Cloud Computing: Ada Kesenjangan Besar antara Kenyataan dan Harapan

JAKARTA, SELASA – Belakangan ini nyaris tak ada hari tanpa diskusi tentang manfaat cloud computing bagi perusahaan skala kecil sampai enterprise. Storage, server, dan tawaran jasa di awan ramai dibicarakan. Cloud computing memang sedang menyita perhatian dunia TI.

 

Namun dalam survai yang dilakukan oleh Applied Research terhadap 3700 responden dari beragam perusahaan enterprise di 35 negara dan dipaparkan oleh Symantec pekan lalu (23/6/2011), terlihat bahwa adopsi cloud sudah banyak dibicarakan (81% – 85%). Kebanyakan perusahaan cenderung mulai dengan memvirtualisasikan aplikasi-aplikasi yang tidak penting terlebih dulu sebelum meningkat ke aplikasi yang lebih penting. Untuk aplikasi bersifat business-critical pun, perusahaan lebih lamban dalam memanfaatkan hybrid/private cloud.

 

Sayangnya masih ada banyak kesenjangan antara kenyataan dan harapan tentang cloud computing. Para pelaku TI dan bisnis tidak punya banyak kesamaan pendapat akan kinerja, kehandalan dan sekuriti cloud akibat sangat terbukanya sifat TI dan juga pemilik aplikasi.

 

Temuan lainnya, banyak perusahaan sangat bergantung pada penyedia jasa pihak ketiga untuk urusan cloud computing. Tidak heran jika private storage as a service lalu dirujuk sebagai yang paling tidak matang karena hanya diimplementasikan oleh 34% responden. Lamanya waktu untuk menyiapkan resources baru (24%), alternatif bagi public cloud (35%)dan turunnya kompleksitas (4&%) mencuat sebagai gap terbesar di wilayah ini.

 

Sebaliknya, virtualisasi desktop/endpoint muncul sebagai area yang paling matang. “Sudah diimplementasikan 40%,” kata Raymond Goh (Regional Technical Director, Systems Engineering, Symantec). Proyek virtualisasi server pun paling sukses, dengan gap antara tujuan dan realisasi hanya 6%. Di area ini, kesenjangan terbesar datang dari harapan akan uptime (11%), kemampuan untuk mengikuti tren (10%), dan kelincahan (15%). Sedangkan untuk virtualisasi storage, kesenjangan tercatat di area kelincahan (25%), skalabilitas (45%) dan kemampuan untuk mengikuti tren (35%).

 

Lalu apa yang menjadi prioritas utama? Tak lain adalah kualitas dari layanan. Biaya storage dan kinerja ada di nomor satu, diikuti oleh masalah sekuriti, kinerja dan ketersediaan.

 

Ia mengatakan, Symantec merekomendasikan para eksekutif dan TI untuk melakukan penyesuaian dalam hal virtualisasi dan cloud. “Jangan beroperasi dalam silo untuk cloud computing karena berarti tidak ada inisiatif korporat sehingga tidak akan bisa memangkas biaya,” kata Raymond.
Rekomendasi lainnya adalah memulai dengan lingkungan yang ada. “Kalau perlu upgrade, lakukan upgrade karena itu lebih mudah daripada bikin baru,” tambah Raymond. Satu lagi, dan ini yang terpenting, perusahaan harus menetapkan harapan yang realistis dan memperhatikan hasilnya. “Sebab tingkat manfaat cloud computing berbeda-beda, tergantung dari ekspetasi realistik yang ditetapkan,” kata Raymond.

 

Eh iya, dari 3700 responden, 100 di antaranya berasal dari Indonesia loh. Karena itu, “Respon (untuk) Indonesia setara dengan negara-negara lain,” tandas Raymond.

Wiwiek Juwono

Senior Editor di InfoKomputer dan PCplus. Memiliki spesialisasi di penulisan fitur, berita, serta pengujian gadget dan asesori komputer

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: