HomeBerita TeknologiFortinet Skills Gap Report Ungkap Krisis Talenta

Fortinet Skills Gap Report Ungkap Krisis Talenta

Jakarta, PCplus – Laporan terbaru bertajuk Fortinet 2026 Global Cybersecurity Skills Gap Report mengungkapkan fakta mengejutkan terkait keamanan siber di Indonesia. Kebanyakan organisasi kini menghadapi lonjakan insiden keamanan digital akibat kurangnya tenaga ahli terampil.

Baca Juga: Fortinet FortiCNAPP: Solusi Terpadu untuk Risiko Cloud

Sebanyak 92 persen organisasi di Indonesia pernah mengalami insiden pelanggaran keamanan dalam setahun terakhir. Selain itu, kerugian finansial yang ditimbulkan akibat serangan siber ini sering kali melebihi angka satu juta dolar.

Proses pemulihan sistem yang terdampak bahkan membutuhkan waktu lebih dari satu bulan bagi mayoritas perusahaan. Kerugian besar ini makin diperparah oleh keterbatasan staf teknis yang memiliki kualifikasi tinggi di bidang keamanan.

Banyak pemimpin TI menganggap kurangnya keterampilan staf sebagai pemicu utama masuknya serangan ke dalam sistem. Akibatnya, risiko siber bagi perusahaan terus meningkat seiring bertambahnya celah keamanan yang tidak terawasi dengan baik.

Bahkan, sanksi tegas kini mulai dijatuhkan kepada pihak eksekutif saat insiden keamanan terjadi di organisasi mereka. CISO Fortinet, Carl Windsor, memberikan pandangannya terkait kondisi genting ini.

“Keamanan siber bukan lagi sekadar isu teknis, melainkan risiko strategis bagi bisnis. Survei tahun ini menunjukkan bahwa meskipun dewan direksi pada umumnya telah menyadari pentingnya keamanan siber, masih diperlukan investasi yang lebih besar untuk mengatasi berbagai tantangan utama, seperti munculnya risiko AI dan kekurangan talenta keamanan siber yang terus berlangsung. Mengatasi kedua tantangan tersebut menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan bisnis di tengah lanskap ancaman yang semakin kompleks.” jelas Carl Windsor, CISO Fortinet.

Dampak Teknologi AI dan Kebutuhan Pelatihan

Ancaman baru kini makin terasa seiring meningkatnya penggunaan teknologi kecerdasan buatan di lingkungan kerja harian. Meskipun AI membantu efisiensi kerja, risiko baru yang belum sepenuhnya dipahami oleh jajaran direksi ikut muncul.

Oleh sebab itu, peran baru yang berfokus pada pengawasan AI sangat dibutuhkan oleh tim keamanan digital. Tantangan utama dalam perekrutan saat ini adalah menemukan kandidat dengan pengalaman spesifik di bidang kecerdasan buatan.

Untuk mengatasi masalah tersebut, investasi pada pelatihan serta sertifikasi teknis kini makin gencar dilakukan oleh perusahaan. Peningkatan kompetensi karyawan dianggap sebagai langkah paling efektif untuk menutupi celah keahlian yang ada saat ini.

Hampir seluruh perusahaan menyatakan kesediaan untuk membiayai sertifikasi keamanan siber bagi para staf mereka secara berkala. Selain pelatihan internal, program magang juga dimanfaatkan secara maksimal demi menjaring calon talenta baru yang potensial.

Penerapan solusi keamanan berbasis AI terus diuji agar tim dapat bekerja secara lebih efektif dan efisien. Namun, pihak penjahat siber juga memanfaatkan teknologi serupa untuk melancarkan serangan yang jauh lebih canggih dan masif.

Oleh karena itu, penguatan tiga pilar utama seperti edukasi, sertifikasi, serta teknologi canggih harus segera diimplementasikan secara merata. Melalui strategi terpadu ini, ketahanan bisnis di era digital dapat dijaga dengan lebih optimal dan berkelanjutan.

Iqbal Ramadhan
Iqbal Ramadhanhttps://www.pcplus.co.id
Tech professional from Jakarta, Indonesia. Specializes in software development and has a passion for innovation. I'm enjoys exploring new technologies, reading about AI advancements, and contributing to open-source projects.
ARTIKEL TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
shopee promo

ARTIKEL TERBARU

TUTORIAL

REKOMENDASI PRODUK

- Advertisment -