel Core i7-5960X: Tambahan Core]

 

IntelCore-i7-5960X
(Foto: Brama)

Meski Intel sudah mulai menawarkan Broadwell sebagai prosesor kelas mainstream untuk desktop, tidak demikian halnya dengan kelas high end. Sampai saat ini prosesor high end Intel untuk desktop masihlah Haswell-E. Prosesor untuk high end ini memang pembaruannya biasanya dilakukan Intel belakangan. Adapun varian tertinggi dari prosesor Intel kelas high end untuk desktop ini adalah Core i7-5960X.

Dibandingkan Intel Core i7-4960X yang merupakan flagship sebelumnya, Intel Core i7-5960X menawarkan tambahan dua core dan menggunakan arsitektur baru yang disebut Haswell-E, tidak lagi Ivy Bridge-E. Menilik hasil perbandingan yang pernah PCplus lakukan antara Intel Haswell dengan Intel Ivy Bridge yang bisa dilihat di sini, peningkatan kinerja yang ditawarkan arsitektur baru milik Intel Haswell sering kali tidak signifikan. Namun, tambahan dua core menjadi delapan seharusnya menawarkan tambahan kinerja yang signifikan pada aplikasi yang bisa memanfaatkannya.

Intel Core i7-5960X memiliki 8 core dengan Hyper-Threading dan frekuensi kerja 3 GHz (Turbo Boost sampai 3,5 GHz). Dengan tambahan dua core ini, Intel Core i7-5960X menjadi memiliki TDP 140 W, sedikit lebih tinggi dari Intel Core i7-4960X yang memiliki TDP 130 W. Oh ya, Intel Core i7-4960X memang hanya memiliki 6 core dengan Hyper-Threading, namun frekunesi kerjanya lebih tinggi di 3,6 GHz (Turbo Boost sampai 4 GHz).

Untuk soketnya, meski masih menggunakan LGA2011, namun LGA2011-nya merupakan varian baru. LGA2011-v3 ini tidak kompatibel dengan LGA2011 sebelumnya yang digunakan Intel Core i7-4960X. Dengan kata lain, Intel Core i7-5960X butuh chipset dan motherboard baru. Kebutuhan komponen pendukung baru ini antara lain disebabkan digunakannya DDR4 sebagai memori utamanya, tidak lagi DDR3 seperti pada Intel Core i7-4960X. Chipset untuk Haswell-E ini diberi nama Intel X99.

 

FX 9590: Flagship AMD dengan 5GHz

[section_title title=AMD FX 9590: Prosesor 5GHz]

 

FX-9590-4

Meski sudah hadir cukup lama, sampai saat ini, prosesor desktop yang menjadi flagship dari AMD adalah FX 9590. Meski pada awalnya bukan untuk retail, AMD belakangan telah menawarkan FX 9590 ini untuk retail. Kamu yang ingin membangun PC desktop sendiri, kini bisa memilih AMD FX 9590 tersebut sebagai prosesornya.

Dua karakteristik dari AMD FX 9590 yang menjadi ciri khasnya adalah frekuensi kerjanya yang tinggi dan TDP-nya yang besar. Prosesor delapan core ini memiliki frekuensi kerja 4,7GHz yang bisa mencapai 5GHz dalam kondisi tertentu. Bandingkan dengan AMD FX 8350 yang memiliki frekuensi kerja 4GHz dan bisa mencapai 4,2GHz dalam kondisi tertentu. Sementara, TDP dari AMD FX 9590 mencapai 220W, naik dari 125W milik AMD FX 8350. Secara arsitektur, AMD FX 9590 tetaplah menggunakan Piledriver seperti halnya AMD FX 8350. Dengan kata lain tambahan kinerja yang diperoleh AMD FX 9590 utamanya datang dari frekuensi kerjanya yang lebih tinggi.

Nah, lalu bagaimana bila dibandingkan dengan prosesor desktop mainstream kelas atas dari Intel? Bisakah prosesor AMD dengan frekuensi kerja tingginya itu menawarkan kinerja secara keseluruhan lebih baik? Untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan ini, setidaknya pada aplikasi uji yang biasa PCplus gunakan, dilakukanlah pengujian terhadap AMD FX 9590 dan Intel Core i7-4770K. Hasilnya kemudian tentu saja dibandingkan. Oh ya, Intel Core i7-4770K merupakan prosesor dengan empat core yang dilengkapi Hyper-Threading. Ia punya frekuensi kerja 3,5GHz yang bisa mencapai 3,9GHz pada kondisi tertentu.

