Laporan Ericsson: Smartphone dan LTE Makin Menjadi Pilihan

ericssonJAKARTA, JUMAT –  Makin banyak orang memiliki smartphone saat ini. Makin sering pula mereka memanfaatkan smartphone-nya untuk ber-internet. Ini berlaku di seluruh dunia, termasuk di tanah air.

“Smartphone akan semakin dominan, menjadi alat untuk mengonsumsi mobile broadband,” kata Hardyana Syintawati (Vice President, Marketing & Communications, PT Ericsson Indonesia) saat memamparkan Ericsson Mobility Report 2013 di Jakarta (5/6/2013). “Feature phone akan makin berkurang. Sekitar 50% dari ponsel yang terjual pada kuartal pertama tahun ini adalah smartphone,” kata Hardyana. Persentase ini meningkat pesat jika dibanding angka 40% untuk sepanjang tahun 2012. Dan dari semua langganan ponsel, 20 – 25 persen berasal dari smartphone.

ericsson reportDi seluruh dunia, begitu tercantum dalam laporan Ericsson yang terbit bulan ini, diperkirakan akan ada 4,5 miliar pelanggan mobile sampai akhir tahun 2018. Asia Pasifik, termasuk Indonesia, menunjukkan peningkatan besar untuk  jumlah SIMCard aktif (baca: langganan). Saat ini di Indonesia diperkirakan ada lebih dari 10 juta SIMcard aktif, sama dengan di India. Namun negara yang memiliki SIMcard aktif terbanyak adalah Cina.  Tahun 2018, tulis Ericsson, diperkirakan jumlah SIMCard aktif akan mencapai 9,1 miliar.

Poin kedua dari laporan Ericsson adalah meningkatnya adopsi LTE (long term evolution), khususnya di Amerika Utara. Sekitar 20 juta langganan baru LTE dicatatkan pada kuartal pertama tahun ini, sementara langganan untuk GSM/EDGE-only bertumbuh sekitar 30 juta dan WCDMA/HSPA 60 juta. LTE diperkirakan akan mencapai angka 2 miliar langganan pada tahun 2018. “Tahun 2012 GSM/EDGE-only masih banyak, tapi nantinya 3G/4G LTE akan dominan. CDMA tren-nya turun di Amerika Utara pada 2018,” kata Hardyana. Di Amerika Utara, operator CDMA sudah beralih ke LTE.

Saat ini, jaringan LTE sudah tergelar di 67 negara di semua benua (kecuali Antartika) oleh 156 operator. Begitu data perkiraan Global Supplier Association (GSA) yang dirilis kuartal pertama tahun 2013. Penyebaran cepat LTE ini difasilitasi oleh kemampuan operator untuk melakukan re-farming spektrum (yang bisa menggunakan bandwidth yang ada) dan pemanfaatan solusi radio multistandar.

Bagaimana dengan Indonesia? Siapkah para operator beralih ke LTE? Kesiapakan LTE, tutur Hardyana, perlu memperhatikan transmisi dari base transceiver station (BTS) atau RBS (radio base station) ke core network. “Perlu kapasitas yang besar dan teknologi IP. Modernisasi BTS dan teknologi harus dilakukan bersamaan. Base-nya semua harus IP. Dari sisi RBS sudah siap, bisa menggunakan yang ada,” jelasnya.

Di tanah air, spektrum yang masih tersedia untuk LTE ada di kanal 2,3GHz. Sebab kanal 700MHz saat ini masih digunakan oleh TV analog, sementara 2,6GHz dipakai oleh satelit dan 1800MHz dikuasai GSM.

 

Wiwiek Juwono

Senior Editor di InfoKomputer dan PCplus. Memiliki spesialisasi di penulisan fitur, berita, serta pengujian gadget dan asesori komputer

%d bloggers like this: