Small Cell, Cara Huawei Atasi Kekosongan

 

Dr. Peter Zhou menunjukkan produk small cell besutan Huawei
Dr. Peter Zhou menunjukkan produk small cell besutan Huawei

JAKARTA, PCplus – Pernah mengalami hal ini di dalam gedung: tak bisa menelepon atau ber-internet padahal ada sinyal? Atau sinyal mendadak sama sekali tak hadir?

Blank spot seperti ini banyak ditemukan di dalam gedung. “Kaca, pilar gedung menghambat sinyal. Di lorong-lorong gedung, blank spot, tidak bisa telepon atau ada sinyal tapi tak bisa telepon karena interferensi ,” ucap Mohamad Rosidi (General Manager, Solution Consulting, Huawei) dalam jumpa pers di Jakarta (17/9/2015).

Padahal dewasa ini, orang maunya selalu terkoneksi, online, kapan saja di mana saja. Kalau di luar ruangan, biasanya sih tak masalah. Namun begitu masuk gedung, tak jarang sinyal raib .Sementara, tutur Rosidi, 70% coverage (dari operator telekomunikasi) datang dari luar gedung, sedangkan 81,6% trafik mobile justru ada di dalam gedung.

Lalu bagaimana mengatasi kekosongan sinyal di dalam gedung? Menurut Dr. Peter Zhou (President of Huawei Small Cell Product Line), solusinya sebenarnya tak sulit. Cukup dengan memasang kotak-kotak kecil ¬†besutan Huawei yang berteknologi Small Cell. “Bisa ditempel di mana saja. Fungsinya sama dengan BTS (base transceiver station). Tinggal pasang, tidak perlu ijin dari pengelola gedung,” jelasnya.

“Dengan teknologi ini bisa tingkatkan kualitas,” tandas Zhou. Ia mengatakan bahwa small cell besutan Huawei tidak sama dengan repeater. “Small cell bisa menghitung, mengoordinasikan, lalu melakukan handover. Rebutan kapasitas bisa diatasi,” urainya.

Sementara itu, repeater hanya menukar sinyal. “Sinyal tidak bisa koordinasi sehingga bisa interferensi. Kalau banyak, tidak bisa dikendalikan. Di Eropa, Tiongkok , repeater tidak digunakan lagi,” tambah Zhou.

Fisiknya yang kecil memungkinkannya dipasang di mana saja di dalam ruangan
Fisiknya yang kecil memungkinkannya dipasang di mana saja di dalam ruangan

Small cell, tekan Zhou, bisa membuat dunia terkoneksi secara lebih baik. “Dayanya lebih kecil, kurang dari 10W. Juga lebih sehat karena radiasinya kecil. Ini seperti punya jaringan sendiri,” ucap Zhou.

Penerapan small cell bisa dipilih sesuai kebutuhan: LampSite untuk di dalam ruangan dengan ukuran besar sampai menengah (gedung, mal, kantor, gedung pertunjukan, stasiun/bandara), Pico untuk di dalam ruagan medium sampai kecil (kafe, toko cabang, hunian/apartemen VIP, usaha kecil sampai menengah), atau Micro. Kalau LampSite dan Pico dipasang di dalam ruangan, Micro ditempatkan di luar ruangan seperti di jalanan, daerah rural, atau lapangan. Khusus untuk kawasan Pasifik Selatan, termasuk Indonesia, Huawei meluncurkan LampSite 2.0 yang bisa jalan di spektrum 900MHz, 1,8G, 2,1G, 2,6G, 2,4GB/5G.

“BTS kecil plus antena adalah smalll cell, produk baru dari Huawei,” kata Zhou. “Satu kotak untuk semua, bisa 3GPP + WiFi + LAA (licensed assisted access).” Jika menggunakan small cell, tutur Zhou, throughput video bisa di atas 10MBps, sedangkan latency untuk web streaming di bawah 3 detik.

Salah satu contoh pengguna teknologi ini adalah Marina Bay Sands Hotel di Singapura.

 

Wiwiek Juwono

Senior Editor di InfoKomputer dan PCplus. Memiliki spesialisasi di penulisan fitur, berita, serta pengujian gadget dan asesori komputer

%d bloggers like this: