Ganti Nama, SPSS Tambah Empat Produk

ki-ka: Daniel C. Ng (SPSS World Wide Industry Solutions Leader – Telecommunication), Linggawati S. Sutanto (Principal, Purple Analytics Asia), David Runacres (Head of Asia Pacific Operations at Predixion Software), Dickie Widjaja (Head of Business Development, Purple Analytics Asia) dan Aidan Connoly (CEO, Idiro Technologies) bergambar bersama jelang seminar Solusi Predictive Analytics yang akan digelar 5 Oktober di Jakarta.

JAKARTA, SELASA – Ada yang pernah pakai software analisis SPSS? Rasanya banyak di antara kita, khususnya yang mengurusi angka-angka dan data survei, pernah menggunakannya, apalagi SPSS bisa mengambil data dari Microsoft Excel.  Di Indonesia, produk SPSS dipegang oleh PT SPSS Indonesia (Survey Prima Solusi Statindo). Itu namanya dulu.

Setelah 12 tahun berkiprah di tanah air dan melayani lebih dari 350 perusahaan besar dan kecil antara lain Telkom, BCA dan Adira Finance, SPSS Indonesia mengganti namanya menjadi Purple Analytics Asia. “Ini agar coverage-nya tidak hanya mencakup Indonesia, tapi juga regional, yakni Malaysia, Indonesia dan Thailand,” terang Linggawati S. Sutanto (Principal, Purple Analytics Asia) dalam jumpa pers tadi siang di Jakarta (4/10).

Pergantian nama ini tidak berarti produk SPSS dihentikan penjualannya. “Produk SPSS tetap dijual, tapi kami tidak lagi menggunakan nama SPSS,” tambah Dickie Widjaja (Head of Business Development, Purple Analytics Asia). Ia menjelaskan bahwa perubahan nama juga menandai masuknya empat produk baru di perusahaannya, yakni predictive analytic solution, Predixion software, Social Network Analytics dari Indiro dan Social Media Sentiment Analysis dari Purple Sonar.  Keempat produk ini merupakan solusi predictive analytics.

Mengapa predictive analytics menjadi penting saat ini? “Ledakan info sudah terjadi saat ini sehingga para manager seringkali berhadapan dengan blind spot. Predictive analytic bisa membantu menjawab tiga pertanyaan penting, yakni apa yang telah terjadi, mengapa, dan apa yang mungkin akan terjadi berikutnya. Ini memungkinkan pendekatan baru,” jelas Daniel C. Ng (SPSS World Wide Industry Solutions Leader – Telecommunication). “Penekanannya adalah pada apa yang akan terjadi,” tambah David Runacres (Head of Asia Pacific Operations at Predixion Software).

Lalu mengapa perlu analisis dari jejaring sosial? “Sebab yang berpengaruh dalam pembelian barang sekarang bukanlah iklan tapi pendapat teman,” kata Aidan Connoly (CEO, Idiro Technologies). “Yang dilakukan lebih membantu mengawasi Twitter dan Facebook jika ada pembicaraan negatif (tentang perusahaan atau produk),” jelasnya.

Wiwiek Juwono

Senior Editor di InfoKomputer dan PCplus. Memiliki spesialisasi di penulisan fitur, berita, serta pengujian gadget dan asesori komputer

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.