Mengintip Peran Avaya Di balik Sukses Pileg dan Pilpres

m idham bawasluJAKARTA, PCplus – Pemilihan anggota dewan legislatif dan juga presiden dan wakil presiden usai sudah. Kita tinggal menantikan pelantikan para pengurus negara baru ini.

Namun ada cerita menarik di balik hiruk-pikuk pileg dan pilpres kemarin. Dalam kedua pemilihan tersebut, terungkap peran teknologi solusi konferensi video dari Avaya di pihak Bawaslu (Badan Pengawas Pemilhan Umum. Penggunakan teknologi Avaya Scopia itu, ungkap M. Idham (Head of IT Network, Bawaslu) membuat Bawaslu yang memiliki lebih dari 33 tim lapangan di 33 propinsi dan 29 perwakilan negara ini hemat biaya komunikasi 200%.

Lembaga ini pun tidak perlu mengganti MCU (multi conference unit). Bawaslu, tutur Endang Rachmawati (Country Director Indonesia, Avaya), hanya mengimplementasikan satu MCU untuk 33 propinsi. Sebab Avaya Scopia berbasis standar, alias bisa dipakai di platform vendor bukan Avaya. Alhasil masing-masing pengguna (end point) di semua kantor daerah bisa menggunakan perangkat yang ada untuk melihat data terkini, termasuk briefing harian dan panggilan video.

Idham menguraikan bagaimana Scopia yang bekerja di infrastruktur jaringan VLAN Bawaslu itu menghemat biaya dan juga waktu. “Satu kali perjalanan dinas ke 33 propinsi biayanya Rp 200 juta,” ungkapnya. Kalau ada masalah di 5 propinsi, misalnya, Bawaslu tidak perlu mengeluarkan uang perjalanan dinas maupun biaya telepon ke 5 propinsi. Tapi cukup melakukan konferensi video. “Bisa omong 2 – 3 jam tanpa handphone,” cerita Idham.

Selain itu Bawaslu juga tidak harus mengunjungi 29 perwakilan negara secara fisik. Faktanya, 17 negara perwakilan negara memang dikunjungi secara konferensi video. Kendati tak dikunjungi langsung, tutur Idham, semua keputusan yang diambil Bawaslu secara konferensi video itu sah menurut UU ITE.

Eh kok tidak pakai ponsel dan messaging platform yang populer seperti LINE atau Skype ya untuk berkomunikasi? “Kalau pakai LINE, Skype bisa murah, tapi tidak semua hal bisa di-publish. Yang ini menggunakan server pribadi sehingga tidak ada pihak luar yang bisa memutus di tengah-tengah. Pakai virtual LAN,” jelas Idham. “Handphone bisa disadap. Kalau alat ini tidak bisa diputus di tengah. Ini ibarat kotak kaleng dan benang,” tambahnya.

Idham menyebutkan tidak semua produk berasal dari Avaya, Ada yang berasal dari Cisco, Sophos, dan Mikrotik. “Avaya untuk penampakan dan daya rekam yang sangat bagus,” katanya. “Utilisasinya lebih dari 99%. Streaming video di 33 propinsi 1MB,” ungkapnya. Bawaslu menggunakan perangkat Scopia XT5000 dan XT4200, serta Avaya Scopia Mobile yang diimplementasikan oleh Kayreach System.

Sebenarnya ini bukan kali pertama Bawaslu menggunakan teknologi konferensi video. “Tahun 2012 sudah mengembangkan konferensi video secara manual. Berhasil di 3 propinsi., tapi ada keterbatasan alat. Tahun 2013 kami kembangkan teknologi network, pake VLAN didukung konferensi video. Tahun 2014 mengggunakan cloud network. Pakai beberapa alat, pilih yang paling low-cost tapi maksimum dari sisi jika ada kendala/masalah,” papar Idham.

Wiwiek Juwono

Senior Editor di InfoKomputer dan PCplus. Memiliki spesialisasi di penulisan fitur, berita, serta pengujian gadget dan asesori komputer

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.