Monday, June 17, 2024
Enterprise dan Korporasi

Bahas Kepemimpinan Era Digital, iCIO Community Gelar Executive Leadership Forum

Jakarta, PCplus. iCIO Community (komunitas CIO dan eksekutif di bidang TIK) belum lama ini menggelar Executive Leadership Forum.

Dalam acara ini, iCIO Community menyatakan, diundang puluhan CIO dan jajaran dewan direksi (C-Level) lainnya dari berbagai sektor industri, startup, dan pemerintahan guna membahas pentingnya kepemimpinan digital (digital leadership) untuk memastikan kesuksesan transformasi digital di Ayana Ballroom Hotel, Jakarta.

Menurut iCIO Community, iCIO Executive Leadership Forum kali ini mengusung tema “Digital Leadership: Leading Successfully in The Age of Digital Transformation”. Tujuannya menurut iCIO Community adalah untuk melakukan sharing pengetahuan dan kesuksesan dalam praktik-praktik kepemimpinan digital.

Dengan event ini, iCIO Community mengharapkan menjadi sumber inspirasi untuk para eksekutif tersebut ”menakhodai” transformasi digital di organisasi dan perusahaan masing-masing.

iCIO Community menyatakan bahwa acara seminar dan diskusi ini didukung oleh para profesional industri, pakar bisnis serta pemerintah sebagai pembicara kunci, di antaranya Harry Fadjar Sampurno (Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN). Beliau memaparkan roadmap dan program kementeriannya untuk mendorong transformasi digital di lingkungan BUMN.

iCIO Community menambahkan bahwa topik ini dikupas lebih dalam pada sesi diskusi panel bertajuk “Planning and Measuring Success from Innovation and Digital Transformation” yang dimoderatori oleh Poltak Hotradero (Kepala Penelitian dan Pengembangan Bursa Efek Indonesia), dengan para panelis, yaitu Shinta Dhanuwardoyo(Founder Bubu.com), Sarwono Sudarto (Direktur Keuangan dan TI PT PLN), Dino Bramanto (Direktur TI Kalbe Farma), dan Arun Samak (Direktur TI Mitra Adi Perkasa).

Menurut iCIO Community, survei yang baru saja dilakukan oleh Harvard Business Review menunjukkan bahwa sebanyak 80 persen organisasi bisnis akan mengalami disruption dalam tiga tahun mendatang. Dalam risetnya bersama MIT akhir tahun lalu, sebanyak 70 persen dari 1.000 CEO yang disurvei (dari 131 negara dan 27 industri) percaya bahwa mereka tidak punya keahlian dan pemimpin serta struktur operasi yang tepat untuk beradaptasi.

“Melalui event ini, kami ingin mendorong pengembangan dan penerapan digital leadership secara lebih baik di sektor swasta maupun pelayanan publik. Bukan saja untuk mendorong bisnis menjadi lebih efektif dan efisien, serta memastikan transparansi dan akuntabilitas layanan publik, namun juga melewati titik krusial untuk tetap eksis dan tumbuh di masa depan,” ungkap Agus Wicaksono (Chairman iCIO Community).

“Peran pemimpin sangat penting tidak terbatas dalam transformasi teknologi saja, namun jauh lebih penting bagaimana pemimpin mampu mempersiapkan perusahaannya agar mampu terus beradaptasi dan berubah di tengah-tengah lingkungan bisnis yang berubah sangat cepat dan berlangsung secara kontans,” kata Florian Holm (CEO Lazada Indonesia) dalam paparannya.

iCIO Community menyatakan bahwa lembaga riset Deloitte mengungkapkan tantangan utama para pemimpin saat ini adalah membangun kapabilitas digital. Hasil riset Global Human Capital Trend 2017 yang dilakukan Deloitte menurut iCIO Community membuktikan bahwa saat ini hanya lima persen organisasi di seluruh dunia yang merasa telah memiliki “digital leader”.

iCIO Community menambahkan bahwa penelitian yang melibatkan 10 ribu responden yang berlatar belakang human resources leaders dari 140 negara itu 72 persen mengaku mulai dan sedang membangun program-progam kepemimpinan digitalnya.

Agar sukses di era disruption digital ini iCIO Community menambahkan bahwa Deloitte dan MIT mendorong para pemimpin untuk mengubah model kepemimpinannya di tiga area yakni: bagaimana pemimpin berpikir (cognitive transformation), mengambil tindakan (behavioral transformation), dan bereaksi (emotional transformation).

iCIO Community menyatakan bahwa mengutip penyataan Mark Zuckerberg (CEO Facebook) risiko terbesar pemimpin saat ini adalah tidak berani mengambil risiko. “Di era di mana perubahan berlangsung sedemikian cepat ini, saya memastikan bahwa satu-satunya strategi yang salah adalah tidak berani mengambil risiko itu sendiri. Keberanian mengambil risiko telah menjadi driver utama budaya kepemimpinan unggul di era digital,” ujar Mark.

Ristianto W

Menyukai dunia elektronika, Linux, dan jaringan komputer. Saat ini aktif mengelola beberapa server berbasis Linux.