Kesalahan di Dunia TI yang Berakibat Fatal

ilustras_ti

Suatu perangkat keras tidak akan bisa berfungsi secara utuh tanpa bantuan perangkat lunak. Perangkat lunak mengendalikan perangkat keras agar dapat berfungsi sebagai mana mestinya. Kesalahan sedikit saja pada suatu perangkat lunak, bisa menyebabkan perangkat keras tidak bekerja sebagai mana mestinya. Atau yang lebih parahnya lagi, bisa menyebabkan permasalahan yang besar.

Nyatanya, peribahasa ‘tak ada gading yang tak retak’ juga berlaku di bidang teknologi. Meski sudah dirancang sedemikian rupa, kesalahan ‘sepele’ bisa berakibat fatal pada beberapa kasus. Berikut kami hadirkan beberapa contoh bencana ataupun kejadian fatal sebagai akibat dari kesalahan sistem perangkat lunak yang terjadi selama 10 tahun terakhir.

Aktivitas penerbangan di LA terhenti selama 8 jam (2007)

Sebanyak 17.000 pesawat terpaksa terdampar di bandara Internasional Los Angeles akibat kesalahan yang terjadi pada perangkat lunak. Sistem yang digunakan United States Customs and Border Protection (USCBP) atau bea cukainya Amerika Serikat mengalami kesalahan saat mengirim data ke seluruh jaringan dan mengakibatkan sistem menjadi macet. Selain pesawat yang tidak bisa meninggalkan bandara, para penumpang juga ikut terjebak karena selama 8 jam karena tidak diperbolehkan meninggalkan bandara.

Knight Capital Group bangkrut akibat data yang keliru (2012)

Knight Capital Group Inc, suatu perusahaan perdagangan Amerika Serikat mengalami kerugian trading sebesar US$440 juta atau sekitar Rp 4,2 triliun akibat kesalahan teknis dari perangkat lunak yang mereka gunakan. Perangkat lunak tersebut memberikan data yang keliru dan memutuskan untuk membeli tinggi dan menjual murah pada 150 saham yang berbeda. Setelah peristiwa ini saham perusahaan tersebut langsung anjlok hingga 62% dalam waktu satu hari.

Pembebasan tahanan lebih cepat (2015)

Kesalahan pada sistem data yang digunakan di penjara Amerika Serikat menyebabkan lebih dari 3200 tahanan dibebaskan lebih awal. Perangkat lunak yang digunakan mengalami kesalahan dalam menganalisa data yang hanya menghitung masa tahanan berdasarkan perilaku para tahanan tersebut. Kesalahan ini baru diketahui pada tahun 2015 setelah penjara tersebut menunjuk bos TI yang baru, padahal sistem tersebut sudah digunakan sejak tahun 2002.

Layanan 911 mati selama 6 jam (2014)

Di bulan April 2015, panggilan darurat di Amerika Serikat melalui nomor 911, tidak berfungsi selama kurang lebih 6 jam. Dari hasil investigasi ternyata diketahui bahwa permasalahan terletak pada perangkat lunak yang sedang mengalami gangguan. Akibat kejadian ini, dari 81 call center yang ada, terdapat sekitar 6000 panggilan masuk tidak terjawab.

Sistem internal HSBC mengalami masalah (2015 dan 2016)

HSBC mengalami dua kali musibah besar yang behubungan dengan kesalahan sistem yang digunakannya. Pada Agustus 2015, dilaporkan sebanyak 275.000 pembayaran individu gagal diproses. Penyebab kegagalan yang cukup besar ini akibat sistem pembayaran elektronik untuk pengguna bisnis perbankan yang berbenturan dengan sistem pembayaran gaji.

Kejadian kedua terjadi pada awal 2016, dimana HSBC menjadi bank pertama yang mengalami pemadaman sistem TI. Hal ini berimbas pada jutaan pelanggan yang tidak bisa mengakses rekening online serta transaksi lainnya selama dua hari. COO HSBC, Jack Hackett mengatakan bahwa saat itu telah terjadi masalah teknis yang cukup kompleks pada sistem internal mereka.

Pesawat tempur gagal membidik target (2015)

Dengan kemajuan teknologi, pesawat tempur sudah dilengkapi pula dengan sistem canggih berbasis komputer. Namun pada Maret 2015, pesawat F-35 Joint Strike Fighter mengalami masalah serius pada sistem komputernya. Sebuah bug ditemukan pada sistem tersebut yang mengakibatkan pesawat tidak bisa membidik target dengan benar. Sensor pada pesawat tersebut tidak bisa membedakan antara obyek yang dijadikan target dengan obyek lainnya.

8000 gerai Starbucks tidak beroperasi selama satu hari (2015)

Gerai kopi Starbucks sempat kehilangan keuntungan jutaan dolar akibat jaringan komputer yang mati. Sekitar 8000 gerai tersebut terpaksa berhenti beroperasi yang terdiri dari 7000 gerai di Amerika Serikat dan 1000 gerai di Kanada. Sedangkan pada gerai yang masih buka, Starbucks malah menawarkan kopi gratis karena proses transaksi tidak bisa dilakukan. Matinya jaringan ini akhirnya bisa diatasi dalam jangka waktu satu hari, meskipun hingga kini mereka belum mengetahui penyebab pasti matinya sistem komputer dan jaringannya tersebut.

Crash dua kali dalam 9 hari, saham Twitter anjlok (2014)

Dengan jumlah sekitar 300 juta pengguna, tidak heran jika infrastruktur Twitter menanggung beban yang cukup besar. Pada Maret 2014, Twitter sempat tumbang sebanyak dua kali dalam kurun waktu 9 hari. Layanan tersebut sempat terhenti selama beberapa jam dalam rentang dua kali peristiwa tersebut. Dari peristiwa ini ternyata langsung berdampak pada turunnya harga saham yang selama ini merupakan investasi besar mereka.

Tanggapan Kamu

komentar