 

Intel Core i7-4790K: Tambahan 500MHz

[section_title title=Intel Core i7-4790K]

 

i7-4790K-2

Sampai saat ini, prosesor kelas mainstream Intel untuk desktop masih yang disebut dengan generasi keempat Intel Core. Varian tertingginya adalah Intel Core i7-4790K yang mengusung codename Devil’s Canyon. Perbedaan utamanya dengan flagship sebelumnya, Intel Core i7-4770K yang mengusung codename Haswell adalah pada frekuensi kerjanya yang lebih tinggi.

Meski sama-sama generasi keempat, Intel Core i7-4790K memiliki fitur yang membolehkannya memiliki frekuensi kerja default yang lebih tinggi seperti penggunaan penghantar panas yang lebih baik. Selain itu, Intel Core i7-4790K juga menambahkan dukungan Intel Virtualization Technology for Directed I/O (VT-d) dan Intel Transactional Synchronization Extensions New Instructions (TSX-NI). Namun, kedua fitur yang disebut terakhir ini hanya untuk keperluan tertentu. Bukan untuk berbagai kegiatan penggunaan PC yang umum sehari-hari termasuk bermain game.

Frekuensi kerja default lebih tinggi yang ditawarkan Intel Core i7-4790K adalah sebanyak 500MHz. Ia memiliki frekuensi kerja sebesar 4GHz yang bisa mencapai 4,4GHz dengan Turbo Boost dan memiliki TDP 88W. Sementara, Intel Core i7-4770K memiliki frekuensi kerja 3,5GHz yang bisa mencapai 3,9GHz dengan Turbo Boost dan memiliki 84W.

Untuk soketnya sendiri, Intel Core i7-4790K masih menggunakan LGA1150. Selain motherboard yang menggunakan chipset mainstream terkini Intel untuk desktop, Z97, motherboard lain yang menggunakan soket LGA1150 pun umumnya mendukung varian tertinggi Intel Devil’s Canyon ini.

Enam Motherboard Z87 Express Pilihan

[section_title title=Enam Motherboard Z87 Express Pilihan]

 

8_Series_chipset_front

 

Prosesor mainstream terkini untuk desktop dari Intel adalah yang memiliki codename Haswell. Intel Haswell ini butuh soket baru, LGA1150, bukan lagi LGA1155 seperti generasi sebelumnya. Sejalan dengan soket baru itu, Intel juga menawarkan sejumlah chipset baru. Chipset yang menjadi varian tertinggi dan menawarkan overclock penuh terhadap prosesor seri K adalah Intel Z87 Express. Selain soket baru, pengganti Intel Z77 Express ─ flagship mainstream sebelumnya ─ itu juga menawarkan beberapa fitur baru.

Fitur baru yang paling menonjol adalah Flexible I/O yang memungkinkan pembuat motherboard untuk mengonfigurasi jumlah maksimal PCI-Express 2.0, USB 3.0, dan SATA 6Gbps sesuai kebutuhan. Jumlah maksimal PCI-Express 2.0 bisa 6 atau 8 lajur, USB 3.0 bisa 4 atau 6 port, dan SATA 6Gbps bisa 4 atau 6 kanal, namun tidak bisa ketiganya mendapatkan jumlah terbanyak. Dengan kata lain, kombinasi seperti 6 lajur PCI-Express 2.0, 6 port USB 3.0, dan 6 kanal SATA 6Gbps atau 8 lajur PCI-Express 2.0, 4 port USB 3.0, dan 6 kanal SATA 6Gbps dimungkinkan, tetapi tidak dengan 8 lajur PCI-Express 2.0, 6 port USB 3.0, dan 6 kanal SATA 6Gbps. Sebelumnya, Intel Z77 Express menawarkan jumlah maksimal PCI-Express 2.0, USB 3.0, dan SATA yang tetap, yakni 8 lajur, 4 port, dan 6 kanal.

