Jakarta, PCplus – Ancaman siber finansial pada 2025 mengalami perubahan besar. Infostealer meningkat 59% secara global dan menjadi metode utama pencurian data login. Lebih dari satu juta akun perbankan online diretas dari 100 bank terbesar dunia. Negara dengan jumlah tertinggi per bank adalah India, Spanyol, dan Brasil.
Baca Juga: Kaspersky Ungkap Evolusi Exploit Kit Coruna
Phishing finansial tetap aktif. Halaman e-commerce palsu mendominasi 48,5% serangan global, naik dari tahun sebelumnya. Phishing perbankan turun menjadi 26,1%, sedangkan sistem pembayaran naik ke 25,5%. Penurunan perbankan menunjukkan sistem semakin sulit dipalsukan.
Distribusi Regional Phishing Finansial
- Timur Tengah: e-commerce mendominasi 85,8%.
- Afrika: perbankan mencapai 53,75%.
- Amerika Latin: e-commerce 46,3% dan bank 42,25%.
- Asia Pasifik & Eropa: distribusi lebih merata di tiga kategori.
Serangan menyesuaikan kebiasaan digital tiap wilayah. Asia Pasifik mencatat lonjakan 132% serangan berbasis kredensial.
Malware Finansial dan Dark Web
Jumlah pengguna terdampak malware PC menurun, tetapi jumlah rekening yang bank yang diretas dari seluler naik 1,5 kali lipat. Infostealer mengumpulkan kredensial login, cookie, nomor kartu, dan frasa kripto. 74% kartu curian tetap valid hingga Maret 2026, memungkinkan penggunaan berulang.

Dark web menjadi pusat perdagangan data curian. Kredensial dikemas ulang dan dijual, sementara perangkat phishing ditawarkan sebagai layanan siap pakai. Ekosistem ini membuat serangan mudah dilakukan bahkan oleh penipu pemula.
Rekomendasi Perlindungan
Untuk pengguna individu:
- Gunakan otentikasi multifaktor dan kata sandi unik.
- Hindari tautan mencurigakan, periksa halaman sebelum login.
- Gunakan solusi keamanan andal seperti Kaspersky Premium.
Untuk bisnis:
- Lakukan penilaian infrastruktur dan perbaiki kerentanan.
- Terapkan platform terintegrasi dengan deteksi cepat.
- Pantau dark web untuk melacak aktivitas pelaku ancaman.
Tren ancaman siber finansial 2025 menunjukkan pergeseran ke pencurian kredensial dan eksploitasi dark web. Rekening bank yang diretas di 2025 menjadi bukti bahwa keamanan digital harus ditingkatkan. Perlindungan proaktif dan kesadaran pengguna adalah kunci memutus siklus kejahatan siber.



