Jakarta, PCplus – Hexnode baru saja merilis pembaruan besar untuk Hexnode Genie AI. Asisten berbasis kecerdasan buatan ini kini dilengkapi antarmuka percakapan yang terintegrasi langsung ke konsol Unified Endpoint Management (UEM). Dengan fitur ini, tim IT bisa mengakses wawasan perangkat secara real-time, menjalankan perintah, dan mengotomatisasi pemecahan masalah hanya melalui bahasa alami.
Baca Juga: Awas! Deepfake Di Pemilu 2024
Pembaruan ini dirancang untuk mengurangi beban operasional yang semakin meningkat pada tim IT di Asia Tenggara. Proses pencarian data yang biasanya memakan waktu kini bisa dilakukan lebih cepat. Navigasi dashboard yang rumit digantikan oleh interaksi percakapan yang sederhana.
Selain itu, Genie AI mampu memberikan rekomendasi perbaikan otomatis ketika masalah muncul. Administrator dapat langsung menerapkan solusi tanpa harus melakukan eskalasi ke tim dukungan. Hal ini mempercepat waktu penyelesaian dan meningkatkan efisiensi kerja.
Wawasan Instan dan Perbaikan Otomatis
Hexnode Genie AI tidak hanya menyajikan data perangkat, tetapi juga membantu mendiagnosis akar masalah dengan cepat. Ketika terjadi kegagalan sistem, Genie memberikan panduan perbaikan yang jelas dan bisa langsung dijalankan.
Fitur terminal skrip juga ditambahkan untuk perangkat Windows, Linux, dan macOS. Dengan saluran ini, administrator bisa mengeksekusi perintah kustom secara langsung. Pendekatan ini membuat proses skrip lebih intuitif dan terintegrasi.
CEO Hexnode, Apu Pavithran, menyebut pembaruan ini sebagai langkah menuju UEM yang lebih cerdas. Visi perusahaan adalah menciptakan ekosistem yang responsif dan sadar konteks, di mana platform bertindak sebagai mitra cerdas dalam operasi endpoint.
Ekspansi ke Keamanan dan Deteksi Ancaman
Hexnode berencana memperluas kemampuan Genie AI ke platform Hexnode XDR. Dengan ekspansi ini, kecerdasan percakapan dan otomatisasi akan diterapkan pada deteksi ancaman serta operasi keamanan.
Langkah ini menunjukkan komitmen Hexnode dalam menghadirkan solusi terpadu untuk manajemen perangkat sekaligus keamanan siber. Dengan integrasi tersebut, organisasi di Asia Tenggara bisa lebih siap menghadapi tantangan operasional dan ancaman digital yang semakin kompleks.