 

FlexIO-K
Fitur baru dari Intel Z87 Express: Flexible I/O

 

Selain Flexible I/O, Intel Z87 Express juga telah menawarkan SATA yang seluruhnya mendukung 6Gbps. Intel Z77 Express hanya menawarkan 2 kanal SATA 6Gbps, sementara 4 sisanya 3Gbps.

 

Z87_diagram_k
Block Diagram Intel Z87 Express

 

Berbagai produsen motherboard telah menawarkan produk dengan Intel Z87 Express ini. Enam dari motherboard itu telah hadir di PCplus dan seluruhnya mendukung Intel Haswell sampai varian tertingginya, Intel Core i7-4770K. Namun, sebelum PCplus bahas satu persatu, kita lihat terlebih dahulu kinerja dari setiap motherboard tersebut.

Pengujiannya sendiri menggunakan bantuan Intel Core i7-4770K (SpeedStep dan Turbo Boost aktif), Kingston DDR3-1600 4GB (10-10-11-28-1T) x2, Asus EAH6850 DC/2DIS/1GD5, Kingston HyperX 240GB, Samsung DVD-Writer, SilverStone SST-ST75ZF, dan LG E2250V. Sistem operasi yang digunakan adalah Windows 7 Ultimate 64bit SP1 yang telah dilengkapi dengan Intel Inf 9.4.0.10.17,  DirectX Juni 2010, AMD Catalyst 13.4, Realtek HD CODEC Driver R2.71, dan sejumlah software pendukung lainnya.

Hasil lengkapnya bisa dilihat berikut ini.

 

AMD Radeon HD 7790: Kartu Grafis Mainstream Tangguh

[section_title title=AMD Radeon HD 7790]

 

AduNovember-AMDRadeonHD7790-Dalam

 

Banyaknya seri yang dihadirkan oleh produsen kartu grafis memang bisa jadi membingungkan bagi sebagian orang. Apalagi dengan nama yang mirip dan perbedaan yang tidak banyak membuat orang semakin bertanya-tanya. Hal inilah yang perlu diketahui sehingga kamu tetap bisa mencari kartu grafis yang ideal dan cocok bagi kebutuhan, dan tentu saja sesuai dengan dana yang dimiliki.

Kali ini PCplus akan membahas kartu grafis AMD Radeon HD 7790 yang sebenarnya sudah cukup lama hadir di tanah air melalui berbagai merek terkemuka. AMD Radeon HD 7790 dihadirkan guna memperkecil jarak antara dua kartu grafis AMD yang telah hadir sebelumnya yaitu Radeon HD 7770 GHz Edition dan Radeon HD 7850, tidak hanya dari spesifikasi dan kinerjanya, tetapi juga dari sisi harga.

AMD Radeon HD 7790 dipersenjatai dengan core yang memiliki nama Bonaire XT dan masih menggunakan fabrikasi 28nm. Menggunakan arsitektur yang sama dengan AMD Radeon HD 7xxx lainnya yaitu Graphics Core Next (GCN), ia dilengkapi dengan 896 stream processor yang dipadu dengan 56 texture unit serta 16 ROP. Hal inilah yang membuat AMD mengklaim bahwa kinerja yang dihasilkan bakal lebih tinggi sampai 20% dibanding seri di bawahnya, AMD Radeon HD 7770 GHz Edition. Dibandingkan AMD Radeon HD 7850, AMD Radeon HD 7790 memiliki pengurangan dari sisi spesifikasi (lihat Tabel 1). Hal ini disesuaikan dengan posisinya yang berada di bawah AMD Radeon HD 7850. Namun, kartu grafis ini masih mengusung berbagai fitur andalan yang sama seperti CrossFireX, Eyefinity 2.0, HD3D, PowerTune, dan ZeroCore.

AMD Radeon HD 7790 juga dihadirkan untuk menantang Nvidia GeForce GTX 650 Ti yang menyasar segmen mainstream dan bermain di kisaran harga yang sama. Jika menilik dari sisi harga, di awal kehadirannya, Nvidia GeForce GTX 650 Ti ditawarkan dengan harga antara US$100 sampai US$150. Untuk AMD Radeon HD 7790 sendiri ditawarkan pada kisaran US$150.

 

Tabel 1: Perbandingan Spesifikasi

Kartu grafis

AMD Radeon HD 7750

AMD Radeon HD 7770 GHz Edition

AMD Radeon HD 7790

AMD Radeon HD 7850

Nama Kode

Cape Verde Pro

Cape Verde XT

Bonaire XT

Pitcairn Pro

Proses Fabrikasi

28 nm

28 nm

28 nm

28 nm

Ukuran Die

123 mm2

123 mm2

160 mm2

212 mm2

Jumlah Transistor

1,5 milyar

1,5 milyar

2,08 milyar

2,8 milyar

Stream Processor

512

640

896

1024

Arsitektur

GCN

GCN

GCN

GCN

GPU Clock

800 MHz

1000 MHz

1000 MHz

860 MHz

Memory Clock (efektif)

4500 MHz

4500 MHz

6000 MHz

4800 MHz

Tipe Memori

GDDR5

GDDR5

GDDR5

GDDR5

Kapasitas Memori

1024 MB

1024 MB

1024 MB

2048 MB

Lebar Jalur Memori

128 bit

128 bit

128 bit

256 bit

Kecepatan Memori

72 GB/detik

72 GB/detik

96 GB/detik

153,6 GB/detik

Dukungan Slot Grafis

PCI-E 3.0 x16

PCI-E 3.0 x16

PCI-E 3.0 x16

PCI-E 3.0 x16

Dukungan DirectX

11.1

11.1

11.1

11.1

Dukungan OpenGL

4.2

4.2

4.2

4.2

Konektor Daya

6 pin

6 pin

6 pin

Konsumsi Daya

55 watt

80 watt

85 watt

130 watt

Daya AMD ZeroCore

<3 watt

<3 watt

<3 watt

 <3 watt

Daya PSU (minimal)

450 watt

450 watt

450 watt

500 watt

 

Untuk melihat sejauh mana perbandingan dari sisi kinerja, berikut PCplus sertakan pengujian AMD Radeon HD 7790 beserta hasilnya. Sebagai pembanding disertakan kartu grafis AMD Radeon HD 7750, AMD Radeon HD 7770 GHz Edition, AMD Radeon HD 7850, dan dari kompetitor yakni Nvidia GeForce GTX 650 Ti.

 

Richland dan DDR3-2133: Tambahan Bandwidth

[section_title title=AMD A10-6800K Dukung DDR3-2133]

 

52902A_AMD_A10_Embroidery

 

Selain menawarkan frekuensi kerja default dan Turbo Core maksimal yang lebih tinggi dari AMD Trinity, AMD Richland yang merupakan AMD APU terbaru juga memiliki varian teratas yang menawarkan dukungan memori utama alias DDR3 yang lebih tinggi. AMD A10-6800K yang merupakan varian teratas dari AMD Richland saat dibuatnya tulisan ini, memiliki dukungan resmi terhadap DDR3-2133. Generasi sebelumnya, AMD Trinity, secara resmi hanya mendukung sampai DDR3-1866. Untuk mengetahui tambahan kinerja yang ditawarkan AMD A10-6800K bila menggunakan DDR3-2133, PCplus melakukan pengujian terhadapnya dan membandingkan hasilnya dengan saat menggunakan memori utama yang lebih umum, DDR3-1600.

Jika kamu belum membaca ulasan PCplus mengenai kinerja AMD Richland terhadap AMD Trinity, ada baiknya kamu melihatnya terlebih dahulu di www.pcplus.co.id/2013/11/review-produk/amd-richland-apu-dengan-clock-lebih-tinggi-2/ yang menggunakan DDR3-1600 sebagai memori utamanya.

Untuk pengujian AMD A10-6800K dengan DDR3-2133 ini, PCplus menggunakan bantuan Asus F2A85-M Pro (BIOS 6204), Kingston DDR3-2133 4GB (13-13-13-38-2T) x2, Kingston HyperX 240GB, Samsung DVD-Writer, SilverStone SST-ST75ZF, dan LG E2250V. Sebagai pembanding PCplus juga melakukan pengujian dengan Kingston DDR3-1600 4GB (10-10-11-28-2T) x2. Sistem operasi yang digunakan adalah Windows 7 Ultimate 64bit SP1 yang telah dilengkapi dengan AMD Catalyst 13.4, DirectX Juni 2010, Realtek HD CODEC Driver R2.71, dan sejumlah software pendukung lainnya.

