
JAKARTA, PCplus – Setiap hari nyaris semua di antara kita bergulat dengan kemacetan berjam-jam di jalan. Kemacetan ini antara lain disebabkan jumlah kendaraan yang beredar lebih banyak dibandingkan panjang ruas jalan yang tersedia saat ini.
Banyak orang – dengan berbagai alasan, termasuk kenyamanan dan keamanan – enggan memanfaatkan transportasi umum dan memilih naik kendaraan pribadi (motor atau mobil). Sementara itu kepemilikan mobil diprediksi akan meningkat 60%.
Menurut Gregg Berkeley (Global IoT BD/Sales Director, Smart Cities, Buildings, Energy and Mfg, Intel Corp.) di sela-sela seminar Intel Internet of Things di Jakarta tadi siang (18/9/2014), kemacetan lalu-lintas juga bisa akibat banyaknya kendaraan yang berputar-putar mencari tempat parkir, seperti yang terjadi di Boston, AS dan banyak kota lain di seluruh dunia. Di Inggris misalnya, pengendara mobil bisa menghabiskan lebih dari 2500 jam (atau 106 hari) dalam hidupnya berkeliling untuk mendapatkan tempat parkir.
Kemacetan lalu lintas seperti ini sebenarnya bisa diurai dengan solusi IoT (Internet of Things). Sensor-sensor dan kamera yang terkoneksi ke Internet dan dipasang di jalan-jalan dan infrastruktur di kota bisa mendeteksi lokasi parkir yang kosong dan menyebarkan informasi itu ke para pengendara. Andai dipadukan dengan transportasi publik, sistem ini bisa mengurangi jumlah pengendara mobil. Di Washington DC, misalnya, pengemudi bisa melihat secara real-time apakah tersedia tempat parkir di stasiun kereta sehingga mereka bisa memarkir kendaraannya, lalu naik kereta ke kota sehingga mengurangi jumlah kendaraan yang beredar.
Di kota pintar (smart city), manajemen lalu lintas akan memainkan peran penting dalam masa depan dunia. Apalagi sensor yang dipasang untuk satu aplikasi juga bisa digunakan oleh aplikasi lain. Suara, cahaya, lalu lints, cuaca dan lain-lain bisa dilacak dan dipantau, lalu datanya dianalisis dan dimanfaatkan untuk meningkatkan kondisi kehidupan penduduk kota.
Tantangan IoT, ungkap Gregg Berkeley, adalah arsitektur end-to-end dan jaringan (sekuriti). “Bagaimana memastikan semuanya mengalir seamlessly. Harus terkoneksi ke cloud, mengelola dan menganalisis data, dan diintegrasikan dengan infrastruktur yang ada,” katanya.
“Intel memberikan solusi IoT end-to-end. Kami mengakuisisi banyak perusahaan: Mashery, Aepona, Wind River, Mc Afee), juga menjadi pendiri Open Interconnect Consortium dan Industrial Internet,” kata Santosh Viswanathan (Country Manager, Intel Indonesia). Kedua konsorsium itu bertujuan merumuskan syarat konektivitas dan interoperabilita perangkat di era IoT, sekaligus mempercepat perkembangannya.
Solusi Intel, kata Berkeley, mengintegrasikan hardware dan software dalam satu blok yang terhubung ke cloud dan infrastruktur yang ada. “Data aman karena dilindungi secara hardware (chip) dan software (Mc Afee),” jelas Berkeley. “Moon Island Intel menjadi gateway yang menghubungkan sensor-sensor secara aman,” tambah Radha Krishna Hiremane (Regional Director Datacenter & IoT Product Marketing, APJ, Intel).







