Tag Archives: charging

Apa Perbedaan Quick Charge dan Power Delivery

Teknologi pengisian daya smartphone saat ini semakin maju mulai dari adanya teknologi wireles charging, maupun fitur yang memungkinkan pengisian cepat berkat adanya teknologi fast charging, quick charge dan power delivery. Kedua teknologi ini mampu mempercepat pengisian daya smartphone dari teknologi charging konvensional.

Meskipun begitu, apa sebenarnya perbedaan Quick Charge dan Power Delivery ini?

Teknologi Quick Charge

Teknologi Quick Charge diciptakan oleh pabrikan chipset smartphone kenamaan Qualcomm, produsen chipset paling sukses di dunia gadget ini meluncurkan teknologi pengisian daya cepat pada tahun 2013 untuk prosesor Snapdragon 600.

Versi pertama Quick Charge mampu mengalirkan arus sebesar 2 Ampere dengan tegangan 5 Volt dengan daya maksimal 10 Watt.

Teknologi ini juga diadopsi oleh pabrikan smartphone dengan membranding ulang teknologi pengisian daya tersebut seperti Turbopower milik Motorola, ASUS BoostMaster dan Adaptive Fast Charge milik Samsung.

Generasi Quick Charge 5 hadir pada tahun 2021, dengan menghadirkan port USB C berkemampuan daya 100 W.

Baca Juga: Apakah Teknologi Fast Charging Merusak HP?

Teknologi Power Delivery

Teknologi Power Delivery merupakan teknologi fast charging yang menggunakan koneksi USB type C saja, dengan demikian, teknologi ini hanya mensupport perangkat smartphone yang sudah mendukung USB type C sebagai pengisian daya.

Uniknya, mengingat penggunaan USB type C juga mulai banyak digunakan oleh produsen laptop, maka teknologi ini juga dapat digunakan untuk mensupply daya laptop. Sama seperti Quick Charge, Power Delivery mampu mensupply daya hingga 100 Watt,

Perbedaan Quick Charge dan Power Delivery

perbedaan quick charge dan power delivery fast charge
perbedaan teknologi fast charging

Meski memiliki persamaan mampu menghantarkan daya 100 watt dan sudah mendukung USB type C tetapi kedua teknologi ini memiliki perbedaan

Lisensi

Quick Charge merupakan teknologi yang dipatenkan oleh Qualcomm, sehingga produsen charger yang menggunakan teknologi ini harus membayar biaya lisensi kepada Qualcomm, termasuk juga para produsen smartphone yang membranding ulang teknologi ini dengan branding mereka sendiri.

Dukungan Chipset

Mengingat Quick Charge merupakan produk Qualcomm yang difokuskan untuk processor Snapdragon, maka…. ( Baca lebih lanjut di perbedaan Power Delivery dan Quick Charge)

Agar Mengisi Baterai Smartphone Lebih Cepat

ilustrasi

Lamanya waktu saat mengisi baterai smartphone memang terkadang bikin bete. Apalagi bagi kamu yang aktivitas kesehariannya berkutat dengan smartphone. Namun tahukah bahwa ada cara yang bisa dilakukan agar waktu pengisian baterai lebih cepat. Namun tentu saja cara ini tidak akan membuat proses pengisian menjadi secepat kilat. Tapi paling tidak kamu akan merasakan perbedaan waktu pengisian dibanding tidak melakukan panduan seperti yang PCplus tunjukkan berikut ini.

Matikan smartphone

Cara ini merupakan yang paling ampuh dalam mempercepat proses pengisian baterai. Logikanya, dalam kondisi mati, berarti tidak ada daya yang terpakai sehingga proses pengisian lebih cepat. Selain itu, dalam kondisi mati baterai tidak akan sepanas saat dinyalakan sehingga akan lebih tahan lama.

Aktifkan mode Airplane

dua

Jika tidak ingin mematikan smartphone, kamu bisa mengaktifkan mode Airplane. Mode ini menggunakan konsumsi baterai yang sangat rendah karena mematikan beberapa feature utama yang menggunakan daya besar, seperti jaringan telepon (3G), mobile data, GPS, serta WiFi.

Jangan digunakan

Layar aktif menggunakan daya paling besar pada smartphone. Oleh karena itu hindari untuk memeriksa smartphone berulang-ulang. Jika ingin cepat terisi penuh, sebaiknya jangan mengutak-atik untuk sekedar melihat notifikasi, atau bahkan sambil bermain game.

Gunakan charger yang tepat

empat

Usahakan selalu menggunakan charger bawaan yang memang sudah dioptimalkan untuk mengisi baterai. Jika menggunakan charger lain, gunakan charger yang memiliki output yang lebih besar.

Gunakan colokan listrik

Pengisian baterai akan lebih cepat jika dilakukan melalui colokan listrik yang tersedia. Menggunakan kabel USB bukan solusi yang tepat jika kamu mempermasalahkan lamanya waktu pengisian. Daya yang diambil melalui port USB memiliki output lebih kecil (antara 0,5 – 0,9 Ampere), sedangkan menggunakan charger bawaan memiliki output 2 Ampere.

Matikan feature/aplikasi

enam

Jika kamu terbilang orang yang sibuk dan sering mendapat panggilan telepon, mungkin mematikannya saat pengisian baterai bisa membuat orang sulit menghubungi. Solusinya, matikan beberapa feature atau aplikasi yang terbukti banyak menguras baterai.

Pengaruh suhu

Pastikan bahwa saat pengisian baterai, hindari perangkat dari kondisi yang bisa menyebabkan panas berlebih. Contohnya diletakkan didekat komponen listrik lainnya atau terkena sinar matahari langsung. Baterai panas akan mengakibatkan penurunan kemampuannya dalam menyimpan energi. Semakin panas maka akan semakin boros dan semakin lama dalam saat mengisi baterai.

Dua port USB

delapan8

Jika terpaksa harus mengisi melalui kabel micro USB, kamu bisa menggunakan kabel yang memiliki dua port diujungnya. Tancapkan dua port tersebut ke komputer dan pastikan tidak ada aliran daya ke port USB lain. Proses ini akan lebih cepat dibanding menggunakan satu port USB.

Kalibrasi baterai

Baterai yang terlalu sering digunakan hingga 0% bisa memperpendek usia yang berakibat pada tidak sempurnanya pengisian baterai. Rawat baterai dengan segera mengisi minimal pada kondisi 5%. Lakukan kalibrasi baterai paling tidak sebulan sekali dengan cara menggunakannya hingga 0% dan isi hingga 100% dalam kondisi mati. Cara ini akan membuat baterai lebih awet dan sehat. Baterai yang sehat akan lebih cepat terisi dan tidak cepat habis dibanding yang sudah berkondisi jelek.

Ganti baterai

Jika segala cara sudah kamu coba namun pengisian baterai tetap berlangsung lama, bisa jadi permasalahan ada pada baterai itu sendiri. Jika demikian, sebaiknya langsung ganti baterai berkualitas yang baru agar tidak berpengaruh pula pada komponen lainnya.

Bagaimana membuat Baterai Awet

AgerBateraiLithiumAwet-Gbr1

Jika ada teknologi yang bisa hilang dan menyebabkan kesusahan di peradaban manusia, teknologi baterai Lithium-ion (Li-ion) mungkin salah satunya. Maklum, penggunaan baterai Li-ion sudah begitu merasuk kehidupan manusia. Mulai dari notebook, tablet, smartphone, sampai sejumlah baterai AA (bukan yang 1,2V maupun 1,5V) yang kita gunakan sesungguhnya menggunakan teknologi Li-ion.

Ada banyak informasi yang menyertai kepopuleran baterai Li-ion ini. Sayangnya, informasi itu sering kali bertentangan. Contohnya soal boleh tidaknya notebook yang kapasitas baterainya sudah penuh tetap terhubung ke listrik. Atau bolehkah menghabiskan kapasitas baterai sampai nol baru kemudian diisi ulang lagi. Padahal informasi itu penting karena berhubungan dengan umur baterai.

Btw, yang kami maksud “umur” di sini bukan berapa lama durasi baterai ketika tidak tercolok ke listrik ya, melainkan usia baterai sampai akhirnya rusak dan harus diganti. Umur baterai Li-ion biasanya dinyatakan dalam discharge/charge cycle alias seberapa banyak dia dipakai dan diisi ulang. Setiap kali kamu memakai dan mengisi ulangnya, secara teoritis, daya tahan atau umurnya akan berkurang.

 

Batas Tegangan

Untuk mengetahui mana yang benar mana yang salah, ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu batasan tegangan yang umum digunakan oleh sebuah baterai Li-ion. Menurut penelitian Battery University yang bisa dilihat pada Gambar 1, baterai Li-ion (tepatnya berbagai sel penyimpan energi yang terdapat di dalamnya), punya batas atas tegangan pada 4,2V.

Setelah mencapai 4,2V, alat pengisi ulang (charger) seharusnya mematikan suplai daya. Baterainya sendiri seharusnya juga punya pengaman untuk memutus arus dari alat pengisi ulang jika voltase-nya mencapai 4,2V. Andai baterai Li-ion tersebut terus diisi ulang walau sudah 4,2V, kemungkinan baterai tersebut akan rusak atau bahkan mengakibatkan kebakaran.

AgarBateraiLithiumAwet-Gambar1
Gambar 1 – Baterai Li-ion terisi penuh ketika arus pengisian turun ke tingkat yang telah ditentukan alias tegangan pada ujung tingkatan kedua, umumnya 4,2V. (Cadex)

Karena ada sistem pengaman di sisi charger maupun baterai, seharusnya tidak ada masalah dong ketika kita tetap menancapkan charger meski baterai sudah terisi penuh? Ternyata tidak. Kamu sebaiknya tetap mencabut charger tersebut dari perangkat kamu.