Hasil uji lengkapnya yang ditampilkan dalam bentuk grafik bisa dilihat pada sejumlah halaman berikut ini.

 

AMD Richland: APU dengan Clock Lebih Tinggi

[section_title title=AMD Hadirkan Richland]

 

ImageUji-AMDRichland-Gambar1

Baru-baru ini AMD secara resmi meluncurkan prosesor terbarunya untuk desktop yang diberi codename Richland. AMD Richland ini merupakan AMD APU (Accelerated Processing Unit) generasi ketiga setelah AMD Llano dan AMD Trinity. Sekadar mengingatkan, AMD APU mengandung GPU (Graphics Processing Unit) dan meletakkannya lebih sejajar dengan CPU (Central Processing Unit) dibandingkan implementasi “tradisional”.

Meskipun merupakan AMD APU generasi ketiga, AMD Richland masih menggunakan CPU yang didasarkan pada arsitektur Piledriver seperti halnya AMD Trinity, AMD APU generasi kedua. Begitu pula dengan GPU-nya, APU terbaru dari AMD ini masih menggunakan VLIW4 seperti halnya yang dipakai di AMD Trinity. Jumlah core dari CPU dan jumlah core Radeon dari GPU AMD Richland pun tetap sama dengan AMD APU generasi sebelumnya yang sekelas (bisa dibilang yang digantikan).

Perbedaanya terletak pada frekuensi kerja atau clock. Dibandingkan AMD Trinity yang digantikan, AMD Richland memiliki frekuensi kerja yang lebih tinggi, baik pada CPU maupun pada GPU-nya. Khusus untuk GPU, AMD juga mengupgrade namanya dari Radeon seri 7000 pada AMD Trinity menjadi Radeon seri 8000 pada AMD Richland.

Selain frekuensi kerja default dan frekuensi kerja Turbo Core yang lebih tinggi, AMD pun melakukan pengoptimalan pada Turbo Core dari Richland. AMD APU Elite A-Series 2013 alias AMD Richland ini dirancang untuk lebih bisa mencapai frekuensi kerja maksimal dari Turbo Core-nya dibandingkan AMD Trinity.

Kombinasi frekuensi kerja alias clock yang lebih tinggi dan Turbo Core yang lebih optimal inilah yang diharapkan AMD bisa membuat Richland memberikan kinerja yang lebih baik dari AMD APU generasi kedua. Bagusnya, TDP (Thermal Design Power) dari AMD Richland tidak mengalami peningkatan, masih sama dengan sebelumnya: ada yang 100W ada yang 65W.

Khusus untuk A10-6800K, varian tertinggi dari Richland saat dibuatnya tulisan ini, AMD menambahkan dukungan resmi terhadap DDR3-2133. Sebelumnya, AMD Trinity secara resmi hanya mendukung sampai DDR3-1866.

Untuk dukungan motherboard, AMD APU terbaru itu bisa dipasangkan dengan berbagai motherboard untuk AMD Trinity. Ia tetap membutuhkan soket FM2 dan chipset yang sama.

 

Intel Haswell: Hadirkan AVX 2 dan Gandakan Floating Point

[section_title title=Intel Hadirkan Haswell]

 

IntelHaswellKecil
(foto: Alphons Mardjono)

Untuk pengembangan prosesornya, Intel sudah sejak beberapa lama mengadopsi strategi Tick-Tock. Tick melambangkan proses produksi yang lebih kecil alias maju (misalnya dari 32nm ke 22nm), sementara Tock melambangkan arsitektur baru (misalnya dari Intel Core 2 Quad ke Intel Core i7-9xx). Belum lama ini, Intel telah meluncurkan prosesor terbarunya yang dikenal dengan codename Haswell. Intel Haswell ini merupakan Tock dan ditujukan untuk menggantikan generasi sebelumnya yang merupakan Tick, Intel Ivy Bridge. Berhubung Tock, ia tetap memakai proses produksi 22nm 3-D Tri-Gate transistor, sama dengan prosesor Intel Ivy Bridge.

