Jakarta, PCplus – Selama puluhan tahun, strategi pembangunan ekonomi bertumpu pada tenaga kerja murah, modal, dan infrastruktur fisik. Namun, laporan terbaru Kearney menunjukkan bahwa kecerdasan buatan (AI) telah mengubah paradigma tersebut. Menurut Tomoo Sato, Partner Kearney, negara unggul di era AI bukanlah yang menawarkan biaya terendah. Melainkan yang mampu membangun ekosistem dan kapabilitas AI dalam skala besar.
Baca Juga: Pentingnya Security Awareness Training Untuk Proteksi Korporasi
AI generatif diperkirakan menyumbang US$2,6 hingga US$4,4 triliun per tahun bagi ekonomi global. Penerapannya mencakup layanan pelanggan, pemasaran, rekayasa perangkat lunak, hingga riset dan pengembangan. Selain itu, investasi global pada infrastruktur AI terus meningkat, menegaskan posisi teknologi ini sebagai aset ekonomi strategis.
Kearney mengidentifikasi delapan realitas baru, termasuk hilangnya keunggulan tenaga kerja murah, pentingnya daya komputasi, arus modal AI yang mengubah peta investasi, serta munculnya literasi AI sebagai pengganda produktivitas. Keamanan, etika, dan kedaulatan AI juga menjadi prioritas strategis.
Peluang Indonesia di Era AI
Bagi negara berkembang seperti Indonesia, tantangan utama adalah beralih dari keunggulan tenaga kerja melimpah menuju kapabilitas berbasis teknologi. Shirley Santoso, Presiden Direktur Kearney Indonesia, menekankan bahwa keberhasilan jangka panjang bergantung pada kualitas sumber daya manusia, ekosistem inovasi, dan kemampuan mengubah teknologi menjadi hasil ekonomi nyata.
Indonesia perlu fokus pada dua pilar strategis: energi bersih yang dapat ditingkatkan skalanya dan literasi AI yang merata. Dengan energi efisien dan tenaga kerja yang memahami AI, skala demografi Indonesia dapat menjadi mesin inovasi global.
Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, penyedia teknologi, investor, dan dunia usaha akan menentukan posisi Indonesia dalam rantai nilai AI. Negara yang mampu menjembatani kesenjangan antara adopsi teknologi dan kesiapan tenaga kerja akan meraih keunggulan kompetitif berkelanjutan.
Tren Global dan Implikasi
Menurut Kearney AI Trends Report 2026, hanya 11 persen organisasi yang berhasil melakukan penerapan penuh AI karena kompleksitas integrasi dan kebutuhan keamanan. Namun, pasar agentic AI diproyeksikan tumbuh dari US$10,41 miliar pada 2025 menjadi US$52,6 miliar pada 2030 dengan pertumbuhan tahunan 45 persen.

Hal ini menunjukkan bahwa negara yang mampu membangun arsitektur AI dengan tata kelola transparan dan observabilitas tinggi akan memperoleh keuntungan besar. Indonesia dapat memanfaatkan momentum ini dengan memperkuat infrastruktur digital, meningkatkan kualitas data, dan memastikan regulasi yang mendukung inovasi.







