Coding itu Mudah, Yuk Buktikan!

Pola etnik bisa diaplikasikan di busana polos dan langsung dilihat hasilnya oleh pemesan busana.

Pola etnik bisa diaplikasikan di busana polos dan langsung dilihat hasilnya oleh pemesan busana.

JAKARTA, PCplus – Coding? Ruwet ah! Begitu pasti yang ada di benak kamu. PCplus pun berkesan begitu.

Namun kesan itu pupus begitu menyaksikan bagaimana dua orang awam mampu melakukannya setelah belajar 15 jam. Satu orang, Dwika Putra, memang berlatar teknologi industri, tapi sudah lama sibuk pada bidang musik dan kini berkarier sebagai PR (public relations) di sebuah perusahaan startup. Namun Ayu Dyah Andari, benar-benar awam. Ia adalah desainer busana.

Menggunakan code.org dan dipandu Wahyudi (Co-founder, Coding(Indonesia), keduanya sukses meng-coding dan menghasilkan aplikasi sesuai dengan bidang kerja masing-masing. Dwika menghasilkan SongFlakes, sebuah aplikasi real-time yang memvisualisasikan nada dan irama dari alat musik yang sedang dimainkan. “Setiap musisi yang tidak kenal not balok bisa membuat grafik dari lagu yang dimainkan,” kata Dwika.

Sementara Ayu menelurkan Technoethnic, sebuah aplikasi yang bisa menampilkan ragam pola pada sebuah gaun. “Busana polos bisa ditambahi pola etnik dan langsung bisa dilihat oleh kustomer. Hasilnya bisa untuk dibordir,” jelas wanita yang pernah menjadi desainer Miss World 2013 dan Indonesia Idol itu.

Coding, kata Wahyudi, adalah cara tercepat untuk mengekspresikan sesuatu. Menurut pria yang pernah belasan tahun tinggal di Jerman dan AS ini, coding sama sekali tidak susah. “Pemrograman dianggap rumit karena cara belajarnya yang salah,” ucapnya.

“Yang perlu cara berpikirnya. Ini 30% ngetik, 70% mikir untuk coding. Coding adalah cara untuk memecahkan masalah dengan computional thinking. Sebenarnya sudah menjadi bagian dari hidup sehari-hari, misalnya di luar mendung, maka kita keluar (rumah) bawa payung,” papar Wahyudi.

coding2Mau buktikan kalau coding tidak susah? Silakan ke situs Code.org, yang menurut Wahyudi adalah wadah tepat untuk mengenal coding. Di situs web tersebut coding dikenalkan dengan cara menyenangkan, melalui game seperti Angry Birds, Frozen dan Flappy Bird.

Coding, kata Esther Sianipar (Community Affairs Manager, PT Microsoft Indonesia), sesungguhnya tidak hanya untuk orang yang suka TI, komputer, tetapi untuk semua masyarakat tanpa kenal umur. “Umur 6 – 106 tahun, bisa pakai coding. Gratis,” tandasnya. “Enterpreneur juga bisa coding, (men)jadi aplikasi yang bisa dijual ke seluruh dunia, (men)jadi startup.”

Asal tahu saja, coding juga sudah diajarkan pada anak-anak usia dini loh, antara lain melalui kerjasama Microsoft Indonesia dengan Yayasan Cinta Anak Bangsa. Nah, jangan mau kalah dong dengan anak-anak!

Tanggapan Kamu

komentar