Agar Berkembang, E-Money Perlu Sosialisasi

JAKARTA, KAMIS – Adakah di antara kamu yang sudah menggunakan kartu pembayaran seperti Flazz BCA, Mandiri e-toll card, atau JakCard? Yang kalau kamu mau belanja tidak perlu kasih uang tunai untuk membayar, tapi cukup menyodorkan kartu plastik tersebut ke pedagang (merchant)? Atau kamu pakai tcash-nya Telkomsel untuk bayar belanjaan di Indomaret? Jika ya, berarti kamu adalah pengguna e-money atau tergabung dalam Less Cash Society.

Eh iya, sudah tahu kan apa itu e-money atau uang elektronik? Ini beda loh dengan kartu kredit, kartu debet atau voucher. “Dipakai sebagai alat pembayaran. Tapi beda dengan voucher yang sifatnya tertentu dan berjangka waktu. Di e-money tidak ada jangka waktu. Ada daftar merchant-nya. Pemilik boleh belanja sampai nilai saldonya habis, tanpa tenggang waktu,” jelas Ida Nuryanti (Senior Analis Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran Bank Indonesia) dalam acara diskusi “Sinergi Perbankan & Operator dalam mendorong Cash Less Society” di Jakarta tadi siang (23/6/2011).

Selain itu, uang pada e-money harus disetorkan dulu oleh pembelinya. “Nilainya akan sama dengan jumlah yang disetorkan, dan disimpan dalam media, bisa server atau chip. Nilai yang disetor bukan merupakan simpanan. Jadi kalau e-money hilang, duitnya hilang, apalagi kalau yang unregister karena yang bawa bisa bertransaksi selama saldo masih ada. Kalau penerbitnya pailit, LPS (lembaga penjamin simpanan) tidak akan mengganti karena itu bukan simpanan,” tambah Ida.

E-money diperkenalkan tahun 2007 oleh Bank DKI (untuk JakCard). Saat ini jumlah pengguna uang elektronik itu sudah bertambah banyak, dan tidak hanya diterbitkan oleh Bank DKI. “Ada 4 bank umum, dan satu bank pembangunan daerah, dan enam lembaga selain bank yang menerbitkannya,” ungkap Ida.

Jumlah transaksi e-money pun terus meningkat, dari 165 ribu instrumen per 2007 menjadi sekitar 7,9 juta per 2010, atau rata-rata transaksi 3 ribu per jam. “Per April 2011, jumlah instrumennya naik jadi 9,8 juta. Persentase kenaikan 4%, lumayan untuk produk baru. Perlu sosialisasi,” kata Ida.

Dibandingkan kartu kredit dan ATM, transaksi e-money masih tertinggal jauh. Kedua kartu itu punya nilai transaksi Rp 1,452 triliun, sedangkan e-money baru Rp 511 miliar.  “Penetrasi pasarnya kurang bagus karena tidak semua pengguna mau transfer dari situ. Sehingga sosialisasi dan marketing, mengedukasi konsumen harus ditingkatkan,” tandas Ida.

Ida juga menyebutkan bahwa seperti halnya kartu kredit dan ATM yang kini menggunakan chip, kartu e-money juga akan beralih ke model chip. “Maunya juga ada interoperasi, mumpung pemainnya masih sebelas,” tambah Ida. Ia juga menggarisbawahi perlunya sinergi antar penerbit agar e-money ini bisa digunakan masyarakat sampai ke pelosok.

Apakah e-money ini merugikan bank? Reyhan (GM Mobile Commerce Business & Development, Telkomsel) yang perusahaannya menawarkan tcash mengatakan tidak. “Karena ada ceruk pasar yang tidak dilakukan oleh bank. Market telco dan bank agak beda. Kompetisinya justru di transaksi uang tunai,” jelasnya. Tahun ini, tambahnya, Telkomsel pun sudah menargetkan bisa menggaet 7 juta pengguna tcash.

kiri-kanan :  Uday Rayana (moderator), Reyhan (GM T-Cash  Management Telkomsel), Ida Nuryanti (Senior Analis Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran Bank Indonesia) dan Handaka Santosa (CEO Senayan City) dalam diskusi “Sinergi perbankan & operator dalam mendorong cash less society) di Jakarta (23/6/2011).

Wiwiek Juwono

Senior Editor di InfoKomputer dan PCplus. Memiliki spesialisasi di penulisan fitur, berita, serta pengujian gadget dan asesori komputer

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.