Ketika Sepatu Menjadi Sumber Energi

pavegenJAKARTA, PCplus – Pernah lihat anak-anak yang memakai sepatu yang menyala ketika ia melangkah? Nah itulah bukti kalau langkahmu bisa menghasilkan energi. Sayangnya pada orang dewasa, energi yang diciptakan oleh tindakan berjalan itu tidak dimanfaatkan. Padahal rata-rata satu orang berjalan sekitar 216 juta langkah sepanjang hidupnya.

Seorang penemu bernama Laurence Kemball-Cook berharap bisa mengambil energi yang hilang di dua titik kontak: sepatu dan lantai. Pada 2009, Kemball-Cook mendirikan Pavegen, sebuah perusahaan yang ubin-ubin lantainya bisa menangkap energi dari langkah kaki. Teknologi ini menggunakan tekanan untuk mengambil sepersekian energi yang tercipta ketika seseorang menginjak ubin.

Ubin-ubin tersebut telah dipasang di lebih dari 100 proyek di seluruh dunia, termasuk di stadion sepakbola di Rio de Janeiro dan sebuah terminal di Bandara Heathrow. Energi yang didapat disimpan dalam baterai-baterai di dalam ubin, yang kemudian bisa digunakan untuk mendayai pencahayaan, iklan, dan solusi pencari-jalan, yang memandu orang di sebuah lingkungan via panah-panah penunjuk.

Kini Kemball-Cook dan tim R&D-nya mengalihkan perhatiannya pada sepatu. Mereka ingin bisa menerapkan prinsip sama yang dipakainya di ubin sebagai cara untuk mengendalikan energi pribadi. “Idenya adalah bahwa sumber energi akan siap tersedia bagi pemakai sepatu,” kata Kemball-Cook.

Kemball-Cook sudah membicarakan idenya dengan para produsen sepatu utama seperti Nike dan Reebok tentang bagaimana teknologi bisa ditanamkan dalam produk konsumer. “Kamu bisa berjalan ke tempat kerja dan mengisi daya ponselmu di jalan. Tidak usah menunggu untuk memakai charger di rumah. Para pelari bisa mengisi pemutar musiknya ketika jogging,” ungkapnya.

Teknologi Pavegen menghasikan energi ketika sebuah langkah kaki menekan satu dari banyak ubin perusahaan (sampai 7 watt pada arus DC 12 volt, cukup untuk menyalakan sebuah lampu LED penerang jalan sekitar 30 detik). Agar tidak terasa seperti berjalan di atas permukaan seperti spons, ubin hanya turun lima milimeter. Efek yang disebut piezoelectric ini mencakup kumparan tembaga dan magnet, yang susunannya dirahasiakan.

Sebuah sepatu akan menggunakan sistem serupa. Ini berbeda dengan yang sudah diterapkan L.A.Gear pada sepatu anak-anak yang bisa menyala, yang menggunakan bahan kimia merkuri untuk menciptakan hubungan listrik setiap kali pemakai sepatu melangkah.

Menurut Kemball-Cook, sistem berbasis sepatu akan bisa secara nirkabel memantau langkah-langkah pemakai sepatu, melacak pola berjalan tanpa kehadiran sebuah jam pintar (smart watch) atau perangkat sejenis. Stasiun kereta The Saint-Omer di Perancis bagian utara merupakan satu dari lebih 100 instalasi ubin pengendali energi Pavegen.

Sebenarnya, prinsip ini pernah diteliti oleh departmen militer AS. Mereka telah mengujikan penggunaan gelang lutut atletik untuk menangkap dan menyimpan energi. Namun teknologi ini terlalu berat dan merepotkan bagi penggunaan konsumer.

Penemu lain sedang mengerjakan solusi untuk menangkap energi pribadi melalui cara yang elegan. Tejas Shastry dan dua mahasiswa Ph.D lainnya – Alex Smith dan Mike Geier – belum lama ini mengenalkan AMPY. Perangkat yang dimasukkan dalam saku baju ini menangkap dan menyimpan energi kinetik yang dihasilkan oleh gerakan ambien. Pemakaian smartphone selama satu jam misalnya, setara dengan 5000 langkah kaki.

Teknologi Pavegen bisa jauh lebih efisien, tetapi ada masalah spesifik yang harus diatasi mereka. “Teknologi ini perlu sesuatu yang lebih kecil dan lebih enteng, tetapi harus bisa menahan tekanan dari langkah kaki pada laju yang lebih tinggi dibandingkan biasanya,” kata Kemball-Cook. “Pada ubin kami, teknologi ini diamankan dalam sebuah kontainer dan ubin, tetapi pada sepatu jaraknya menjadi jauh lebih dekat.”

Tantangan sebenarnya adalah bagaimana memaksimalkan output energi. Pada sepatu, efisiensi juga harus diimbangi dengan ukuran dan biaya. Dan bagaimana tepatnya mentransfer energi dari sepatu ke ponsel masih menjadi pertanyaan.

Selain itu ada masalah kenyamanan. Orang ingin dua hal sederhana dari alas kakinya: kenyamanan dan fungsi. Jadi perlu teknologi yang bisa mengakomodir kedua hal ini. Tentu saja sepatu tadi juga harus tampak keren.

Wiwiek Juwono

Senior Editor di InfoKomputer dan PCplus. Memiliki spesialisasi di penulisan fitur, berita, serta pengujian gadget dan asesori komputer