Bidik Kenaikan OVI, Nokia Ubah Konsep Toko Ritelnya

JAKARTA, RABU – Biasanya, usai beli ponsel baru dari toko di pusat penjualan ponsel, kita masih harus disibukkan dengan urusan kustomisasi agar ponsel tersebut benar-benar personal. Ringtone diutak-atik, berbagai program pun diunduh. Seting e-mail bagi yang belum terbiasa, juga perlu dilakukan dengan panduan teman.

Nah, kerepotan itu kini tak harus dirasakan konsumen Nokia, khususnya jika mereka belanja di Concept Store Nokia yang dikelola oleh Trikomsel (Okeshop). Di sana, kamu boleh menjajal fitur-fitur di beragam ponsel baru, misalnya chatting, sebelum memutuskan untuk membeli ponsel yang dianggap cocok. “Semua yang ada adalah live unit, bukan dummy, jadi bisa dicobain,” kata Andre Tanudjaja (Head of Retail, Nokia Indonesia) sebelum meresmikan Concept Store Nokia di Mal Kelapa Gading 3, Jakarta (20/12/2010).

“Dilakukan zoning berdasarkan kebutuhan. Per kategori ada wall bays sehingga konsumen tidak susah pilih kebutuhannya,” terang Andre.

Kalau sudah beli ponsel Nokia, kamu juga boleh minta diunduhkan beragam program, termasuk mengaktifkan Nokia OVI. Gratis! Eh, tapi kalau sudah punya ponsel Nokia, kamu juga tetap boleh meminta bantuan dan panduan gratis di Nokia Concept Store tersebut. Syaratnya, ponsel kamu bukan BM (black market).

Tujuan pembukaan Concept Store Nokia pertama di Asia Tenggara dan Asia Pasifik ini, terang Andre, adalah untuk meningkatkan solusi. “Tidak cuma jualan konten, servis. Kami ingin tingkatkan average selling price yang tadinya (Rp) 1 juta ke 1,5 juta atau 2, juta. Juga untuk naikkan aktivasi OVI. Kami mau jaring mereka yang ingin mendapatkan pengalaman dan pelayanan yang lebih baik, dan tidak hanya yang suka nego harga.”

Tujuan akhirnya, tandas Andre, adalah membina hubungan berkesinambungan dengan pelanggan. “Sehingga keluar toko, mereka tidak hanya bawa handphone, tapi handphone yang sudah sesuai dengan kebutuhannya, misalnya download game. Intinya kustomer keluar dari toko tidak cuma bawa handphone tapi handphone yang sudah dikustomisasi. Didownloadlkan hal-hal yang sesuai kebutuhan konsumen, ditambah asesori.  Jadi (kami) tidak hanya jual sebanyak mungkin (unit), tapi juga melayani sebaik mungkin,” urai Andre.

Selain di Mal Kelapa Gading 3 Jakarta, saat ini ada 52 Nokia store di seluruh Indonesia. Secara bertahap, per akhir 2011, semua toko tersebut akan diubah menjadi Concept Store Nokia. Perbedaannya tampak dari luasan toko, furnitur dan lokasi. “Dulu adanya di handphone center, sekarang Nokia pilih lokasi yang trafiknya lebih banyak. Jadi tidak harus di handphone area,” terang Andre.

“Kelapa Gading dipilih karena lokasi dan targetnya cocok,” tambah Evy Soenarjo (Director, PT Trikomsel Oke Tbk).

Konsep toko yang sama juga sudah digulirkan Nokia di negara-negara lain, yakni Cina, Brasil, Italia dan Turki.

Wiwiek Juwono

Senior Editor di InfoKomputer dan PCplus. Memiliki spesialisasi di penulisan fitur, berita, serta pengujian gadget dan asesori komputer

One thought on “Bidik Kenaikan OVI, Nokia Ubah Konsep Toko Ritelnya

  • 22/12/2010 at 19:27
    Permalink

    baguslah….. pak,kalo bgitu,,, aku sbgai plangan nokia (toko hp nokia) mengucapkon salamat and sukses slslu tuk nokia

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.