Jakarta, PCplus – Riset Kaspersky pada November 2025 mengungkapkan bahwa 84% responden global menyimpan data sensitif secara digital. Data tersebut mencakup KTP, detail keuangan, rekam medis, hingga arsip foto. Generasi Z alias Gen Z dan milenial (18–34 tahun) mencatat angka 90% saat menyimpan data secara digital. Ini menandakan tingkat digitalisasi yang tinggi. Sebaliknya, hampir 30% responden berusia 55 tahun ke atas masih memilih catatan fisik.
Baca Juga: Segini Harga Data Paspor Dan KTP Di Pasar Gelap
Di Indonesia, 61% pengguna menyimpan data di komputer atau perangkat keras, sementara 61% lainnya memanfaatkan solusi cloud. Hanya 14% yang mempercayakan data pada layanan digital pemerintah.
Keamanan Digital: Tantangan dan Solusi
Meskipun digital lebih praktis, keamanan tetap menjadi isu utama. Media fisik bisa rusak, perangkat keras rawan hilang, dan cloud berisiko diretas. Oleh karena itu, strategi pencadangan 3-2-1 direkomendasikan:
- Tiga salinan data penting
- Dua jenis media berbeda
- Satu salinan di lokasi eksternal
Selain itu, 36% responden masih menggunakan kata sandi sederhana, yang rentan terhadap serangan brute force. Solusi yang disarankan adalah aktivasi otentikasi dua faktor (2FA) atau penggunaan passkey yang lebih aman.
Praktik Terbaik untuk Gen Z Data Digital
Untuk memaksimalkan keamanan, beberapa langkah penting perlu diterapkan:
- Gunakan password manager dengan brankas rahasia untuk menyimpan dokumen penting.
- Aktifkan pencadangan otomatis melalui layanan seperti iCloud, Google Drive, atau OneDrive.
- Uji pencadangan secara berkala dengan memulihkan file untuk memastikan sistem berfungsi.
- Prioritaskan file penting dengan memberi tag seperti “kritikal” atau “prioritas rendah” agar pencadangan lebih efisien.
Tren Global dan Implikasi
Studi Kaspersky menegaskan bahwa digitalisasi data pribadi adalah tren global. Namun, keamanan tidak hanya bergantung pada teknologi, melainkan juga pada kebiasaan pengguna. Gen Z dan milenial mungkin lebih adaptif terhadap teknologi, tetapi disiplin dalam pencadangan dan perlindungan tetap krusial.
Dengan meningkatnya serangan siber, termasuk pada perangkat mobile, kesadaran keamanan digital harus ditingkatkan. Data sensitif bukan sekadar file, melainkan aset berharga yang harus dijaga dengan strategi cerdas.







