Penggiat Startup Tuntut Pemerintah Lebih Kompak

Industri Teknologi dan Komunikasi (TIK), terutama di pasar aplikasi mobile, tengah berkembang pesat belakangan ini. hal ini terlihat dari hasil riset ABI Research yang menyebutkan bahwa pada 2011, terdapat 29 miliar aplikasi yang diunduh di ponsel cerdas di seluruh dunia. Padahal pada tahun sebelumnya (2010) angka ini hanya di taraf 9 miliar unduhan saja. Untuk itulah Depkominfo menilai jika Indonesia dapat mencuri pasar dengan 0,05% unduhan berbayar Rp 1000, maka akan menghasilkan 145 Miliar rupiah pertahun. Nilai yang cukup potensial.

Untuk mendorong terus berkembangnya kreativitas di bidang TIK ini, agar produk Indonesia bisa ikut bernyanyi dalam industri aplikasi mobile itu, Inaicta 2012 kembali diadakan, seperti tertulis dalam rilisnya. Selain aplikasi mobile, kompetisi ini juga mendorong perkembangan produk software edukasi, animasi, game, automasi, dan robotika, yang digadang-gadang sebagai wilayah industri yang menjanjikan di masa depan. Mengomentari potensi SDM Indonesia di bidang TIK, Romy Satria Wahono menyebutkan bahwa Indonesia unggul dan kreatif dibanding negara lain. hal ini disampaikannya dalam talkshow yang diadakan sebelum acara peresmian Inaicta dilangsungkan. Ia mencontohkan ketika ia mendapat beasiswa di Jepang, ketika lulus ia mendapat banyak tawaran beasiswa S2 meskipun ia bukan termasuk murid terpintar di sekolahnya dulu. Sementara, kawannya dari negara tetangga untuk lulus pun sulit.

Pembicara lainnya yang juga hadir dalam talkshow itu adalah Danny Oei Wirianto. Pria ini cukup aktif dalam industri startup. Turut membidani Kaskus ketika 2008 pindah ke Indonesia sebagai CMO, Danny  aktif di inkubator startup lokal, yaitu Merah Putih Incubator. Ia pun tengah aktif di Mindtalk.com, sebuah social media lokal. Ketika ditanya oleh peran pemerintah seperti apa yang diperlukan untuk mendukung startup lokal, Danny menjawab, startup lokal sebenarnya sudah pesimis dengan peran pemerintah. “Kita jalan sendiri aja,” ujar Danny. “Sebab sekarang ini seperti yang dikatakan john F. Kennedy, ‘Bukan apa yang negara berikan untuk kita, tapi apa yang bisa kita lakukan untuk negara’,” tutupnya diplomatis. Namun ia juga menyebutkan bahwa beberapa startup di Indonesia mulai berlarian ke Singapura dan Irlandia. Sebab, kedua negara tersebut tidak memberlakukan pajak untuk startup. Masalah pajak ini juga meresahkan sebab, investor asing dikenakan pajak 1,5 juta rupiah. Meski investasi mereka hanya angel investor dengan nilai US $100.000. Rama Mamuaya dari Daily Social, kemudian menimpali, persoalan inilah yang kadang membuat enggannya investor luar untuk masuk, tapi mengumpulkan dana dari dalam negeri pun sulit.

Rama juga mengusulkan tentang pentingnya proteksi hak cipta. Dan Indonesia tergolong sulit dan mahal dalam hal menerbitkan hak cipta. Romi pun menyoroti soal pentingnya proteksi industri dalam negeri. Sebab, di beberapa negara maju pun mereka menerapkan hal serupa. Ia mencontohkan Jepang yang masih memproteksi industri berasnya dari serbuan beras Thailand. Sementara M Yuhdi, Merit Winner Inaicta 2011 mengkritisi buruknya koordinasi antar kementerian di pemerintah. “Undang-undang tiap kementerian terkait kok bisa berbeda?” tanyanya. “Padahal itu untuk satu urusan yang sama. Cobalah itu dikoordinasikan lebih baik lagi, karena aturan-aturan yang berbeda ini cukup bikin kita pusing juga,” paparnya.

Eka Santhika

Travelling di dunia digital dan dunia nyata ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: