Jakarta, PCplus – Bisnis Kaspersky tumbuh positif dengan mencatatkan pendapatan global USD 836 juta pada 2025, naik 4% YoY. Pertumbuhan ini didorong oleh penjualan produk B2B yang meningkat 16% YoY. Di kawasan Asia Pasifik, pendapatan juga naik 4% YoY, dengan segmen enterprise tumbuh 22% dan non-endpoint naik 40%.
Baca Juga: Kaspersky: Keamanan Perangkat Keluarga Di Indonesia Rendah
Di Indonesia, bisnis Kaspersky tumbuh 3% YoY. Pendorong utama adalah Kaspersky Industrial CyberSecurity (KICS) yang melonjak 46% YoY, sejalan dengan fokus nasional memperkuat sektor industri strategis. Selain itu, segmen B2C tumbuh 48% YoY, menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap perlindungan digital.
Lanskap Ancaman Siber di Indonesia
Sepanjang 2025, Kaspersky mendeteksi dan memblokir lebih dari 14,9 juta serangan berbasis web serta 39,7 juta ancaman perangkat di Indonesia. Sekitar 20% perusahaan juga mengalami serangan rantai pasokan. Data ini menegaskan bahwa ancaman siber semakin kompleks dan menargetkan infrastruktur penting.
Transformasi digital yang cepat di sektor pemerintah dan swasta memperbesar kebutuhan akan solusi keamanan siber. Kaspersky menilai keamanan siber kini bukan lagi investasi opsional, melainkan penggerak bisnis penting untuk memastikan ketahanan operasional.
Strategi dan Ekspansi Global
Kaspersky terus memperkuat posisinya dengan lebih dari 560 rilis produk baru pada 2025. Perusahaan juga membuka kantor baru di Vietnam dan menunjuk General Manager Asia Tenggara untuk mempercepat pertumbuhan regional. Jumlah karyawan global meningkat menjadi 5.700 profesional, menandakan komitmen pada ekspansi jangka panjang.
CEO Eugene Kaspersky menegaskan bahwa strategi perusahaan berfokus pada investasi sumber daya manusia, teknologi, dan pengembangan bisnis. Sementara itu, Country Manager Indonesia, Defi Nofitra, menekankan bahwa pertumbuhan KICS mencerminkan prioritas organisasi lokal dalam melindungi teknologi operasional dan infrastruktur kritis.
Prospek ke Depan
Kaspersky optimistis dapat mencatat pertumbuhan double digit pada 2026, meski menghadapi tantangan geopolitik. Dengan portofolio produk yang matang, adopsi AI sejak 2004, serta harga layanan yang kompetitif, perusahaan yakin dapat memperluas basis pelanggan di Indonesia dan Asia Pasifik.



