Jakarta, PCplus – Generasi Z dikenal sebagai generasi yang tumbuh bersama teknologi digital. Riset Kaspersky pada Maret 2026 terhadap 7.200 responden di 18 negara, termasuk Indonesia, menemukan 57% Gen Z lebih banyak menghabiskan waktu online dibandingkan offline. Ponsel pintar menjadi perangkat utama mereka, dengan 67% responden menyebut smartphone sebagai alat utama untuk internet.
Baca Juga: Axioo Hype R OLED, Inovasi Baru untuk Generasi Tech-Savvy
Meski begitu, keakraban dengan dunia digital tidak selalu diiringi kemampuan menjaga keamanan. Sebanyak 59% Gen Z merasa percaya diri di ruang digital, tetapi hanya 28% yang menilai keterampilan digital mereka sudah maju. Kesenjangan ini membuat mereka rentan terhadap ancaman.
Minimnya Perlindungan dan Dampak Serangan Siber
Kepercayaan diri tersebut tidak selalu diikuti tindakan perlindungan. Hanya 27% Gen Z menggunakan antivirus di smartphone dan 28% rutin mencadangkan data penting. Mereka juga jarang mengganti kata sandi. Akibatnya, 52% Gen Z pernah mengalami serangan siber, termasuk 17% peretasan akun media sosial dan 12% kehilangan akses akun game.
Data paling berharga bagi Gen Z tersimpan di ponsel pintar. 38% menyebut foto dan dokumen pribadi sebagai aset digital paling penting, sementara 30% menilai kata sandi dan kredensial login sebagai data utama. Namun, perlindungan terhadap data ini masih minim.
Edukasi dan Solusi Perlindungan Digital
Menurut Irina Ermilova, Wakil Presiden Manajemen Produk Konsumen Kaspersky, keakraban dengan aplikasi tidak berarti mampu mengenali penipuan atau phishing. “Keamanan siber harus menjadi bagian alami dari rutinitas digital sehari-hari seperti berkirim pesan atau bermain game,” ujarnya.
Kaspersky merekomendasikan beberapa langkah:
- Menggunakan solusi keamanan komprehensif seperti Kaspersky Premium untuk melindungi perangkat dari malware dan phishing.
- Memanfaatkan Password Manager agar kata sandi lebih kuat dan aman.
- Menggunakan VPN saat memakai Wi-Fi publik untuk menambah privasi.
- Edukasi interaktif melalui gim Case 404, yang mengajarkan cara mengenali penipuan dan ancaman digital.
Fenomena serangan siber Gen Z menunjukkan bahwa intensitas penggunaan internet tidak sejalan dengan kebiasaan menjaga keamanan. Dengan data pribadi yang tersimpan di smartphone, perlindungan digital harus menjadi rutinitas harian. Edukasi, penggunaan antivirus, pengelola kata sandi, serta pencadangan data adalah langkah penting agar Gen Z tidak terus menjadi target empuk serangan siber.
Judul SEO: 52% Gen Z Menghadapi Serangan Siber: Kepercayaan Diri Tinggi, Perlindungan Masih Rendah
Meta Deskripsi: Generasi Z paling aktif online, namun 52% pernah jadi korban serangan siber gen z akibat minim perlindungan.




