Jakarta, PCplus – Kemajuan pesat teknologi kecerdasan buatan kini dimanfaatkan oleh kelompok peretas untuk mengembangkan malware yang lebih berbahaya. Tim Riset dan Analisis Global Kaspersky mengungkap kemunculan ransomware JADEPUFFER sebagai ancaman siber otonom terbaru. Serangan ini menandai titik balik penting karena memanfaatkan model bahasa besar atau LLM sebagai pengambil keputusan serangan otomatis.
Baca Juga: CrowdStrike Threat Hunting Report 2026: AI Jadi Senjata Serangan Siber
Selain beroperasi secara mandiri, ancaman ini turut disebarkan oleh kelompok peretas tingkat lanjut bernama SilverFox. Kelompok penjahat siber tersebut aktif menargetkan berbagai perusahaan di kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia dan India. Mereka menyebarkan malware melalui email phishing, situs palsu, hingga mendistribusikan aplikasi asisten AI Claude palsu. Taktik manipulasi ini dirancang agar korban mengunduh file berbahaya tanpa rasa curiga.
Peneliti Keamanan Utama Kaspersky GReAT, Ye Jin, memaparkan bahaya di balik taktik peretasan modern ini. “SilverFox memanfaatkan adopsi AI di perusahaan untuk menembus pertahanan keamanan dan melakukan spionase siber jangka panjang,” jelas Ye Jin.
Cara Kerja Ransomware JADEPUFFER dan Aksi Hacker SilverFox
Kecepatan dan otonomi menjadi faktor utama yang membedakan ancaman modern ini dari ransomware konvensional. Sebagai ransomware berbasis agen pertama di dunia, sistem cerdas ini mampu mendiagnosis kegagalan dan meluncurkan serangan baru secara mandiri. Seluruh proses adaptasi serangan tersebut bahkan dapat dieksekusi hanya dalam waktu 31 detik saja.
Tak hanya itu, penjahat siber juga memanfaatkan metode manipulasi prompt seperti ChatGPhish untuk menyisipkan instruksi berbahaya pada ringkasan web. Kehadiran kerangka kerja malware otomatis seperti VoidLink semakin mempermudah peretas pemula membuat kode perusak tanpa keahlian teknis mendalam.
Ye Jin turut memperingatkan lonjakan ancaman yang beroperasi tanpa pengawasan manusia secara langsung. “Agen AI berbahaya kini mampu mereplikasi penalaran penyerang manusia berpengalaman serta beradaptasi secara real-time di lapangan,” ungkap Ye Jin.
Langkah Strategis Membangun Pertahanan Keamanan Siber Berbasis AI
Menghadapi serangan yang serba cepat, perusahaan tidak bisa lagi hanya mengandalkan sistem keamanan konvensional yang bersifat pasif. Pendekatan proaktif mutlak dibutuhkan dengan memanfaatkan teknologi perburuan ancaman cerdas untuk mendeteksi bahaya sedini mungkin.
Berikut adalah beberapa langkah perlindungan utama yang disarankan oleh para pakar keamanan:
- Menerapkan arsitektur Zero Trust dengan memverifikasi setiap permintaan akses jaringan secara ketat.
- Membangun pertahanan sistematis yang mencakup perlindungan titik akhir, jaringan, aplikasi, dan data.
- Mengadopsi teknologi AI pertahanan untuk mengimbangi kecepatan adaptasi serangan peretas secara real-time.
Dengan memperkuat sistem pertahanan berlapis, risiko kebocoran data rahasia di perusahaan kamu dapat dicegah secara optimal. Kesiapan strategi keamanan ini menjadi kunci utama dalam menjaga kelangsungan operasional bisnis di era kecerdasan buatan.




