Jakarta, PCplus – Awanpintar resmi merilis pembaruan komprehensif pada platform peta ancaman digital yang dapat diakses publik melalui map.awanpintar.id. Versi terbaru ini menghadirkan opsi visualisasi 2D dan 3D serta metrik Threat Intelligence yang lebih kaya. Menurut Yudhi Kukuh, CTO Prosperita Group, pembaruan ini tidak hanya menampilkan data serangan, tetapi juga memberikan konteks yang actionable.
Baca Juga: Waduh! Indonesia Disebut Jadi Sumber Malware Terbesar di 2025
Fitur baru mencakup informasi Autonomous System Number (ASN) dan penyempurnaan basis data Common Vulnerabilities and Exposures (CVE). Kini, setiap CVE tidak hanya ditampilkan dengan ID, tetapi juga dilengkapi penjelasan singkat serta tingkat keparahan. Hal ini memungkinkan praktisi keamanan melakukan triase insiden dengan lebih tepat.

Actionable Threat Intelligence untuk Praktisi IT
Melalui Threat Intelligence Dashboard, pengguna dapat memantau metrik kritikal secara real-time, seperti:
- Total serangan dalam 24 jam terakhir
- Top Protocol dan Top Port
- Top Spam/Malware
- Top ASN dan Top Attacker
- Top CVE yang sedang dieksploitasi
Selain itu, terdapat ikon analisis khusus yang memungkinkan pengguna menggali detail serangan dari IP address tertentu. Dengan fitur ini, praktisi IT maupun CISO dapat segera memahami anomali, menentukan prioritas penanganan, dan menyusun langkah mitigasi berbasis data.
Tren Ancaman Siber di Indonesia
Data terbaru dari sistem Awanpintar menunjukkan bahwa aktivitas botnet dan automated scanning mendominasi lalu lintas serangan. Selain itu, terjadi peningkatan signifikan pada credential attack yang menargetkan port RDP, VNC, dan SSH.
Lebih mengkhawatirkan lagi, pelaku kejahatan kini memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mempercepat eksploitasi kerentanan baru, termasuk CVE-2026-xxxxx. Kondisi ini menegaskan pentingnya patching dan mitigasi proaktif oleh praktisi IT di Indonesia.
Kolaborasi untuk Ekosistem Digital Aman
Peluncuran peta ancaman awanpintar versi terbaru ini bertujuan membangun kolaborasi antarpraktisi IT dan meningkatkan kesadaran publik terhadap keamanan siber nasional. Yudhi Kukuh menegaskan, “Keamanan siber adalah tanggung jawab bersama; setiap individu berkontribusi menjaga infrastruktur digital.”
Dengan fitur yang lebih komprehensif, peta ancaman awanpintar kini bukan sekadar alat monitoring, melainkan instrumen yang actionable untuk mendukung deteksi, analisis, pencegahan, dan filtrasi serangan siber.