Saat IDF (Intel Developer Forum) 2012 San Francisco lalu, Intel mengatakan bahwa prosesor Core generasi berikutnya (Haswell) bisa memberikan kinerja yang lebih tinggi dibandingkan prosesor Core generasi ketiga (Ivy Bridge) yang menjadi andalannya saat itu pada konsumsi daya yang sama. Prosesor Intel Core generasi keempat ini pun bisa diatur untuk memberikan kinerja yang sama dengan Prosesor Intel Core generasi ketiga pada konsumsi daya yang lebih rendah. Prosesor Intel Core generasi keempat tersebut memang ditujukan untuk berbagai perangkat, mulai dari server sampai handheld.

Arsitektur Baru

Menurut Robert Chappell (CPU Architect, Intel), Bret Toll (CPU Architect, Intel) dan Ronak Singhal (Sr. Principal Engineer, Intel), arsiktektur core dari Intel Haswell secara high level ditampilkan seperti pada Gambar 2. Lebih lanjut mereka menyebutkan bahwa Intel Haswell memiliki branch prediction yang lebih baik, front-end yang lebih bagus, out-of-order buffer yang lebih dalam, execution unit yang lebih banyak, load/store bandwidth yang lebih lebar, dan tanpa adanya penambahan panjang pipeline.

Gambar2Kecil
Gambar 2 (dok: Intel)

Tidak hanya itu, Intel pada Haswell juga menambahkan dukungan FMA (Fused Multiply-Add) pada kedua execution unit yang mengurus Floating Point Multiply maupun Floating Point Add. Tambahan ini memungkinkan Intel Haswell menggandakan kinerja floating point dibandingkan Intel Ivy Bridge.

Prosesor Intel Core generasi keempat ini pun mendukung sejumlah instruksi baru. Salah satu yang populer adalah AVX (Advanced Vector Extensions) 2. AVX 2 ini melengkapi AVX yang telah ada sebelumnya. Pada AVX, hanya lebar SSE floating point vector instruction yang digandakan menjadi 256bit, sementara lebar SSE integer tetap 128bit. AVX 2 menggandakan lebar SSE integer itu menjadi 256bit. Jadi, dengan AVX 2, semuanya menjadi 256bit. Oh ya, AVX 2 ini turut mencakup instruksi FMA.

Intel HD Graphics 4600

Intel Haswell punya beberapa konfigurasi grafis terintegrasi, mulai dari GT1 (Intel HD Graphics), GT2 (Intel HD Graphics 4200, 4400, dan 4600), GT3 (15W, Intel HD Graphics 5000), GT3 (28W, Intel Iris Graphics 5100), sampai GT3e (Intel Iris Pro Graphics 5200). Perbedaan utama antara GT1, GT2, dan GT3 terletak pada jumlah execution unit-nya: 6, 20, 40. Khusus GT3e menambahkan embedded DRAM.

Untuk varian desktop dari Intel Haswell yang menggunakan LGA, sampai saat dibuatnya tulisan ini hanya menggunakan GT2, tepatnya Intel HD Graphics 4600. Yang GT3e memang tersedia, namun bagi yang memanfaatkan BGA alias buat disolder langsung pada motherboard saja. Adapun varian mobile dari Intel Haswell, sudah menggunakan dari GT2 sampai GT3e.

Peningkatan kinerja yang ditawarkan terhadap generasi sebelumnya utamanya datang dari penambahan execution unit, khususnya pada GT2 dan GT3. Pada Intel HD Graphics 4000 misalnya, hanya terdapat 16 execution unit, lebih sedikit dari Intel HD Graphics 4600 yang punya 20 execution unit. Grafis terintegrasi Intel Haswell juga sudah mendukung DirectX 11.1 (Intel Ivy Bridge hanya DirectX 11) dan tentunya OpenCL 1.2 serta OpenGL 4.0. Ia pun telah mendukung resolusi 4K UHDTV (Ultra HDTV).

Konsumsi Daya

Seperti telah disebutkan di atas, Intel Haswell ini bisa “disetel” konsumsi dayanya sesuai dengan peruntukkannya. Untuk desktop, varian teratas Intel Haswell memiliki TDP 84W yang berarti lebih tinggi dari TDP varian tertinggi Intel Ivy Bridge yang sebesar 77W. Naiknya TDP ini utamanya disebabkan Intel mengintegrasikan sejumlah voltage regulator yang selama ini berada pada motherboard ke dalam Haswell. Integrasi ini diklaim Intel memungkinkan Haswell untuk lebih agresif dalam memaksimalkan kinerja maupun memaksimalkan konsumsi daya.

Adu Keren Enam Motherboard A85X

[section_title title=AMD A85X]

52918A_AMD_Rad_Embroidery

AMD menghadirkan sejumlah lini chipset motherboard untuk APU. Pada desktop, tiga chipset yang populer adalah AMD A55, AMD A75, dan yang teranyar AMD A85X. Ketiganya hadir untuk soket FM2 yang dibutuhkan oleh AMD APU terkini. Sebenarnya, chipset AMD A55 dan AMD A75 telah hadir lebih dulu saat generasi soket sebelumnya, FM1, pertama kali diluncurkan. Hanya chipset AMD A85X yang diluncurkan bersamaan dengan hadirnya soket FM2 tersebut.

Tidak terdapat perbedaan fitur pada chipset AMD A55 dan AMD A75 soket FM1 dengan FM2. Target segmennya pun sama. AMD A55 merupakan chipset yang menyasar kelas terjangkau sehingga memberikan dukungan komponen yang paling sederhana. AMD A55 hanya mendukung port SATA 3Gbps dan USB 2.0. AMD A75 menawarkan fitur yang lebih lengkap, yaitu dukungan port SATA 6Gbps yang berjumlah sampai enam dan dukungan USB 3.0. AMD A75 ini lebih ditujukan bagi pengguna mainstream.

AduA85X-SoketFM2
Soket FM2 yang menjadi andalan AMD untuk APU terkini

Sedangkan chipset paling anyar yakni AMD A85X hadir dengan dukungan terbaik dibandingkan kedua chipset tadi. Ia menyediakan sampai delapan port SATA 6Gbps, empat port USB 3.0, dan dukungan penggunaan dua kartu grafis tambahan sekaligus ala CrossfireX. Mode CrossfireX yang diberikan menggunakan bandwidth x8 dan x8. Slot PCI-Express x16 pertama memiliki bandwidth sampai x16, sementara slot PCI-Express x16 kedua memiliki bandwidth sampai x8. Sayangnya, chipset ini masih menggunakan PCI Express versi 2.0 sehingga kurang optimal jika digunakan pada kartu grafis yang sudah mendukung PCI Express versi 3.0. Meski demikian chipset AMD A85X menyasar segmen pemain game dan cocok disandingkan dengan AMD Trinity serta AMD Richland.

AduA85X-Fitur
Perbandingan fitur antara AMD A55, AMD A75, dan AMD A85X

Untuk menandakan dukungan AMD APU pada chipset AMD A85X, AMD Trinity umumnya menggunakan penamaan A6-5xxx, A8-5xxx, dan A10-5xxx, sementara AMD Richland umumnya menggunakan penyebutan A6-6xxx, A8-6xxx, dan A10-6xxx. Selain itu, chipset ini mendukung pula prosesor FM2 kelas terjangkau seperti AMD Athlon X2-340 dan Athlon X4-7xx.

Salah satu andalan AMD APU adalah grafis terintegrasinya. Sekadar mengingatkan AMD APU adalah gabungan antara CPU dan GPU dalam sebuah die. Oleh karena itu, grafis terintegrasi atau onboard terdapat pada prosesor dan bukannya pada chipset. Dengannya kinerja grafis terintegrasi akan lebih cepat karena melalui jalur yang lebih singkat dibandingkan pada chipset. Chipset sendiri hanya berfungsi sebagai “penunjang” seperti halnya southbridge pada chipset masa lampau. Jadi kinerja grafis terintegrasi bergantung pada AMD APU yang digunakan, bukan pada chipset di motherboard.

Kinerja grafis terintegrasi ini memang menjadi perhatian AMD. Jika AMD Trinity menggunakan grafis terintegrasi AMD Radeon HD seri 7000, maka AMD Richland umumnya menggunakan grafis terintegrasi AMD Radeon HD seri 8000 yang memiliki frekuensi kerja lebih tinggi. Ulasan mengenai AMD Richland ini sedang PCplus persiapkan. Oleh karena itu, simak terus PCplus agar tak kelewatan.

Saat ini banyak produsen motherboard yang telah memanfaatkan chipset AMD A85X itu. Berikut PCplus tampilkan enam motherboard yang telah menggunakannya.