Kenapa? Pertama untuk jaga-jaga andaikata charger dan baterai Li-ion yang digunakan tidak mengimplementasikan pengaman. Alasan kedua, ketika didiamkan, baterai Li-ion tetap akan melepas sejumlah muatan listrik meski tidak dibebani (atau disebut self discharging). Jadi, sel pada baterai Li-ion tersebut akan turun tegangannya. Ketika tegangan di sel kurang dari 4,05V, sejumlah charger secara otomatis akan mengisi ulang baterai Li-ion bersangkutan sampai selnya mencapai 4,2V. Dengan kata lain, baterai akan terus mengalami pengisian ulang dalam jeda yang singkat sehingga mengurangi umur baterai.

Bagaimana dengan pembuangan muatan listrik atau pembuangan energi (discharge)? Baterai Li-ion juga tidak bisa melakukan pembuangan muatan listrik secara berlebihan. Umumnya batas bawah tegangan ini pada level sel adalah 3,0V. Tegangan yang terlampau rendah bisa membuat baterai Li-ion mengalami hubungan pendek sehingga berbahaya bila diisi ulang. Namun untungnya, fitur pengaman yang terpasang di baterai umumnya akan menidurkan baterai Li-ion bila mencapai tegangan 2,7V. Baterai Li-ion yang sudah ditidurkan ini, sayangnya tidak bisa diisi ulang menggunakan kebanyakan charger.

 

Kapan Melakukan Pengisian Ulang?

Lalu pada tingkat kandungan energi tersisa berapa yang tepat untuk melakukan pengisian ulang? Jika kamu ingin memperoleh nilai discharge/charge cycle yang optimal, berdasarkan penelitian yang dilakukan situs yang didirikan oleh Isidor Buchmann (penulis Batteries in a Portable World – A Handbook on Rechargeable Batteries for Non-Engineers), lakukan pengisian ulang ketika tingkat energi tersisa sudah mencapai 50%. Perbandingan antara pengisian ulang pada sejumlah tingkat kandungan energi tersisa terhadap nilai discharge/charge cycle bisa dilihat pada Gambar 2.

AgarBateraiLithiumAwet-Gambar2
Gambar 2 – Pengaruh depth of discharge terhadap jumlah discharge/charge cycle. (Battery University)

Dari tabel di atas terlihat, nilai minimal DOD x Cycle terjadi jika baterai diisi ulang pada saat kapasitasnya terpakai 10% dan 100%. Artinya, jangan biasakan mengisi ulang menunggu baterai habis terlebih dahulu. Juga, jangan biasakan mengisi ulang baterai ketika baru terpakai sedikit. Selain itu, nilai discharge/charge cycle pun dipengaruhi oleh sejauh mana kamu melakukan isi ulang. Dari Gambar 3 bisa dilihat bahwa mengisi ulang baterai sebaiknya jangan sampai penuh.

Hal yang mirip juga berlaku untuk suhu: suhu yang tinggi mempercepat hilangnya energi yang tersimpan. Selengkapnya bisa dilihat pada Gambar 4.

AgarBateraiLithiumAwet-Gambar3
Gambar 3 – Pengaruh tegangan pada tingkat sel terhadap jumlah discharge/charge cycle dan kapasitas. (Battery University)

AgarBateraiLithiumAwet-Gambar4
Gambar 4 – Estimasi kapasitas yang bisa bertahan ketika menyimpan baterai Li-ion selama satu tahan pada sejumlah suhu. (Battery University)

 

Kalibrasi

Untuk mencegah indikator kandungan energi tersisa menjadi tidak akurat, tiga bulan sekali gunakan baterai Li-ion sampai kandungan energinya habis (dalam artian sampai batas bawah tegangan), lalu isi ulang sampai penuh (dalam artian sampai batas atas tegangan). Tujuannya agar alat yang bertugas melakukan pengukuran bisa melakukan kalibrasi.

Jika frekuensi discharge/charge cycle kamu tinggi, kalibrasi ini bisa dilakukan kurang dari tiga bulan. Kamu bisa melakukan kalibrasi ini bila discharge/charge cycle sudah mencapai empat puluh dari saat terakhir kali kalibrasi.

 

Apa yang Sebaiknya Dilakukan?

Jadi dari sejumlah hal di atas bisa disimpulkan bahwa agar baterai Li-ion tahan lama alias umurnya panjang, sebaiknya kamu melakukan sejumlah hal berikut ini:

•    Gunakan baterai dan alat pengisi ulang yang dilengkapi dengan pengaman yang benar.
•    Jangan sampai kandungan energinya habis baru melakukan pengisian ulang baterai.
•    Jangan mengisi ulang baterai sampai penuh.
•    Kalau mengisi ulang baterai sampai penuh, charger harus segera dilepas.
•    Jaga agar suhu baterai Li-ion tidak panas, baik saat digunakan, diisi ulang, maupun disimpan.
•    Pakai baterai sampai habis dan lakukan pengisian ulang sampai penuh tiga bulan sekali atau setelah empat puluh discharge/charge cycle.

 Nah, semoga dengan langkah-langkah di atas, baterai kamu bisa panjang umur.